POJOKSATU.ID – Belum lama ini nama Ahmad Fahrur Rozi, Komisaris PT Gag Nikel tengah ramai jadi sorotan publik.

Tidak lain, hal ini terjadi usai PT Gag Nikel dituding sebagai dalang rusaknya ekosistem di kawasan Raja Ampat, Papua Barat Daya.

Diketahui, Ahmad Fahrur Rozi yang dikenal sebagai komisaris perusahaan tambang nikel tersebut tidak hanya memiliki kedudukan di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saja.

Baca Juga: Oknum Purnawirawan Polri Terlibat Penipuan Calo Casis Bintara Polda Sumut, Korban Rugi Rp 1,4 Miliar

Melainkan, Ketua PBNU ini juga dikenal sebagai salah satu dosen di Universitas Al Qolam Malang, Jawa Timur.

Sebagaimana dikutip Pojoksatu.id dari website resmi Universitas Al Qolam Malang pada Senin (9/6/2025).

Dalam laman tersebut, tampak jelas sosok Fahrur diklaim sebagai tenaga pendidik di kampus tersebut.

Baca Juga: Sosok Ahmad Fahrur Rozi, Komisaris PT Gag Nikel Disorot Usai Terlibat Tambang Nikel di Raja Ampat Juga Ketua PBNU

Berdasarkan informasi dihimpun, Komisaris PT Gag Nike ini mengajar ilmu Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Prodi Magister.

Usut punya usut, dirinya yang diklaim sebagai dosen ini ternyata juga merangkap sebagai Ketua Yayasan Al Qolam Malang.

Tidak heran, latar belakang Fahrur ramai disorot publik usai dirinya terlibat dalam aktivitas tambang di kawasan Raja Ampat.

Baca Juga: Profil Ahmad Fahrur Rozi, Komisaris PT Gag Ramai ‘Dikuliti’ Usai Terlibat Tambang Nikel di Raja Ampat

Terlebih, perusahaan tambang nikel yang diawasi olehnya ini disebut mendapat “perhatian khusus” dari pemerintah.

Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Ekonomi Sumber Daya Manusia (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Yang mana, Bahlil menuturkan bahwa aktivtas tambang nikel itu tidak berpengaruh siginifikan terhadap ekosistem di Raja Ampat.

Baca Juga: Pemkot Bandung Gaspol Tingkatkan Pelatihan Kerja, Sasar 15.800 Warga di 2025

Sebab, aktivitas tambang yang dikelola PT Gag Nikel beroperasional cukup jauh dari industri pariwisata.

“Tambangnya di Pulau Gag, bukan di Piaynemo. Saya sering ke sana," dikutip dari portal jawapos.com.

Itu di Pulau Gag, bukan Piaynemo. Jaraknya sekitar 30-40 km,” lanjutnya dalam laporan artikel. ***