POJOKSATU.ID- Baru-baru ini sebuah kampung adat di Jawa Barat jadi sorotan publik, usai diketahui memiliki cadangan beras untuk 95 tahun ke depan.
Kemandirian pangan yang dilakukan kampung adat ini bukan turun dari langit, mereka bekerja keras sambil tetap mengamalkan nasehat para leluhur dalam masalah kehidupan.
Hasilnya, kelompok masyarakat adat ini memiliki cadangan beras hingga puluhan tahun untuk generasi penerusnya, mereka meninggalkan warisan berharga, bukan meninggalkan utang.
Bernama Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar, yang secara administratif lokasinya terletak di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.
Menariknya, rahasia mereka memiliki cadangan beras sebanyak itu ternyata salah satunya dari cara menanam yang tak biasa.
Sebelum mulai menanam yang akan dilakukan secara serentak, mereka akan melihat terlebih dahulu tanda-tanda astronomi.
Ada dua nama bintang yang menjadi acuan mereka untuk mulai menanam padi, yakni bintang Kidang dan Kerti.
Menurut pengakuan masyarakat, kedua bintang itu melewati wilayahnya hanya 3 sampai 4 kali dalam setahun.
Ketika kedua bintang itu sejajar dengan kampung adat, masyarakat akan mulai menanam padi secara serentak.
Baca Juga: Ugal-ugalan, Aksi Sopir Truk Kontainer Lawan Arah di Cilincing, Polisi Bertindak Cepat Usai Viral
Pengetahuan ini merupakan ajaran dari para leluhur yang sampai saat ini terus diwariskan karena terbukti efektif saat musim panen, meskipun hanya setahun sekali.
Padahal biasanya petani akan memanen dan menanam padi sebanyak 2 kali dalam setahun.
Walaupun hanya setahun sekali dan tanpa bantuan pupuk kimia, masyarakat Kampung Adat Ciptagelar tak pernah gagal panen karena hama atau cuaca buruk dan selalu mendapat hasil melimpah.
Sekitar 120 varietas padi warisan leluhur masih tersimpan dan terjaga baik di lumbung padi yang berjumlah 8.000.
Kasepuhan Ciptagelar adalah ibu kota bagi 568 kampung di sekitarnya dengan jumlah penduduk 30.000 jiwa dan berdiri di atas lahan hampir 5.000 hektare.
Ajaran para leluhur yang dianggap kuno di zaman modern ini, ternyata tak membuat mereka meninggalkannya.
Karena sudah terbukti ketika harga beras membumbung tinggi, hal itu tak berdampak apapun pada masyarakat adat di Sukabumi ini.
Selain menggunakan ilmu astronomi warisan para leluhur, mereka juga tak menjual hasil panennya.
Hal ini sudah menjadi aturan adat dan tidak boleh dilanggar karena bagi mereka beras adalah nyawa yang tak bisa diperjualbelikan.
Itu pula yang dilakukan masyarakat Kanekes atau populer disebut Baduy di Banten yang tak menjual beras hasil panen.
Baca Juga: Ketua MPR dan DPR Dukung Pertemuan Megawati dan Prabowo, Insya Allah Pasti Ketemu
Sebagai gantinya, mereka menjual hasil kebun lainnya untuk kebutuhan hidupnya.
Selain mandiri secara pangan, Kampung Adat Ciptagelar juga memiliki energi sendiri untuk sumber listrik, tanpa bantuan PLN.
Dengan memanfaatkan aliran sungai di kampungnya yang dikolaborasikan dengan pengetahuan modern, mereka membuat Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro.
Oleh karena itu, meskipun memiliki ribuan hektare lahan yang mungkin bisa dieksploitasi, mereka hanya memanfaatkan 30 persen lahannya untuk pemukiman dan pertanian.
Sisanya adalah hutan yang tak boleh diganggu atau dimanfaatkan karena untuk menjaga keharmonisan manusia dan alam.***


.webp)

