POJOKSATU.id - Kementerian Kominfo bersama DPR RI, kembali menggelar seminar online bertajuk ‘Membangun dan Menjaga Keberagaman Secara Digital’, yang diselenggarakan pada Senin, 29 Mei 2023.
Anggota Komisi I DPR, Dr. H. Hasanuddin mengatakan, saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami transformasi digital. Dan jumlah pengguna internet di Indonesia semakin meningkat.
Adanya beragam adat dan budaya merupakan hal yang harus disurukuri. Maka dari itu, keberagaman tersebut harus satu jua secara digital.
“Dengan menerapkan etika digital, maka akan terbentuk dunia digital yang baik. Pemanfaatan media sosial juga akan mengarah pada hal yang positif,” bebernya.
Ketua Program Studi S1 Ilmu Politik Universitas Bakrie, Jakarta, Dr.rer.pol Aditya Batar Gunawan juga menjelaskan, sebagian besar masyarakat menilai Indonesia adalah masyarakat yang memiliki sikap sangat toleran.
Sementara riset survey terhadap 1.800 responden berusia 17-64 tahun di sembilan provinsi di Indonesia, oleh Pusat Studi Kependudukan LIPI tahun 2018, menemukan responden yang merasa terancam dan mencurigai penganut agama lain, dan orang dari etnis berbeda memiliki kecenderungan untuk menjadi intoleran.
Tingkat fanatisme agama yang tinggi dan mereka yang menggunakan sosial media secara aktif juga cenderung menjadi intoleran.
Hal itu mendorong kebencian permusuhan antar kelompok masyarakat, dan akhirnya konflik dengan kekerasan.
“Intoleransi adalah pintu masuk menuju paham radikal. Memperlemah solidaritas/ketahanan bangsa,” kata dia.
Platform media sosial merupakan lahan subur bagi penyebaran intoleransi. “Makanya, kita harus menangkal intoleransi, dengan mempertimbangkan resiko sebelum posting konten, saring sebelum sharing, dan laporkan jika ada konten intoleran,” tandas dia.
Salah satu cara menangkalnya juga, dikatakan Dosen Informatika UIN Bandung, Cecep Nurul Alam, yaitu dengan filter bubble.
Artinya yaitu mengacu pada situasi di mana algoritma dan teknologi penyaringan informasi secara otomatis, memilih dan menampilkan konten yang dipersonalisasi berdasarkan preferensi dan perilaku online pengguna.
Atau juga dengan Echo chamber, atau merujuk pada situasi sosial di mana individu cenderung mengakses, berinteraksi, dan memperkuat pandangan mereka dengan orang-orang yang memiliki pandangan yang serupa.
Secara keseluruhan, mengatasi tantangan keberagaman dalam ruang digital, seperti filter bubble dan echo chamber, membutuhkan upaya bersama dari pengguna individu, platform digital, dan pendidikan yang mendukung lingkungan informasi yang lebih beragam, inklusif, dan berdaya guna.



