POJOKSATU.id — Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) agar mengajak para kepala daerah kembali mengaktifkan pemanfaatan lahan warga untuk aktivitas bertani dan beternak.
Langkah ini dinilai penting demi menjaga kecukupan pasokan pangan bagi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menjelaskan bahwa masyarakat dianjurkan menanam berbagai jenis sayuran dan buah di lahan kosong, sekaligus membudidayakan ayam petelur maupun ayam pedaging.
Baca Juga: Rombongan Civitas Akademik Universitas Muhamadiyah Cirebon Gunakan Kereta Luar Biasa
"Gerakan ini dilakukan untuk membantu menyediakan bahan baku pangan yang dibutuhkan program Makan Bergizi Gratis (MBG), supaya tidak memicu inflasi," kata Nanik.
Ia menyebut kebutuhan bahan pangan untuk MBG terus meningkat seiring bertambahnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah.
Peningkatan permintaan tersebut berkontribusi pada kenaikan harga sejumlah komoditas, mulai dari sayur, buah, telur, hingga daging ayam.
Baca Juga: Hayo Terungkapkan 67 Persen Kapolsek Dinilai Merah, Wakapolri Bongkar Masalah Kinerja di Lapangan
Beberapa contoh kenaikan harga turut disampaikan Nanik. Wortel kini dijual di kisaran Rp 23.000–25.000 per kilogram.
Di Ciwidey, harga kentang di tingkat petani hanya sekitar Rp 8.000 per kilogram.
Namun, di tingkat pengecer mencapai Rp 10.000–11.000. Sementara di Dieng, harga pasarnya bisa menembus Rp 12.000 per kilogram.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan 1.300 Brand Lokal Gantikan Jualan Baju Bekas Impor
"Kenaikan harga pangan salah satunya disebabkan oleh tingginya penggunaan bahan baku oleh SPPG-SPPG," ujarnya.
Saat ini terdapat 15.211 SPPG yang sudah terverifikasi, dan 13.953 di antaranya telah beroperasi, melayani sekitar 43 juta penerima manfaat MBG.
Angka tersebut diprediksi terus bertambah, sehingga berdampak besar pada kebutuhan bahan baku dan dinamika harga komoditas di pasaran.
Baca Juga: UMK 2026 Jatim Menghangat! Buruh Minta Kenaikan 8–10%, Pemerintah Soroti Dialog Tripartit
Untuk itu, BGN tengah menyiapkan kebijakan penyesuaian penggunaan bahan baku sesuai kondisi tiap daerah.
"Karena Program MBG punya pengaruh besar terhadap perubahan harga komoditas di pasar, BGN akan menyusun kebijakan bagi SPPG berdasarkan ketersediaan bahan baku di daerah," jelas Nanik.
Apabila harga suatu komoditas menurun, SPPG akan diarahkan untuk memanfaatkannya lebih banyak.
Sebaliknya, jika harga melonjak, penggunaannya akan dibatasi.
"Untuk harga yang naik, kita juga akan tekan agar mengurangi penggunaan bahan tersebut," kata Nanik.
Selain itu, beberapa insiden keamanan pangan membuat sejumlah SPPG memilih menggunakan bahan-bahan yang paling aman dan umum dikonsumsi masyarakat.
Baca Juga: Ide Outfit Kondangan Elegan tapi Tetap Low Budget
Akibatnya, variasi substitusi komoditas masih rendah.
"Substitusi masih kurang dilakukan, terutama setelah beberapa kasus keamanan pangan. SPPG cenderung memakai bahan yang aman dan itu-itu saja," tuturnya.***




