POJOKSATU.ID - Di hadapan para pemimpin bisnis dunia dalam forum bergengsi Bloomberg New Economy Forum di Singapura, Jumat 21 November 2025.
Presiden ke 7 Republik Indonesia Joko Widodo tampil dengan nada percaya diri.
Ia memaparkan perjalanan 10 tahun pemerintahannya dengan fokus pada satu pesan besar.
Indonesia tidak mungkin menjadi negara dengan ekonomi digital yang kuat tanpa fondasi infrastruktur yang kokoh.
Baca Juga: Depok Siap Terbitkan SK 7.079 PPPK Paruh Waktu Awal Desember 2025, Ini Rinciannya
Jokowi memulai pidatonya dengan kalimat sederhana, namun sarat makna tentang perubahan.
“Perubahan memang tidak pernah mudah, tetapi perubahan itu perlu,” ujarnya.
Baginya, tugas seorang pemimpin negara bukan mempertahankan kenyamanan, tetapi mengambil keputusan sulit dan membuat pondasi bagi masa depan.
Dan di forum global tersebut, Jokowi kembali menegaskan apa yang selama satu dekade ia yakini: tanpa infrastruktur fisik dan digital.
Baca Juga: Publik Geram! Slip Gaji Guru Honorer Tersisa Rp 66 Ribu, Potongan Koperasi Jadi Sorotan
Indonesia tidak mungkin berdiri sebagai salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Asia.
Dalam pidatonya, Jokowi mengungkap perenungan awal saat pertama kali dilantik sebagai presiden pada 2014.
Pertanyaannya sederhana, namun menjadi dasar dari arah kebijakan selama 10 tahun.
“Bagaimana kita bisa membangun ekonomi yang kuat untuk 280 juta penduduk? Tidak ada jalan pintas.”
Menurutnya, masalah terbesar Indonesia saat itu adalah minimnya infrastruktur dasar yang menghambat konektivitas dan produktivitas nasional.
Distribusi barang mahal, ongkos logistik tinggi, arus perpindahan orang lambat, dan digitalisasi belum terjangkau di banyak wilayah.
Karena itu, pembangunan infrastruktur bukan sekadar proyek, tetapi syarat mutlak bagi Indonesia untuk naik kelas.
“Tanpa infrastruktur yang kuat, ekonomi tidak dapat tumbuh,” tegas Jokowi.
Baca Juga: Anggota DPRD Rinna Suryanti Soroti Mandeknya Dana Perbaikan Rumah Ambruk Tahap Dua
Jalan Tol, Pelabuhan, Bandara, hingga Energi, Jokowi menegaskan, kami mulai dari hal-hal dasar.
Jokowi memamerkan berbagai pembangunan fisik yang telah digarap dalam satu dekade pemerintahannya,
Dalam kesempatan yang sama, Jokowi memaparkan klaim penting: Indonesia telah membuat kemajuan pesat dalam infrastruktur digital selama 10 tahun terakhir.
Ia menyebut beberapa pencapaian seperti pembangunan pusat data nasional, peluncuran satelit, ekspansi jaringan internet cepat.
Baca Juga: PSI Bongkar! Jokowi Ternyata Tak Pernah Dihargai PDIP Selama Jadi Presiden
Baginya, infrastruktur digital bukan pelengkap, melainkan syarat agar Indonesia bisa bersaing di masa depan.
Jokowi menekankan bahwa dunia kini bergerak berbasis data.
Sistem logistik, transaksi keuangan, kesehatan, pendidikan, hingga pemerintahan semuanya mengandalkan infrastruktur digital yang stabil dan cepat.
Jokowi menilai bahwa aturan yang ramah terhadap inovasi telah membuka ruang bagi startup lokal untuk tumbuh pesat.
Ia menyebut contoh nyata seperti Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Halodoc.
Keempatnya, kata Jokowi, adalah bukti bahwa kebijakan yang disiapkan pemerintah telah menciptakan ekosistem yang subur bagi startup untuk berkembang.
Tidak berhenti di situ, Jokowi juga menyoroti QRIS, standar pembayaran digital Indonesia.
Yang kini disetarakan oleh para pelaku pasar global sebagai salah satu sistem pembayaran paling progresif di dunia.
Itulah yang ia sebut sebagai bukti inklusivitas ekonomi digital Indonesia.
Pidato Jokowi di Bloomberg New Economy Forum adalah klaim langsung bahwa keberhasilan digital Indonesia dari pembayaran QRIS hingga lahirnya unicorn.
Bukan terjadi karena “keberuntungan”, tetapi hasil kebijakan dan fondasi infrastruktur selama satu dekade.
Forum internasional ini menjadi penutup narasi besar yang selama 10 tahun terakhir ia bangun.
Untuk mempersiapkan Indonesia menuju ekonomi yang terhubung, inklusif, dan cerdas.***




