POJOKSATU.id, PURWAKARTA – Beberapa hari ini publik dikejutkan dengan pembongkaran hunian di bantaran sungai, yang ada di Kabupaten Bekasi tepatnya di babelan.
Tak ada teriakan histeris, tak ada tangisan bahkan cacianpun tidak ada. Padahal pembongkaran, yang biasanya identik dengan hal-hal seperti itu.
Gubernur Jawa Barat (Jabar), Kang Dedi Mulyadi (KDM) melakukan pembongkaran bangunan di bantaran kali, untuk melakukan normalisasi kali.
Walaupun awalnya ada yang bersuara keras ( kalau tidak salah Kepala Desa setempat), namun KDM tidak menghiraukan kicauan sang Kades di media sosial dan di berbagai media.
Akhirnya, KDM bertemu dengan beberapa warga yang bersuara keras dilokasi yang akan dibongkar, namun KDM bukannya mundur malah terus maju.
Pada akhirnya, mereka yang bersuara keraspun sadar dan menerima penggusuran bangunan disepanjang bantaran kali tersebut.
Baca Juga: Beli Tiket Kapal Lebih Mudah di BRImo: Tanpa Antre, Praktis, dan Cepat!
Mereka yang bersuara keras, seyogyanya tidak mengenal KDM secara utuh, sehingga ada ketakutan bangunan yang dirobohkan menjadi sebuah kerugian.
Padahal, dimanapun berada apapun kebijakan yang diambilnya, KDM tidak akan merugikan para pihak terutama buat rakyat kecil.
Hal itupun dibuktikan oleh KDM, setiap bangunan yang dibongkar akan dihitung per meter, apa saja jenis material yang digunakan.
Kemudian selanjutnya akan dihitung, modal pembelian material.bangunan tersebut. Sehingga masyarakat yang membangun tidak akan di rugikan.
Sehingga, ketika ada puluhan bangunan yang di bongkar, masyarakat pemilik atau yang membangun akan mendapatkan konfensasi penggusuran.
Padahal, warga masyarakat itu sendiri yang bersalah, karena membangun di bantaran sungai yang juga di tanah negara.
“Setiap permasalahan itu pasti ada jalan keluarnya, kita berusaha menyelesaikannya dengan hati dan rasa,” kata KDM, kepada pojoksatu.id melalui sambungan seluller, Sabtu (15/03).
Bila semua permaslahan itu diselesaikan dengan hati dan rasa, masyarakatpun akan dengan senang hati merelakannya.
“Dari awal saya membangun komunikasi politik dengan riang gembira, canda dan tawa. Karena itu ciri khas orang sunda,” tutup KDM, mengakhiri pembicaraan.
Mungkin ini kali pertama penggusuran puluhan bangunan, tanpa ada teriakan histeris tangisan air mata dan caci maki warga di negeri ini.***


.webp)

