POJOKSATU.id – Suasana Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2025

Di IPDN Jatinangor mendadak riuh ketika Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan pidato bernada keras.

Bukan sekadar sambutan formal, Dedi justru melontarkan kritik yang langsung menyedot perhatian ribuan hadirin.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Gandeng Indomaret, Pembelian E-Voucher MyPertamina Kini Lebih Mudah di Seluruh Indonesia

Salah satu pernyataannya bahkan viral di media sosial karena menyinggung soal penjajahan Belanda dan kondisi lingkungan Indonesia saat ini.

Di tengah pidatonya, Dedi mengutip keluhan generasi muda yang belakangan marak beredar di platform digital.

Kutipan itu ia sampaikan membuat suasana ruangan sontak hening. Dedi menyampaikan

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Gandeng Indomaret, Pembelian E-Voucher MyPertamina Kini Lebih Mudah di Seluruh Indonesia

“Belanda menjajah Indonesia 350 tahun. Gunung utuh, samudera masih terbentang luas, sungai-sungai jernih."

"Dia meninggalkan perkebunan yang terhampar, bangunan-bangunan yang indah, jalan-jalan yang kuat, jembatan kereta api yang kokoh.”

Pernyataan tersebut kemudian ia bandingkan dengan kondisi Indonesia pasca kemerdekaan. Masih dengan nada tegas, ia melanjutkan.

Baca Juga: Instruksi Pusat, Infak Jumat Masjid Muhammadiyah Difokuskan untuk Bantu Korban Banjir dan Longsor Bencana Sumatera

“Indonesia merdeka 80 tahun. Gunung gundul, sungai keruh."

"Hutang menggunung, bangunan-bangunan hampir tidak ada yang berkualitas, jalan-jalan mudah rusak, jembatan mudah roboh.”

Lalu, kalimat pamungkasnya membuat seluruh ruangan bergemuruh “Pertanyaannya adalah siapa yang penjajah itu?”

Ungkapan tersebut langsung menyambar ruang publik.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Gandeng Indomaret, Pembelian E-Voucher MyPertamina Kini Lebih Mudah di Seluruh Indonesia

Banyak yang tercengang, sebagian mengangguk setuju, dan tidak sedikit yang menilai bahwa Dedi sedang menampar mentalitas bangsa sendiri.

Namun di balik nada provokatif itu, terdapat pesan mendalam kerusakan lingkungan bukan dilakukan penjajah asing, melainkan oleh tangan bangsa sendiri.

Dedi menegaskan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh lagi menyalahkan masa lalu.

Baca Juga: Instruksi Pusat, Infak Jumat Masjid Muhammadiyah Difokuskan untuk Bantu Korban Banjir dan Longsor Bencana Sumatera

Ia menyebut kerusakan gunung, sungai, hutan dan kualitas infrastruktur yang memprihatinkan sebagai bukti bahwa ada yang salah dalam pengelolaan negeri.

Menurutnya, bangsa yang merdeka seharusnya mampu menjaga tanah air, bukan justru mempercepat kehancurannya.

Dalam pidato bernuansa emosional itu, ia bahkan menyebut bahwa merusak alam adalah “dosa besar” yang memperpendek umur bumi.

Baca Juga: TNI–BPBD Gerak Cepat Bantu Warga Terdampak Banjir Karawang

Bagi Dedi, cinta tanah air bukan slogan kosong, melainkan tindakan nyata menjaga sungai tetap bersih, melindungi hutan, dan menghentikan praktik pembabatan tanpa kendali.

Pidato tersebut berlanjut dengan seruan pembenahan besar-besaran terhadap tata kelola alam di Jawa Barat.

Dedi menyebutkan program penanaman pohon, pembatasan alih fungsi lahan di kawasan gunung, hingga rencana relokasi permukiman yang berada di bantaran sungai.

Ia menekankan bahwa bencana demi bencana bukan datang tiba-tiba, melainkan akibat dari kesalahan manusia yang berlangsung lama.

Bahkan, kepada seluruh lembaga pendidikan yang hadir, Dedi meminta agar kurikulum sekolah kembali menyentuh fondasi dasar mengenalkan anak pada tanah tempat mereka berpijak.

Seruan ini direspons tepuk tangan panjang dari hadirin.

Banyak guru menilai bahwa pesan tersebut sangat relevan dengan konteks pendidikan hari ini, di mana anak-anak semakin jauh dari alam.

Baca Juga: Instruksi Pusat, Infak Jumat Masjid Muhammadiyah Difokuskan untuk Bantu Korban Banjir dan Longsor Bencana Sumatera

Tidak berhenti di situ, Dedi juga menyinggung bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengelola sumber daya alamnya sendiri.

Ia mencontohkan negara-negara yang mampu bangkit melalui kecintaan terhadap tanah air dan budaya mereka, bukan hanya mengandalkan teknologi dari luar.

Pidato Dedi Mulyadi hari itu bukan sekadar pidato seremonial.

Baca Juga: Fakta Baru Soal Terra Drone Ternyata Pernah Garap Pemetaan Sawit di Sumatera

Ia menyulut kembali perdebatan tentang siapa sebenarnya yang merusak Indonesia penjajah masa lalu, atau generasi masa kini yang lalai menjaga bumi?

Satu hal pasti, kutipan “Siapa yang penjajah itu?” kini menjadi bahan diskusi publik dan menandai bahwa pesan Dedi berhasil menggugah kesadaran banyak orang.***