POJOKSATU.id, JAKARTA -- Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di lingkungan kerja Indonesia terus berkembang.

Namun, di balik semakin tingginya minat pekerja memanfaatkan teknologi tersebut, perusahaan juga menghadapi risiko baru berupa Shadow AI, yakni penggunaan aplikasi AI yang tidak secara resmi disediakan atau disetujui organisasi.

Chief Executive Officer (CEO) Mekari Suwandi Soh mengatakan tantangan perusahaan saat ini tidak lagi sekadar menentukan apakah AI perlu digunakan.

Namun, perusahaan juga perlu memastikan teknologi tersebut dapat digunakan secara aman dan sesuai kebutuhan pekerjaan.

Baca Juga: Pelatihan Teknis Non-Gelar Kemendikdasmen 2026 Dibuka, Ada STEM dan AI: Cek Syaratnya

"Pekerja Indonesia memiliki antusiasme yang luar biasa terhadap AI. Namun ketika perusahaan tidak menyediakan infrastruktur yang memadai, karyawan akan mencari solusi sendiri. Di sinilah risiko Shadow AI muncul,” kata Suwandi Soh dalam acara Mekari Conference 2026 bertajuk AI at Work di Jakarta, Selasa (29/9).

Kendati sudah zamannya penggunaan Al, dia tetap menjamin keamanan penggunaan Al dalam kerjan bisnis, meski banyaknya hacker untuk membobol perusahaan.

"Menyediakan AI yang aman, terintegrasi, dan sesuai kebutuhan bisnis. Melalui Mekari Airene, kami membawa AI langsung ke dalam alur kerja bisnis sehari-hari dengan fondasi keamanan yang didukung sertifikasi ISO/IEC 27001 dan ISO/IEC 27701," ujarnya.

Baca Juga: Peserta Akui Kecurangan di OSN 2026, Gunakan Akses Google hingga AI, Apa Sanksi bagi Satuan Pendidikan?

Dia juga menekankan, bahwa AI seharusnya tidak menggantikan manusia, melainkan memperkuat kemampuan profesional dalam berpikir kritis, menganalisis informasi, dan mengambil keputusan yang lebih baik. Pendekatan ini harus diwujudkan melalui filosofi.

"Human-in-the-Loop, di mana AI menangani pekerjaan repetitif dan analisis data, sementara keputusan strategis tetap berada di tangan manusia," ujarnya.

Sementara itu, Dicky Ie, Director of Sales & Operational Dermaster mengatakan, integrasi AI pada saluran komunikasi pelanggan memungkinkan perusahaan memangkas waktu respons dari hitungan jam menjadi hitungan menit, sekaligus meningkatkan kualitas layanan dan efisiensi operasional.

"Kecepatan dan presisi merupakan fondasi kepercayaan pelanggan. Dengan dukungan AI, tim kami dapat mengurangi pekerjaan administratif yang berulang dan lebih fokus menghadirkan pengalaman pelanggan yang personal. Dampaknya tidak hanya meningkatkan kualitas layanan tetapi juga membantu mendorong pertumbuhan bisnis," ujar Dicky Ie.***