POJOKSATU.ID – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi berbagai narasi yang menyebut nilai tukar rupiah terpuruk akibat situasi geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah.

Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Purbaya menegaskan bahwa kondisi rupiah saat ini masih cukup kuat menghadapi guncangan eksternal.

Ia menilai anggapan bahwa mata uang Indonesia mengalami kehancuran tidak sesuai dengan data yang ada.

Baca Juga: Siswi SMAN 1 Jamblang Diduga Keracunan Makanan Program MBG, Kuasa Hukum Minta Investigasi Menyeluruh

Menurut Purbaya, jika melihat catatan historis, pelemahan rupiah saat terjadi konflik global sebenarnya relatif kecil.

Bahkan dalam beberapa peristiwa perang yang pernah terjadi sebelumnya, depresiasi rupiah tercatat sangat terbatas.

“Kalau kita lihat dinamika global memang gonjang-ganjing dan memengaruhi banyak hal. Ada yang bilang rupiah hancur. Tapi kalau kita lihat datanya, setiap terjadi perang rupiah hanya terdepresiasi sekitar 0,3 persen,” kata Purbaya, Minggu (15/3/2026).

Baca Juga: Jelang Lebaran, Pemko Medan Ingatkan ASN Tak Salahgunakan Mobil Dinas

Purbaya menilai angka tersebut menunjukkan bahwa daya tahan rupiah terhadap tekanan global masih tergolong baik.

Ia menyebut kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid untuk menahan gejolak eksternal.

Dalam kesempatan itu, Purbaya juga menyinggung adanya sebagian pihak yang menyebarkan narasi negatif mengenai kondisi rupiah.

Baca Juga: VIRAL Wanita Ini Gunakan ATM Hampir 30 Menit, Antrean Panjang Bikin Orang-Orang Kesel

Menurutnya, pandangan tersebut tidak selalu mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya.

Ia bahkan menyebut para pelaku pasar yang memiliki pemahaman dan modal besar justru melihat stabilitas rupiah secara lebih realistis.

“Yang benar-benar pemain besar di pasar justru melihatnya seperti ini. Tapi mungkin yang tidak punya dana besar justru yang sering memberi komentar negatif,” ujarnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap dampak konflik geopolitik yang dapat memicu gejolak pasar keuangan, termasuk nilai tukar mata uang di berbagai negara.

Namun pemerintah menilai, dengan fundamental ekonomi yang relatif stabil serta pengelolaan fiskal yang disiplin, rupiah masih memiliki daya tahan yang cukup kuat menghadapi tekanan global.***