POJOKSATU.id, DALAM perjalanan sejarah Islam, tercatat sejumlah panglima perang terhebat sepanjang masa. Salah satunya Usamah bin Zaid. Dia merupakan panglima Islam termuda sekaligus panglima terakhir yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah.

Usamah bin Zaid mulai memimpin perang pada usia 18 tahun. Ia adalah putra dari Zaid bin Haritsah, pelayan yang sempat diangkat anak oleh Nabi Muhammad SAW.Dari garis keturunan, ia juga masih berkeluarga dengan Bani Kalb.

Ibu Usamah yang bernama Ummu Aiman adalah budak peninggalan ayah Nabi Muhammad, yang juga merawat dan mengasuh Nabi sejak kecil.

Usamah lahir dan tumbuh di Mekah pada tahun 612 Masehi dalam lingkungan rumah tangga Nabi Muhammad. Oleh sebab itu, sejak kecil ia sudah mengenal dan memeluk Islam. Nabi begitu sayang terhadap Usamah. Tidak jarang beliau memangku Usamah, bersama dua cucu kesayangannya; Sayyidina Hasan dan Husain.

Usamah bin Zaid pun dapat membuktikan kehebatannya, di mana ia dan pasukannya menjadi kekuatan Muslim pertama yang berhasil menyerang wilayah Bizantium.

Penaklukannya itu juga membuka jalan bagi penyerangan Muslim selanjutnya atas Levant dan Mesir.

BACA JUGA : Kisah Zaid bin Haritsah, Budak yang Namanya Tercatat dalam Alquran

BACA JUGA : Kisah Ibnu Ishaq Sejarawan yang Menulis Kisah Nabi Adam hingga Muhammad

Usamah ditolak dalam Perang Uhud, dimana ini adalah pertempuran antara kaum Muslim dan kaum Quraisy pada 23 Maret 625 Masehi.

Dalam pertempuran ini, kaum Muslim mengirim tentara Islam sebanyak 700 orang yang dipimpin langsung oleh Rasulullah, sementara kaum Quraisy sebanyak 3.000 orang dipimpin Abu Sufyan.

Usut punya usut, perang ini disebut Perang Uhud karena terjadi di dekat Bukit Uhud. Ketika pertempuran berlangsung, Usamah bersama beberapa pemuda menghadap Nabi Muhammad guna meminta izin untuk ikut berjihad.

Rasulullah pun mengizinkan para pemuda yang dianggap sudah memenuhi kriteria dalam jihad fisabilillah.

Sayangnya, di antara golongan para pemuda yang bersamanya, Usamah ditolak karena saat itu usianya masih sangat kecil untuk mengikuti peperangan.

Ditolak dalam Perang Uhud, Usamah masih terus mencoba dengan memohon izin mengikuti pertempuran, yaitu pada Perang Khandaq.

Perang Khandaq terjadi pada bulan Syawal tahun 5 Hijriah atau 627 Masehi, yaitu aksi pengepungan Madinah yang dipelopori oleh pasukan gabungan antara kaum Quraisy Makkah dan Yahudi Bani Nadir.

Tak putus asa, Usamah terus meminta izin untuk mengikuti perang tersebut. Pada akhirnya, Rasulullah pun memberikan izin.

BACA JUGA : Kisah Tangisan Nabi Idris, Rasakan Sakitnya Kematian Hingga Melihat Surga dan Neraka

Usamah lantas berangkat meninggalkan Madinah. Ketika tiba di Jurf, sebuah wilayah yang jaraknya sekitar satu farsakh dari Madinah, ia menghentikan pasukannya dan mendirikan kemah setelah mendengar kondisi kesehatan Nabi Muhammad memburuk.

Beberapa saat kemudian, Nabi Muhammad SAW wafat. Pasukan yang dipimpin Usamah gagal berangkat ke tujuan. Usamah langsung kembali ke Madinah. Ia menangis tersedu di makam Nabi karena kehilangan ‘kakek’ yang begitu dikasihinya.

Sebelum wafat, Nabi Muhammad menunjuk Usamah bin Zaid sebagai panglima perang yang akan menyerang wilayah Kekaisaran Bizantium di Balqa.

Akan tetapi, sebagian besar dari Kaum Anshar meminta kepada Umar bin Khattab untuk mengusulkan kepada Rasulullah jika sebaiknya yang memimpin adalah seseorang yang lebih tua dan berpengalaman dibanding Usamah.

Umar bin Khattab pun menyampaikan usulan itu kepada Rasulullah. Begitu mendengar usulan tersebut, Nabi Muhammad marah. Nabi sudah mempercayakan Usamah bin Zaid untuk memimpin pasukan Islam mengusir Romawi dan tidak akan membatalkannya.

Usamah pun dapat membuktikan kehebatannya, di mana ia dan pasukannya menjadi kekuatan Muslim pertama yang berhasil menyerang wilayah Bizantium.

Penaklukannya itu juga membuka jalan bagi penyerangan Muslim selanjutnya atas Levant dan Mesir.

Setelah Nabi Muhammad wafat, Usamah menetap di Wadi Al-Qura, kemudian di Madinah.

Waktu terus berjalan, Usamah bin Zaid mengembuskan napas terakhirnya pada 53 Hijriyah atau 673 Masehi di Madinah. Selama hidupnya, sudah ia dedikasikan untuk membela Islam. (nindaagustina/pojoksatu)