POJOKSATU.id, NTT—Kejadian memilukan terjadi di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis (29/1) lalu.
Seorang siswa kelas IV SD yang tinggal bersama neneknya tidak tahu lagi mengadu ke siapa sehingga memutuskan mengakhiri hidup dengan gantung diri di pohon cengkeh.
Penyebabnya sepele, ibunya yang sudah menjanda tak sanggup membelikan siswa SD ini buku dan pulpen untuk keperluan sekolahnya.
Siswa berinisial YBR (10) ini pun menuliskan sepucuk surat kepada ibunya agar mengiklaskan kematiannya.
Baca Juga: Belajar ke Banyumas, Wali Kota Bandung Targetkan Lonjakan Pengolahan Sampah dari 22 ke 80 Persen
YBS diketahui sehari-hari tinggal bersama neneknya yang telah berusia sekitar 80 tahun. Ibunya, berinisial MGT, merupakan seorang janda yang bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anaknya.
Sebelum kejadian tragis itu, korban sempat meminta uang kepada sang ibu untuk membeli buku dan pena yang dibutuhkan untuk sekolah.
Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Sepucuk Surat Buat Ibu
Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan berbahasa daerah yang ditulis korban dan ditujukan kepada ibunya.
Baca Juga: Nisfu Syahban, Keraton Kasepuhan Cirebon Lestarikan Tradisi Rowahan
Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus E Pissort, mengonfirmasi bahwa polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan korban di sekitar lokasi kejadian.
Surat tersebut ditulis dalam bahasa Ngada yang ditujukan kepada ibunya.
"Surat buat Mama Reti. Mama saya pergi dulu, Mama relakan saya pergi, jangan menangis ya Mama. Tidak perlu Mama mencari atau merindukan saya. Selamat tinggal Mama," demikian bunyi terjemahan surat wasiat tersebut yang dilengkapi dengan gambar anak yang sedang menangis.
Aparat kepolisian masih mendalami latar belakang peristiwa tersebut, termasuk dugaan kekecewaan korban karena tidak dibelikan buku tulis akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
Ungkapan tersebut semakin menambah duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar.
Warga dan tetangga mengenal YBS sebagai anak yang baik, pendiam, dan rajin belajar. Ia jarang menunjukkan kesedihan, sehingga kepergiannya meninggalkan luka mendalam bagi komunitas desa.
Peristiwa tragis ini pertama kali diketahui oleh warga setempat yang kemudian melaporkannya kepada aparat desa dan kepolisian.***




