POJOKSATU.id - Tangis haru akhirnya menyambut kepulangan empat Anak Buah Kapal (ABK) WNI yang selama lebih dari lima bulan berada dalam penyanderaan perompak Somalia.
Kapten Ashari Samadikun (34), Wahudinanto (48), Adi Faizal (27), dan Fiki Mutakin (25) tiba di Terminal VIP Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (6/10/2026) sekitar pukul 18.43 WIB.
Kepulangan itu menjadi akhir dari perjalanan panjang yang tidak sederhana.
Setelah dibebaskan dari kapal tanker MT Honour 25, keempatnya ternyata tidak bisa langsung diterbangkan pulang.
Mereka harus melewati sejumlah wilayah di Puntland dengan kondisi dan jalur evakuasi yang berbeda.
Operasi pembebasan sendiri berlangsung pada 29 September 2026.
Puntland Maritime Police Force bersama Pemerintah Federal Somalia mengambil alih MT Honour 25 setelah kapal tersebut lebih dari lima bulan berada dalam penguasaan kelompok perompak.
Dalam operasi itu, lima sandera dilaporkan meninggal dunia. Mereka terdiri dari tiga warga Pakistan, satu warga India, dan satu warga Myanmar.
Sementara itu, 16 orang yang diduga sebagai perompak berhasil diamankan. Sebagian lainnya melarikan diri dan masih diburu aparat.
Setelah kapal berhasil dikuasai, perjalanan empat ABK WNI pun memasuki babak baru.
Duta Besar RI untuk Nairobi, Tyas Baskoro Her Witjaksono Adji, mengatakan MT Honour 25 kemudian diarahkan menuju Bandarbeyla, salah satu kota pesisir di Puntland.
Di lokasi tersebut, kondisi masing-masing ABK menjadi pertimbangan dalam menentukan proses evakuasi.
Fiki, yang mengalami luka tembak, harus diturunkan dari kapal untuk mendapatkan penanganan medis.
Sementara Ashari, Wahudinanto, dan Adi yang kondisinya lebih baik masih melanjutkan perjalanan bersama kapal.
"Bandarbeyla salah satu kota pesisir. Yang sakit, yang luka-luka diturunkan. Terus kemudian yang sehat meneruskan perjalanan ke kota Bosaso, masih di Puntland juga," kata Witjak kepada awak media, Selasa 6 Oktober 2026.
Fiki kemudian dibawa melalui jalur darat menuju Garowe, ibu kota Puntland.
Sesampainya di kota tersebut, ia langsung mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Sementara tiga rekannya menghadapi persoalan berbeda.
MT Honour 25 mengalami kerusakan sehingga harus ditarik atau diderek menuju Pelabuhan Bosaso. Ashari, Wahudinanto, dan Adi pun masih harus berada di kapal sampai urusan operasional selesai dan kru pengganti datang.
"Masih kerja sedikit lagi menunggu kru pengganti. Kru pengganti datang, mereka digeser ke Garowe, dan di Garowe kita semua bertemu bersama-sama," ujar Witjak.
Setelah kru pengganti tiba, ketiga ABK tersebut akhirnya meninggalkan kapal dan menuju Garowe.
Di kota itulah keempat WNI kembali berkumpul setelah sebelumnya terpisah karena kondisi kesehatan dan kebutuhan evakuasi masing-masing.
Pemerintah kemudian menempatkan mereka di sebuah hotel untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Indonesia.
"Terus ya kita membagi cerita, mengucapkan syukur, dan istirahat di Garowe di hotel yang kita sediakan," tutur Witjak.
Perjalanan belum benar-benar selesai. Setelah kondisi para ABK ditangani dan seluruhnya kembali berkumpul, pemerintah melanjutkan proses pemulangan menuju Indonesia.
Lebih dari lima bulan setelah mereka berada dalam penyanderaan, keempatnya akhirnya menginjakkan kaki di Tanah Air.
Fiki menjadi salah satu yang paling terlihat membutuhkan pemulihan.
Ia tiba menggunakan kursi roda, sementara kaki kanannya masih dibalut perban akibat luka tembak yang dialaminya ketika berada dalam penyanderaan.
Kepulangan tersebut kemudian mempertemukan para ABK dengan keluarga masing-masing.
Pemerintah juga memastikan pemulihan mereka tidak berhenti setelah tiba di Indonesia.
Kondisi fisik dan psikologis para korban akan tetap mendapatkan perhatian.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono mengatakan pemerintah ingin memastikan proses perawatan para ABK berjalan dengan baik setelah mereka kembali.
"Saya ingin memastikan kelanjutan dari proses ini, di mana perawatan kesehatan bagi saudara-saudara kita juga bisa terlaksana dengan baik," kata Sugiono.
Dari operasi pembebasan pada 29 September hingga kepulangan pada 6 Oktober 2026, empat ABK WNI harus melewati perjalanan panjang sebelum akhirnya kembali ke keluarga.***





