POJOKSATU.ID- Soal isu keretakan, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dengan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan.
Purbaya Ia menepis kabar adanya ketegangan antara keduanya yang sempat ramai diperbincangkan.
“Baik hubungan saya sama dia, nggak ada masalah,” ujar Purbaya dikutip pada Selasa (21/10/2025).
Isu keretakan hubungan keduanya muncul setelah dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Purbaya dan Luhut tampak tidak saling menyapa. Namun, Purbaya buru-buru meluruskan.
Menurutnya, jarak tempat duduk menjadi alasan ia tidak berbicara dengan Luhut saat rapat berlangsung.
“Kan jauh, beda berapa kursi, masa saya ‘Pak Luhut, Pak Luhut,’ gitu,” ucap Purbaya.
Belakangan, hubungan Purbaya dan Luhut memang menjadi sorotan publik setelah keduanya saling berbeda pandangan soal dua isu besar pemerintahan, yakni proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) digadang-gadang akan berjalan tanpa dukungan dari APBN.
Kendati demikian, Purbaya menegaskan bahwa perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam pemerintahan. Ia memastikan koordinasi dengan Luhut tetap berjalan baik.
Sebelumnya, Luhut Binsar Pandjaitan, angkat suara menanggapi pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Seperti diketahui, Purbaya menolak penggunaan APBN untuk membayar utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh).
Baca Juga: Muslim Arbi Ungkap Luhut Pandjaitan Harus Ikut Tanggung Jawab Utang Kereta Cepat Whoosh
Luhut menegaskan, tidak pernah ada permintaan agar dana APBN digunakan untuk menutup kewajiban proyek tersebut.
"Whoosh itu masalahnya apa sih, itu kan tinggal restructuring aja. Siapa yang minta APBN, tak ada yang pernah minta APBN,” ujar Luhut di Jakarta, dikutip pada Jumat (17/10/2025).
Ia menjelaskan, sejak awal dirinya terlibat langsung dalam proyek strategis itu dan telah berkoordinasi dengan pihak Tiongkok.
“Saya udah bicara dengan Cina, karena saya yang dari awal mengerjakan itu. Karena saya terima sudah busuk gitu barang, kemudian kita coba perbaikin, kita audit BPKP,” ucapnya.
Dikatakan Luhut, pihak Tiongkok bersedia melakukan restrukturisasi pembiayaan. Namun, proses tersebut sempat tertunda akibat pergantian pemerintahan.
“Kemudian kita berunding dengan Cina, dan Cina mau untuk melakukan. Tapi kemarin pergantian pemerintah agak terlambat," Luhut menuturkan.
"Sehingga sekarang perlu ditunggu kepres supaya timnya segera berunding. Dan sementara Cinanya sudah bersedia kok, gak ada masalah,” tambahnya.***

.webp)

