POJOKSATU.ID - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bergerak cepat menangani dampak banjir bandang yang melanda wilayah Aceh Tamiang dan Aceh Utara.

Ratusan personel dikerahkan dengan dukungan puluhan alat berat untuk membersihkan material banjir, terutama tumpukan kayu gelondongan yang menyumbat kawasan permukiman dan fasilitas umum.

Upaya pembersihan dilakukan secara intensif tanpa mengenal waktu.

Baca Juga: Janji Kilat Pemerintah! 15 Ribu Rumah Korban Bencana Harus Jadi dalam 90 Hari, Mampukah Terpenuhi?

Para personel gabungan bekerja sejak pagi hingga malam hari demi mempercepat pemulihan wilayah terdampak.

Fokus utama penanganan diarahkan ke kawasan Pesantren Darul Mukhlisin, yang terdampak cukup parah akibat terjangan arus banjir bandang.

Kemenhut tidak bekerja sendiri dalam operasi kemanusiaan ini.

Baca Juga: Pastikan Layanan Warga Tetap Jalan, Pemerintah Aceh Turunkan 3.000 ASN ke Daerah Bencana

Penanganan dilakukan secara kolaboratif bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, mitra swasta, relawan, serta masyarakat setempat.

Sinergi lintas sektor ini menjadi kunci percepatan pembersihan sisa material banjir yang menumpuk di berbagai titik.

Material banjir yang dibersihkan tidak hanya berupa lumpur dan puing bangunan, tetapi juga gelondongan kayu berukuran besar yang terbawa arus dari kawasan hulu.

Baca Juga: Viral Penumpang Tegur Kenek Bus yang Ngorok Kencang, Responsnya Bikin Geram Netizen

Keberadaan kayu-kayu tersebut dinilai berbahaya karena dapat menghambat aliran air serta mengganggu aktivitas masyarakat.

“Pembersihan kami fokuskan pada kayu gelondongan dan sisa material bangunan yang menutup akses serta merusak fasilitas pendidikan dan rumah ibadah,” ujar Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, dikutip pojoksatu.id dari kompas.com (29/12/2025).

Menurutnya, hingga saat ini progres pembersihan di lingkungan Pesantren Darul Mukhlisin telah mencapai sekitar 65 persen.

Baca Juga: Viral Penumpang Tegur Kenek Bus yang Ngorok Kencang, Responsnya Bikin Geram Netizen

Meski demikian, upaya percepatan terus dilakukan dengan menambah jam kerja dan memaksimalkan penggunaan alat berat di lapangan.

“Kami bekerja siang dan malam tanpa henti. Targetnya, area pesantren dan akses vital masyarakat bisa segera pulih agar aktivitas belajar dan ibadah kembali berjalan normal,” katanya.

Selain memulihkan ruang belajar dan rumah ibadah, pembersihan juga difokuskan pada pembukaan kembali jalur transportasi warga yang sempat terputus akibat material banjir.

Baca Juga: Cegah Petasan Masuk TMII, Polisi Gelar Pemeriksaan Berlapis di Pintu Masuk, Siap Ancam Pidana Jika Melanggar

Akses jalan yang bersih diharapkan dapat memperlancar distribusi bantuan dan mobilitas masyarakat.

Pemerintah bersama seluruh pihak terkait menegaskan komitmen untuk terus mendampingi masyarakat hingga proses pemulihan pascabanjir benar-benar tuntas.

Langkah cepat ini juga dilakukan untuk mencegah dampak lanjutan yang dapat membahayakan keselamatan warga.

Baca Juga: Slank Kembali Tajam! ‘Republik Fufufafa’ Dirilis di HUT ke-42, Netizen Heboh Sebut Sindiran Paling Frontal!

Melalui kerja bersama dan semangat gotong royong, pemerintah berharap pemulihan wilayah terdampak banjir bandang di Aceh dapat berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.***