POJOKSATU.id — Dunia ilmu pengetahuan kembali mengguncang batas imajinasi dengan terobosan ambisius, menghidupkan kembali hewan-hewan purba yang telah lama dinyatakan punah.

Lewat kemajuan luar biasa di bidang rekayasa genetika, impian mengembalikan spesies legendaris seperti mammoth berbulu, serigala dire, hingga burung dodo, kini perlahan bertransformasi dari fiksi ilmiah menjadi kenyataan ilmiah.

Mammoth Berbulu, Harapan Baru Ekosistem Tundra

Perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat, Colossal Biosciences, menargetkan tahun 2028 sebagai momen penting bagi kembalinya mammoth berbulu ke habitat aslinya di kawasan tundra.

Baca Juga: Bukan Sekadar Hoaks, 5 Fakta Ilmiah Membongkar Misteri Beras Plastik

Tak hanya menjadi prestasi ilmiah, proyek ini juga membawa misi besar dalam menjaga keseimbangan iklim global.

Spesies mammoth berbulu sendiri terakhir kali menginjakkan kaki di bumi sekitar 4.000 tahun silam.

Hubungan genetiknya yang sangat dekat dengan gajah Asia membuatnya dipilih sebagai kandidat utama dalam program kebangkitan spesies purba ini.

Dengan bantuan teknologi penyuntingan gen CRISPR, para peneliti menyisipkan gen khas mammoth — termasuk bulu lebat, lapisan lemak tebal, hingga ketahanan terhadap suhu dingin — ke dalam DNA gajah Asia.

Baca Juga: JANGAN KASIH KENDOR, Bersiap Timnas Indonesia U-17 vs Korea Utara di Perempat Final Piala Asia U17 2025, Ini PREDIKSI dan FORMASI Pasukan Coach Nova

Lebih dari sekadar upaya melawan kepunahan, kebangkitan mammoth berbulu diharapkan bisa membantu memulihkan tundra.

Para ilmuwan percaya kehadiran hewan raksasa ini mampu memperlambat pencairan es abadi, menjaga pertumbuhan rumput, dan menstabilkan karbon dalam tanah, sebuah langkah penting dalam mitigasi perubahan iklim.

Serigala Dire, Sang Predator Purba Kembali Berkeliaran

Tak berhenti pada mammoth, Colossal Biosciences juga mengembangkan upaya serupa untuk membangkitkan serigala dire, predator purba yang telah punah sekitar 12.000 tahun silam.

Melalui rekayasa genetika, tim ilmuwan berhasil melahirkan tiga anak serigala yang membawa DNA serigala dire.

Dua individu jantan yang diberi nama Romulus dan Remus lahir pada Oktober 2024, sementara seekor betina bernama Khalesi menyusul tiga bulan kemudian.

Baca Juga: INFO Pemerintah Pusat Khusus untuk Bapak Ibu Guru dengan Kode 13 di Info GTK, CEK Langsung Agar TPG Bisa Cair!

Ketiganya kini hidup dalam cagar alam seluas 2.000 hektare di Amerika Serikat bagian utara.

Meski bukan salinan sempurna, hewan-hewan ini memperlihatkan ciri khas serigala dire, mulai dari tubuh besar, bulu putih yang lebat, ekor tebal, hingga surai yang mencolok.

Proses rekayasa ini melibatkan lebih dari 20 gen penting yang mengontrol anatomi, ukuran tubuh, hingga karakter bulu.

Burung Dodo, Simbol Kepunahan Siap Terlahir Kembali

Tak hanya mamalia dan predator purba, Colossal Biosciences juga berambisi menghidupkan kembali burung dodo, yang telah punah sejak abad ke-17 akibat ulah manusia.

Melalui rekayasa genetika, para ilmuwan akan memanfaatkan DNA kerabat dekat dodo, yakni burung merpati, untuk membangkitkan kembali ciri-ciri fisiknya.

Prosesnya melibatkan pengurutan DNA kuno, teknik penyuntingan gen modern, serta biologi sintetik guna menciptakan burung yang menyerupai dodo asli — dari ukuran tubuh yang besar hingga karakteristik tidak bisa terbang.

Baca Juga: Perang Dagang Memanas! Apa Dampaknya bagi Ekonomi Kita?

Jika misi ini sukses, dodo bukan hanya akan menjadi kebanggaan dunia sains, tetapi juga membantu memulihkan keseimbangan ekosistem asli di Pulau Mauritius.

Antara Harapan Ilmiah dan Pertanyaan Etika

Meski menjadi pencapaian sains yang mengesankan, langkah menghidupkan kembali spesies punah juga memicu perdebatan panjang di kalangan pakar konservasi.

Banyak ahli mempertanyakan apakah kebangkitan hewan purba benar-benar solusi ideal untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.

Sebagian khawatir bahwa spesies yang diciptakan kembali ini bisa menimbulkan ketidakseimbangan baru di ekosistem masa kini. 

Sementara tantangan teknis seperti kelengkapan DNA purba dan kemampuan adaptasi organisme terhadap kondisi modern juga belum sepenuhnya terpecahkan.

Namun, di balik perdebatan yang berlangsung, kebangkitan hewan purba menegaskan pesatnya kemajuan manusia dalam mengolah informasi genetik. ***