JAKARTA, POJOKSATU.id - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu mencakup pemulihan ekosistem dan perlindungan masyarakat yang terdampak asap, bukan sekadar upaya memadamkan api.
Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina meminta pemerintah memastikan warga di kawasan rawan mendapat perlindungan, sementara satwa liar diselamatkan dari kehilangan habitat.
Selly mengatakan, kebakaran hutan dapat menghilangkan sumber makanan dan tempat berlindung satwa liar.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong satwa keluar dari habitatnya dan memasuki kawasan permukiman untuk mencari tempat aman maupun sumber pangan.
“Yang terbakar bukan hanya pohon dan lahan. Ada habitat yang hilang, sumber pakan yang musnah, dan satwa liar yang kehilangan ruang hidupnya,” ujar Selly di Jakarta, Selasa.
Politikus dari daerah pemilihan Jawa Barat VIII itu menilai dampak karhutla meluas hingga ke kesehatan masyarakat, kegiatan ekonomi, dan keseimbangan ekosistem.
Karena itu, pemerintah perlu mengidentifikasi kawasan ekologis yang rentan, menangani satwa yang terdampak, serta memulihkan habitat yang rusak setelah kebakaran.
Selain perlindungan lingkungan, Selly menekankan pentingnya layanan kesehatan bagi warga yang mengalami gangguan akibat paparan asap.
Pemerintah juga diminta memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan dan menyiapkan evakuasi bagi masyarakat yang tinggal di wilayah berbahaya.
“Warga yang terpapar asap membutuhkan layanan kesehatan, kelompok rentan membutuhkan perlindungan, dan masyarakat di kawasan berbahaya membutuhkan kepastian evakuasi. Itu kewajiban negara,” katanya.
Selly turut meminta pemerintah pusat memperkuat dukungan kepada daerah berdasarkan tingkat kebutuhan di lapangan.
Menurut Selly, penanganan karhutla harus tetap berjalan dengan dukungan personel, peralatan pemadaman, logistik, dan fasilitas kesehatan yang memadai, tanpa menjadikan penetapan status bencana nasional sebagai penghambat bantuan.
Ia juga mendorong evaluasi menyeluruh terhadap penanganan karhutla, mulai dari jumlah titik api, luas lahan yang terbakar, persebaran asap, hingga jumlah warga terdampak dan kerugian sosial ekonomi.
Data tersebut dinilai penting untuk menentukan langkah penanganan dan pemulihan yang sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.








