POJOKSATU.ID - Ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta (SMAN 72) ternyata bukan sekadar soal alat atau bahan peledak semata.

Melainkan juga alarm atas jalur pembelajaran gelap di antara remaja yang menempuh pendidikan tinggi di sekolah negeri.

Fokus kita kali ini bagaimana seorang siswa bisa mendapatkan pengetahuan merakit perangkat berbahaya.

Baca Juga: Mahasiswi Unair Raih Juara 1 Ecompt International English Competition 2025, Dorong Isu Perubahan iklim dan Pembangunan

Siapa yang mengajari, platform mana yang digunakan, dan bagaimana lingkungan sekolah serta digital ikut ambil bagian.


Bullying, Sosialisasi Kelompok, dan Pencarian Identitas

Salah satu hipotesis kuat yang muncul terkait motif ledakan di SMAN 72 adalah bahwa pelaku seorang siswa kelas 12 adalah korban bullying dan mulai merespon melalui jalur ekstrem.

Menurut saksi-mata, pelaku dianggap mulai menarik diri, sering menyendiri, dan masuk di grup chat yang membahas kekerasan atau koleksi gambar dan simbol ekstrim.

Baca Juga: Bupati Sugiri Sancoko Terjaring OTT Komisi Pemberantasan Korupsi, Dugaan Suap Jual-Beli Jabatan di Pemkab Ponorogo Menguat

Dalam konteks remaja, pencarian identitas sering mendorong mereka ke komunitas yang menawarkan kekuatan atau pengakuan termasuk melalui konten ekstrem di internet.

Jika lingkungan sekolah tidak menyediakan ruang aman dan pengawasan yang cukup, maka jalur radikalisasi informal bisa terbuka.


Platform Digital dan Grup Tertutup Jalur Pengetahuan Gelap

Ketika aparat kepolisian masih menyelidiki motif, didapati bahwa senjata mainan yang dibawa bukan hanya sekadar mainan.

Baca Juga: Walkot Gorontaro Murka! Puluhan ASN Gorontalo Dapat SP1 karena Ketahuan Bolos Saat Jam Dinas

Tetapi juga memiliki tulisan-tulisan terkait paham ekstrem sayap kanan dan neo-Nazi seperti 14 Words, nama pelaku teror internasional, serta simbol lainnya.

Tulisan-tulisan dan simbol tersebut biasanya tersebar melalui forum atau grup tertutup di internet, termasuk bagian dari sub-kultur ekstrem.

Artinya akses pengetahuan tentang ideologi kekerasan bisa dilakukan secara daring dan siswa sebagai generasi digital sangat rentan.

Dari Mana Materi Belajar Itu Didapat

Meskipun belum ada pengumuman resmi lengkap dari aparat, beberapa fakta awal menunjukkan jalur berikut:

Baca Juga: 196 ASN Kemendikdasmen Siap Jadi Pionir Pendidikan di IKN Nusantara

Barang atau alat yang dibawa pelaku termasuk senjata mainan, bukan senjata api asli namun ada unsur simbol dan ideologi kekerasan.

Lingkungan sekolah berada dalam kompleks militer/AL di Kelapa Gading, yang idealnya memiliki pengamanan ekstra.

Namun laporan awal menyebut bahwa pelaku berasal dari lingkungan sekolah yang sama.

Ada indikasi bahwa pelaku mengoleksi konten kekerasan atau ekstrem di internet dan memiliki akses digital yang kurang termonitor (melalui saksi dan media independen).

Jadi, sambil aparat mendalami motif dan jalur, poin kritisnya: pengetahuan (ideology + teknologi) tersebar lewat jalur digital/komunitas.

Baca Juga: Sosok Ketiga Lintrik, Horor Baru Agung Saputra dan Fajar Nugros yang Berangkat dari Riset Nyata

Sedangkan alat/fasilitas bisa diakses lewat lingkungan terdekat atau komunitas tertutup.


Peran Sekolah, Orang Tua dan Lingkungan

Lingkungan sekolah dan orang tua memiliki tanggungjawab besar dalam mencegah jalur pengetahuan gelap berkembang.

Sekolah harus menyediakan mekanisme deteksi awal siswa yang sering menyendiri, kelompok chat yang mencurigakan, perubahan perilaku dramatis.

Orang tua perlu terbuka bertanya kepada anak: aktivitas online apa yang diikuti? Grup chat macam apa yang mereka ikuti? Apakah ada tekanan dari teman sebaya (bullying) yang tidak terkelola.

Baca Juga: Cair Bertahap, Bukan Serentak? Ini Alasan Mengapa TPG TW 3 Belum Masuk ke Semua Rekening!

Lingkungan komunitas sekolah (termasuk tetangga, kompleks sekitar) harus aktif menciptakan forum diskusi tentang keamanan digital, identitas remaja, dan risiko konten ekstrem.


Bagaimana Edukasi dan Solusi Bisa Dijalankan?

Beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan:

Pengajaran literasi digital di sekolah cara mengenali konten ekstrem, bagaimana grup chat bisa mempengaruhi mental, dan bagaimana meminta bantuan jika merasa tertekan atau dipaksa bergabung.

Program mentor sebaya atau buddy system siswa senior atau alumni yang dilatih untuk mengenali perubahan perilaku teman-teman mereka.

Kerja sama dengan pakar keamanan siber atau LSM anti radikalisasi untuk mengadakan workshop rutin di sekolah.

Baca Juga: Kenapa TPG Triwulan 3 Lebih Lambat dari Triwulan 4? Simak Penjelasan Mekanisme Baru Tahun 2025!

Orang tua dilibatkan dalam parent digital forum bagaimana mengawasi anak di perangkat mereka tanpa melanggar privasi, dan bagaimana membuka dialog soal tekanan/identitas remaja.

Kasus ledakan di SMAN 72 bukan hanya soal bahan atau ledakan tetapi soal jalur pengetahuan dan identitas yang bisa membawa seorang remaja klas 12 ke titik ekstrem.

Jika kita memahami dari mana pengetahuan itu datang, siapa yang mengajari, dan bagaimana sistem social digital memfasilitasi, maka kita bisa lebih efektif merancang pencegahan.

Sekolah, orang tua, dan masyarakat harus bergerak duluan, sebelum jalur online gelap menjebak lebih banyak remaja.***