JAKARTA, POJOKSATU.id - Keberhasilan Veda Pratama menembus Moto3 2026 hingga sukses mencatat sejarah di Philip Island, memunculkan pertanyaan tentang pemerataan pembinaan atlet muda Indonesia.
Apakah anak-anak berbakat dari daerah memiliki kesempatan berkembang hingga mencapai panggung olahraga internasional?
Veda memulai balapan pada usia enam tahun di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Menurut profil resmi MotoGP, ia pernah berlatih di area parkir Pasar Hewan Siyono Harjo.
Perjalanan tersebut berlanjut melalui kompetisi nasional, Asia Talent Cup, Red Bull MotoGP Rookies Cup, hingga Moto3.
Kisah Veda menunjukkan bahwa talenta daerah mampu menembus persaingan internasional melalui perjalanan pembinaan berjenjang.
Namun, pengalaman seorang atlet belum cukup membuktikan bahwa kesempatan serupa tersedia bagi semua anak Indonesia.
Pembinaan atlet membutuhkan lebih dari bakat dan semangat berlatih sejak usia dini.
Atlet juga memerlukan pelatih berkualitas, fasilitas memadai, kompetisi berjenjang, serta dukungan pembiayaan berkelanjutan.
Kebutuhan tersebut dapat berbeda, bergantung pada karakteristik cabang olahraga dan kondisi setiap daerah.
Pemerintah Indonesia memiliki sejumlah program pembinaan atlet muda, termasuk Sentra Pembinaan Olahragawan Berbakat Nasional.
Selain itu, Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga Nomor 8 Tahun 2026 mengatur pembinaan atlet muda dan dukungan sarana olahraga.
Bulutangkis Terapkan Desentralisasi
Pada November 2025, PBSI meluncurkan Pelatnas Wilayah untuk memperluas jangkauan pembinaan bulu tangkis.
Program tersebut menempatkan Sumatera Utara dan Jawa Timur sebagai pusat pembinaan wilayah.
Inisiatif ini menjadi contoh upaya mendekatkan pembinaan kepada atlet muda di luar pusat nasional.
Meski demikian, keberadaan program belum otomatis membuktikan pemerataan akses atau efektivitas pembinaan.
Penilaian tersebut membutuhkan data mengenai jumlah atlet binaan, distribusi fasilitas, ketersediaan pelatih, serta hasil kompetisi.
Lalu bagaimana dengan cabor lain yang membutuhkan biaya besar, seperti balap motor? Akankah diterapkan program serupa?
Veda telah menunjukkan bahwa pembalap muda dari Gunungkidul mampu mencapai kejuaraan dunia.
Tantangan berikutnya adalah memastikan lebih banyak talenta mendapat kesempatan untuk ditemukan, dilatih, dan berkembang.
Mencari the next Veda Pratama bukan hanya tentang menemukan anak berbakat berikutnya.
Lebih penting lagi, Indonesia perlu memastikan sistem pembinaan membuka kesempatan yang terukur, berkelanjutan, dan dapat diakses atlet dari berbagai daerah.***



