POJOKSATU.id, BALI – Fenomena teror lalat di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial. Serangga yang menyerbu kawasan wisata ini diduga merupakan lalat rumah (Musca domestica), yang keberadaannya sangat mengganggu kenyamanan wisatawan dan warga setempat.

Amirulloh, salah seorang wisatawan asal Kabupaten Karawang, Jawa Barat, mengaku kecewa dengan situasi tersebut. "Saya datang ke Kintamani untuk menikmati keindahan alam, tetapi malah terganggu oleh banyaknya lalat. Saat makan di restoran pun tidak nyaman, karena lalat terus berdatangan," ujar Amirulloh, Selasa (3/12).

Sebelumnya, Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, menjelaskan bahwa populasi lalat yang membludak di wilayah ini terjadi akibat faktor habitat yang mendukung.

"Kotoran ayam yang masih mentah, yang biasa digunakan sebagai pupuk kandang, menjadi tempat ideal bagi lalat rumah untuk bertelur," jelasnya.

Baca Juga: Hijaukan Bali: BRI Tanam 5.000 Pohon Produktif di Desa Kutuh

Menurut Sudiarta, peningkatan populasi lalat dapat dicegah dengan pengelolaan limbah ternak yang lebih baik. Ia menyarankan agar peternak menggunakan metode pengomposan atau menutup kotoran ayam dengan rapat sehingga tidak menjadi sarang lalat.

Fenomena ini tidak hanya mengganggu wisatawan, tetapi juga berpotensi merugikan sektor pariwisata Kintamani. Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil tindakan untuk mengatasi masalah tersebut, seperti edukasi kepada peternak dan penyemprotan insektisida di lokasi-lokasi yang terdampak.

Teror lalat di Kintamani menjadi pengingat pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, terutama di kawasan yang menjadi daya tarik wisata utama. Warga dan pemerintah setempat diharapkan dapat bekerja sama untuk mengembalikan kenyamanan kawasan wisata ini. ***