POJOKSATU.id, Samarinda - Wakil Ketua DPRD Kaltim Muhammad Samsun menyebutkan bahwa alih fungsi lahan pertanian di Provinsi Kalimantan Timur lebih banyak ke sektor pertambangan dibandingkan menjadi kawasan perumahan.
Fenomena peralihan ini pun menyebabkan lahan pertanian semakin menyempit. Hal itu dikatannya saat ditemui di Gedung B Komplek DPRD Provinsi Kaltim, Jalan Teuku Umar, Kota Samarinda, pada Selasa (28/3/2023) lalu.
"Alih fungsi lahan itu lebih banyak ke sektor pertambangan. Sedangkan untuk pemukiman tidak seberapa, kalau di Jawa mungkin iya alih fungsi lahan ke pemukiman. Tapi untuk Kaltim, alih fungsi lahan lebih banyak ke pertambangan," kata Samsun.
Meskipun Provinsi Kaltim memiliki Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Namun, pertambangan masih saja merajalela di Bumi Etam.
Baca Juga: Pansus LKPJ Resmi Dibentuk, Sutomo Jabir: Daerah di Kaltim Banyak yang Perlu Sentuhan Pemprov
"Walaupun kita sudah punya Perda tentang Perlindungan Lahan Pertanian, kita juga punya undang-undang minerba yang mengharamkan menambang di wilayah pertanian. Tapi kita lihat, tetap aja," jelasnya.
Menurutnya, aktivitas pertambangan batu bara akan terus berlanjut. Dengan catatan, para pelakunya akan terus menambang jika mengetahui lahan tersebut terdapat emas hitamnya.
"Pokoknya hantam berait 'tabrak terus selama didalam itu masih ada batu, ya akan digali terus'. Istilahnya kan seperti itu," tegasnya.
Dikatakan politikus PDI Perjuangan ini, para petani di Kaltim seringkali memberikan lahan mereka untuk dapat ditambang.
Tentunya, mereka melakukan ini karena mendapatkan penawaran yang tidak main-main dari oknum atau pelaku tambang.
Baca Juga: Muhammad samsun: Kaltim Semakin Tua, Harus Ada Regenerasi untuk Meningkatkan Produktivitas Pertanian
"Lalu mengapa petani kita membiarkan lahan mereka ditambang, bahkan terkadang mereka yang menawarkan. Itu karena hasil lahannya sekarang tidak menarik. Mereka berpikir lebih baik dijual ke tambang dengan harga mungkin sekitar Rp1 miliar, dan mereka bisa menikmati itu," tuturnya.
Beda hal jika hasil produksi pertanian mereka meningkat, pasti para petani akan merasa sayang apabila menjual lahannya ke tambang. Masalahnya sekarang, lahan pertanian banyak yang tidak produktif.
"Coba kemudian hasil pertanian menarik, pasti mereka sayang mau dijual, mending tanam alpukat setiap tahun berbuah. Namun yang jadi permasalahannya sekarang, lahan kita banyak yang tidak produktif," bebernya.
"Sehingga, lahan itu dialih fungsikan ke tambang. Otomatis tambang mengambil kesempatan itu untuk mencari untung. Yah akhirnya, mereka hanya meninggalkan lubang-lubang tambang begitu tidak produktif lagi," sambungnya. (*/pojoksatu)



