POJOKSATU.id - Belum tuntas duka masyarakat di berbagai daerah Sumatera akibat banjir dan longsor yang terjadi bertubi-tubi.
Kini publik kembali dibuat heboh oleh kemunculan sebuah video yang viral di media sosial.
Video itu memperlihatkan aktivitas yang diduga merupakan pengerukan pasir di bibir Pantai Serangan, kawasan Selong Belanak, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah.
Dalam rekaman tersebut tampak sejumlah alat berat beroperasi di area pesisir yang seharusnya menjadi zona terbatas.
Aktivitas tersebut disebut-sebut dilakukan oleh sebuah perusahaan swasta yang berlokasi di sekitar kawasan pantai itu.
Mereka diduga mengeruk pasir untuk membuat kolam khusus di area dekat bibir pantai sebuah tindakan yang langsung memicu kegelisahan warga setempat.
Tak butuh waktu lama, temuan itu memantik reaksi keras masyarakat. Warga yang mengetahui aktivitas tersebut berbondong-bondong mendatangi lokasi.
Mereka meminta pihak perusahaan menghentikan seluruh kegiatan yang dianggap berpotensi merusak lingkungan serta mengubah kontur alami pantai.
Beberapa warga bahkan menegaskan, Pantai Serangan bukanlah lahan pribadi yang bisa diperlakukan semaunya.
Melainkan ruang publik sekaligus kawasan ekosistem penting yang harus dijaga.
Keresahan warga makin mencuat karena aktivitas pengerukan pasir di wilayah pesisir bukan sekadar persoalan estetika,
Tetapi juga berkaitan langsung dengan keamanan lingkungan sekitar.
Pengerukan sembarangan dikhawatirkan dapat memicu abrasi, merusak habitat biota laut.
Serta mengganggu keberlanjutan kawasan pariwisata yang selama ini menjadi salah satu sumber ekonomi masyarakat Lombok Tengah.
Dalam suasana panas di lapangan, perwakilan warga mendesak pemerintah provinsi dan kabupaten untuk turun tangan.
Mereka menilai, tanpa campur tangan tegas dari pemerintah, aktivitas serupa bisa terulang atau bahkan meluas ke titik-titik lain di sekitar pantai.
Warga meminta adanya investigasi resmi untuk memastikan apakah perusahaan tersebut memiliki izin.
Apa tujuan sebenarnya dari pengerukan, serta sejauh mana potensi dampak lingkungannya.
Sejumlah tokoh masyarakat juga menanggapi viralnya video tersebut.
Mereka mengingatkan bahwa Lombok, khususnya wilayah pesisir Selatan, dikenal dengan kekayaan alamnya yang masih relatif terjaga.
Jika tidak diawasi dengan benar, aktivitas pembangunan yang berorientasi bisnis tanpa memperhatikan ekologi dapat menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan lingkungan.
Pariwisata, dan mata pencaharian masyarakat lokal.
Di media sosial, diskusi soal video itu terus bergulir.
Banyak warganet mempertanyakan bagaimana sebuah aktivitas pengerukan bisa berlangsung di area pantai tanpa memicu pengawasan lebih awal.
Ada pula yang menyoroti pentingnya transparansi perizinan, terutama bagi perusahaan yang beroperasi di kawasan wisata dan pesisir.
Hingga kini warga masih menunggu respons resmi pemerintah daerah.
Mereka berharap kejadian ini menjadi alarm bagi semua pihak bahwa pengawasan kawasan pantai tidak boleh longgar.
Masyarakat menegaskan bahwa mereka bukan anti pembangunan, tetapi menginginkan setiap kegiatan mengikuti aturan dan tidak mengorbankan lingkungan.
Kasus viral ini memperlihatkan bagaimana satu video di media sosial dapat membuka persoalan lebih besar konflik antara kepentingan bisnis dan kelestarian alam.
Warga Lombok Tengah kini menaruh harapan besar agar suara mereka benar-benar didengar.
Dan ada langkah nyata untuk melindungi Pantai Serangan dari potensi kerusakan.***


.webp)

