POJOKSATU.ID Suasana duka menyelimuti tepian Sungai Mahakam, Ujoh Halang, Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Tujuh jasad penumpang kapal feri yang tenggelam akhirnya ditemukan tim SAR gabungan pada Rabu sore (12/11/2025), setelah dua hari pencarian tanpa henti.
Dari total 28 penumpang, 20 orang berhasil selamat, 7 ditemukan meninggal dunia, dan 1 orang masih belum ditemukan hingga berita ini diturunkan.
Baca Juga: Gaji PNS dan PPPK 2026 Masih Dikaji, Pemerintah Pertimbangkan Ruang Fiskal
Tragedi ini menjadi salah satu kecelakaan air terparah di aliran Mahakam tahun ini.
Kecelakaan itu terjadi pada Senin malam, 10 November 2025, saat kapal feri yang mengangkut puluhan penumpang dan barang melintasi Sungai Mahakam.
Berdasarkan keterangan awal, kapal diduga kelebihan muatan hingga kehilangan keseimbangan dan akhirnya terbalik di tengah arus deras.
“Semuanya terjadi cepat. Kapal tiba-tiba miring, lalu tenggelam,” tutur salah satu penyintas yang enggan disebut namanya.
Dalam hitungan menit, air gelap menelan kapal beserta penumpangnya.
Warga sekitar yang mendengar teriakan segera melakukan pertolongan seadanya menggunakan perahu kecil, namun malam yang pekat dan arus yang kuat membuat upaya penyelamatan sulit dilakukan.
Tim SAR gabungan dari Basarnas Balikpapan tiba di lokasi pada Selasa siang (11/11) setelah menempuh perjalanan panjang dari kota.
Pada hari kedua pencarian, Rabu (12/11), tim menemukan tujuh korban dalam kondisi meninggal dunia di berbagai titik hingga radius 13 kilometer dari lokasi kapal tenggelam.
Baca Juga: Jam Mengajar Kurang dari 24 Jam? Begini Cara Menyesuaikannya agar TPG Tetap Cair
Salah satu korban pertama yang ditemukan adalah Marselus Bouk alias Cello (24), seorang pemuda yang menurut keluarga tengah pulang kampung untuk menjenguk orang tuanya yang sakit.
Sementara satu korban lainnya masih belum ditemukan. Tim SAR berjanji akan terus melakukan penyisiran hingga seluruh korban berhasil ditemukan.
Pencarian di Sungai Mahakam bukan perkara mudah. Arus air sangat deras, ditambah hujan lebat yang mengguyur wilayah Kutai Barat sejak Selasa malam.
Baca Juga: Wujudkan Kreativitas Berkelanjutan, Hutama Karya Resmikan Rumah Produksi UMK Binaan Di Jawa Tengah
Meski begitu, pencarian di permukaan sungai terus dilakukan menggunakan rubber boat, speedboat, drone thermal, serta bantuan peralatan selam.
Operasi ini melibatkan Polres Kutai Barat, Polairud, Brimob, BPBD, TNI, Dinas Perhubungan, tenaga medis, dan warga setempat.
Gotong royong antarinstansi dan dukungan warga menjadi kunci utama dalam upaya pencarian di medan sulit ini.
Setiap kali perahu tim SAR kembali ke posko, warga berkerumun menunggu dengan cemas.
Tangis pecah setiap kali satu kantong jenazah diangkat dari perahu karet. Suasana haru dan doa terus mengiringi proses evakuasi.
Tragedi di Mahakam kembali menyoroti lemahnya pengawasan terhadap kapasitas dan kelayakan kapal penumpang di wilayah sungai Kalimantan.
Kapal feri yang digunakan diduga melebihi batas muatan, sementara pemeriksaan rutin terhadap kondisi kapal dan alat keselamatan sering kali tidak optimal.
Baca Juga: Hadiah Manis di Hari Guru Nasional Dari Kemenag, 101 Ribu Lulus PPG Daljab Tahap 3, TPG Naik 2026
Kementerian Perhubungan dan pemerintah daerah diminta memperketat izin operasi kapal penyeberangan, terutama di jalur sungai yang kerap menjadi satu-satunya akses antarwilayah.
Sebab di Mahakam, perjalanan air bukan sekadar rutinitas tapi satu-satunya jalan penghubung kehidupan.
Menjelang senja, arus Sungai Mahakam tampak tenang dari kejauhan, namun di bawah permukaannya masih tersimpan kehilangan.
Bagi keluarga korban, sungai ini tak lagi sekadar aliran air, melainkan tempat berpulang orang-orang tercinta.
Tim SAR berjanji akan terus melakukan pencarian hingga korban terakhir ditemukan.
Sementara bagi warga Kutai Barat, tragedi ini meninggalkan pesan mendalam bahwa setiap perjalanan di air adalah perjalanan dengan tanggung jawab nyawa manusia.***


.webp)

