POJOKSATU.id, Rencana pemberian telepon seluler atau handphone (HP) gratis dari pemerintah mulai mendapat penjelasan terkait calon penerimanya.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan bahwa masyarakat yang belum mempunyai perangkat tersebut akan didahulukan dalam program bantuan yang sedang diwacanakan.

Pemerintah nantinya akan menentukan penerima berdasarkan hasil penilaian serta informasi terbaru mengenai kondisi masyarakat.

Langkah ini dilakukan agar bantuan dapat diberikan kepada kelompok yang sesuai dengan sasaran program.

“Ya nanti tentu diprioritaskan yang belum memiliki,” ujar Gus Ipul.

Ia menerangkan, penyediaan smartphone bagi masyarakat merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan keterjangkauan layanan digital.

Melalui perangkat tersebut, masyarakat diharapkan lebih mudah memanfaatkan layanan keuangan, mengakses fasilitas publik, serta menggunakan layanan penyaluran bantuan sosial (bansos).

Dalam menentukan penerima bantuan, pemerintah berencana menggunakan basis data perlindungan sosial (perlinsos) yang terus diperbarui.

Data tersebut akan menjadi salah satu acuan untuk mengidentifikasi masyarakat yang berhak mendapatkan bantuan.

Pemerintah juga berencana memanfaatkan teknologi pengenalan wajah atau face recognition dan informasi biometrik guna mendukung proses verifikasi identitas.

Penggunaan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan keakuratan data penerima.

Dengan begitu, proses pendataan tidak hanya bertumpu pada informasi nama dan alamat, tetapi juga dapat membantu memastikan kesesuaian identitas orang yang tercatat.

Kendati demikian, Gus Ipul belum mengungkapkan secara lengkap persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh HP gratis.

Menurutnya, pembenahan data menjadi hal mendasar yang perlu diperhatikan sebelum pemerintah menjalankan program bantuan.

“Yang paling penting hari ini adalah data yang semakin akurat itu,” katanya.

Rencana pembagian HP gratis hingga kini masih belum disertai kepastian mengenai kebutuhan biaya.

Gus Ipul mengungkapkan bahwa dirinya belum mengetahui jumlah anggaran yang akan disiapkan untuk mendukung program tersebut.

Sumber dana serta instansi yang akan bertugas menyediakan perangkat juga belum ditentukan oleh pemerintah.

“Wah itu belum tahu ya, nanti dilihat dulu kondisinya,” ujar Gus Ipul.

Begitu pula dengan jadwal realisasinya. Pemerintah belum memastikan apakah program tersebut akan mulai berjalan pada 2026 atau dilaksanakan pada waktu lain.

Gus Ipul menyebut, perkembangan rencana itu masih bergantung pada pembahasan berikutnya dan keputusan Presiden Prabowo Subianto.

“Nanti kita lihat ya, saya belum bisa menyampaikan lebih detail,” katanya.

Ia turut menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada pembahasan khusus yang mempertemukan kementerian-kementerian terkait untuk membicarakan pelaksanaan program secara lebih terperinci.

Adapun penentuan lembaga yang bertanggung jawab atas pengadaan perangkat masih menunggu arahan Presiden.

Kementerian Sosial nantinya akan mengambil bagian dalam koordinasi pelaksanaan bantuan tersebut.

Menurut Gus Ipul, pemanfaatan HP dalam program pemerintah memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar mendukung distribusi bantuan sosial.

Pemerintah ingin masyarakat mempunyai kesempatan lebih besar untuk menjangkau layanan publik yang kini semakin banyak menggunakan sistem digital.

Ketersediaan perangkat dan pemanfaatan teknologi juga diharapkan membantu pemerintah memperbaiki pendataan penerima bantuan.

Upaya tersebut diperlukan untuk menekan kemungkinan terjadinya ketidaktepatan penyaluran.

Gus Ipul menuturkan, salah satu persoalan yang masih dijumpai adalah perbedaan antara nama penerima yang tercatat dalam data dan orang yang menerima bantuan secara langsung.

Dalam sejumlah kondisi, bantuan yang ditujukan kepada seseorang justru diterima oleh anggota keluarganya, misalnya anak atau cucu.

Situasi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya memperkuat sistem pendataan dan verifikasi.

Melalui pembaruan informasi serta dukungan teknologi, pemerintah berharap penyaluran bantuan dapat berlangsung lebih tertib dan menjangkau masyarakat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Gus Ipul juga menyampaikan bahwa pemerintah terus membenahi data penerima bantuan sosial.

Selama dua tahun terakhir, proses pembaruan data tersebut disebut telah menghasilkan hampir empat juta keluarga penerima manfaat baru.

Ia menilai keterbukaan terhadap pembaruan data memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan keberatan atau memperbaiki informasi yang dinilai tidak sesuai.

“Tapi yang paling penting dari semua itu, data kita harus mutakhir. Nah sekarang selama 2 tahun terakhir ini pemerintah terbuka terhadap data. Jadi kalau sekarang ada perdebatan di berbagai kalangan termasuk di medsos, itu karena pemerintah terbuka terhadap data,” paparnya.

Pemerintah pun mendorong masyarakat agar ikut mengawasi dan mengoreksi informasi penerima bansos.

Partisipasi tersebut diharapkan membantu memastikan bantuan diberikan kepada warga yang memenuhi persyaratan.

Gus Ipul mengatakan, sejumlah masyarakat telah berinisiatif memperbaiki data mereka.

Bahkan, ada pula penerima yang memilih mengundurkan diri setelah menyadari bahwa dirinya tidak lagi memenuhi kriteria penerima bantuan sosial.

“Ayo (data penerima) ini dikoreksi. Banyak sudah yang mengkoreksi, banyak juga yang mulai mengundurkan diri karena merasa tidak memenuhi syarat untuk menerima bansos,” tegasnya.

Dengan berbagai penjelasan tersebut, bantuan HP gratis masih berada pada tahap perencanaan dan belum memiliki kepastian mengenai waktu penyaluran maupun anggarannya.

Ketentuan penerima, proses pengadaan, serta mekanisme pelaksanaan juga masih perlu diperjelas oleh pemerintah.

Masyarakat diimbau menunggu informasi resmi berikutnya agar memperoleh kepastian mengenai perkembangan program, termasuk persyaratan dan tata cara mendapatkan bantuan apabila nantinya direalisasikan.***