POJOKSATU.ID- Kasus pembunuhan sadis yang melibatkan remaja berusia 14 tahun di Cilandak, Jakarta Selatan, menuai perhatian dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Komisioner KPAI, Dian Sasmita, menegaskan bahwa kejadian ini bukan yang pertama kali terjadi, dan harus dijadikan pembelajaran penting bagi masyarakat.
Dian menekankan bahwa kejadian tersebut menunjukkan bahwa respons anak terhadap situasi hidup tidak selalu sesuai dengan harapan orang dewasa.
Menurut Dian, tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal yang mempengaruhi kehidupan mereka.
Ia menyebutkan bahwa anak-anak tidak dapat sepenuhnya mengontrol jalannya hidup mereka, karena banyak aspek luar yang membentuk perilaku dan perkembangan mereka.
“Anak pun tidak mampu mengkreasikan sendiri kehidupannya akan seperti apa,” ungkap Dian saat dikonfirmasi pada Senin, 2 Desember.
Dian juga menyoroti pentingnya melihat perilaku anak secara holistik, dengan memahami bahwa tidak ada satu faktor tunggal yang menyebabkan perilaku tersebut.
Sebaliknya, ada banyak risiko yang dapat mempengaruhi perkembangan seorang anak, baik itu dari keluarga, lingkungan, maupun pendidikan.
“Perilaku-perilaku anak yang melanggar hukum perlu dilihat faktor-faktor risiko anak yang tidak pernah tunggal,” ucapnya.
Lebih lanjut, Dian menjelaskan bahwa pengasuhan keluarga yang baik dan lingkungan pendidikan yang mendukung sangat penting dalam membentuk karakter dan perilaku anak.
Kedua aspek ini memiliki peranan yang besar dalam perkembangan seorang anak.
“Pengasuhan keluarga dan lingkungan pendidikan memiliki kontribusi besar terhadap kehidupan anak. Karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan di dua lingkungan tersebut,” tambah Dian.
Sebagai informasi, remaja yang berinisial MAS tersebut diduga telah membunuh ayahnya, APW (40), dan neneknya, RM (69), serta mencoba membunuh ibunya, AP (40), di Perumahan Bona Indah, Lebak Bulus, Cilandak, pada Sabtu, 30 November lalu.
Baca Juga: Sumur Tua
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Gogo Galesung, menyatakan bahwa berdasarkan pengakuan awal pelaku, ia merasa terganggu oleh bisikan gaib yang mengarahkan tindakan tersebut.
Namun, penyelidikan lebih lanjut masih dilakukan untuk mengungkap motif sebenarnya dari perbuatan tersebut.
“Ya, interogasi awalnya dia merasa dia tidak bisa tidur, terus ada hal-hal yang membisiki dia lah, meresahkan dia seperti itu,” ujar Gogo di lokasi kejadian.
Penyidik masih mendalami kasus ini untuk mengetahui lebih dalam mengenai latar belakang dan motif dari tindakan tragis tersebut.***


