POJOKSATU.ID - Sebuah kisah pilu muncul dari tengah bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah.
Seorang ibu terpaksa bertahan hidup selama 60 jam terjebak di dalam rumah yang terendam air.
Ia tidak memiliki akses keluar, tidak ada bantuan logistik masuk, dan tidak ada makanan yang bisa dikonsumsi selain padi yang tersisa. Dilansir dari Instagram @rumpi_gosip
Demi tetap bisa menyusui bayinya yang baru berusia 10 bulan, sang ibu pun meminum air hujan yang jatuh dari atap rumahnya.
Baca Juga: Bupati Purwakarta Berikan Bantuan Langsung Korban Banjir Padang, Senilai Ratusan Juta Rupiah
Kisah ini mencuat setelah warga setempat menemukan kondisi keluarga tersebut dalam keadaan lemas.
Selama dua setengah hari banjir mengurung rumah mereka, air terus naik, sementara bantuan tidak bisa datang karena akses permukiman terputus total.
Situasi yang seharusnya aman menjadi ruang bertahan hidup penuh tekanan bagi seorang ibu yang hanya berpikir tentang keselamatan bayinya.
Dalam keterangannya, warga menyebut bahwa sang ibu terpaksa menampung air hujan untuk bertahan hidup.
Tidak ada makanan yang tersisa kecuali sejumlah padi yang belum ditumbuk. Padi itulah yang dikunyahnya untuk sekadar memberi tenaga.
Semua dilakukan demi memastikan tubuhnya tetap kuat agar bisa menyusui buah hatinya yang masih sangat kecil.
Bayi 10 bulan itu, menurut warga, terus menempel pada ibunya selama banjir berlangsung. Sang ibu berusaha tetap tenang meski kondisi kesehatan dan stamina terus menurun.
Rasa lapar, dingin, dan kelelahan membuat situasi makin berat, namun ia tidak menyerah demi bisa menjaga bayinya tetap hidup.
Setelah air mulai surut dan warga lain berhasil mencapai rumah tersebut, kondisi keduanya langsung menjadi perhatian utama.
Baca Juga: Terang yang Mengubah Hidup: Ketika Sambungan Listrik Gratis Hadir di NTT
Banyak yang tak menyangka bahwa seorang ibu bisa bertahan dalam kondisi ekstrem seperti itu tanpa bantuan apa pun.
Cerita ini dengan cepat menyebar ke masyarakat sekitar dan menjadi simbol perjuangan seorang ibu di tengah bencana.
Peristiwa ini juga memperlihatkan betapa sulitnya akses bantuan di beberapa daerah terdampak banjir.
Baca Juga: 9 Hari Terisolasi, Warga Aceh Tengah Bangun Helipad Darurat Demi Menunggu Bantuan yang Datang
Banyak warga berharap peristiwa ini menjadi perhatian pemerintah agar pendistribusian bantuan bisa lebih cepat dan merata.
Terlebih lagi, keluarga yang terjebak seperti ini sangat rentan terhadap risiko kesehatan dan kekurangan gizi, terutama ibu menyusui dan bayi.
Banjir besar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir telah menghantam banyak rumah, memutus jalur transportasi, dan membuat sebagian warga terisolasi.
Di beberapa daerah, air naik begitu cepat hingga masyarakat tidak sempat menyelamatkan logistik atau mencari tempat lebih aman.
Baca Juga: Sosialisasi JKN di Karawang, Putih Sari Sentil Pelayanan dan Ajak Peserta Proaktif
Kisah ibu ini menjadi bukti bahwa dampak banjir tidak hanya soal kerusakan material, tetapi juga ancaman terhadap keselamatan warga yang terjebak tanpa pertolongan.
Warga berharap pemerintah daerah segera memperkuat sistem evakuasi dan mempercepat bantuan darurat.
Banyak keluarga yang kini masih berjuang untuk pulih, dan prioritas utama adalah memastikan tidak ada lagi korban yang harus mempertaruhkan nyawa dalam kesendirian seperti yang dialami ibu tersebut.***


.webp)

