POJOKSATU.id, JAKARTA—Influencer yang berani bersikap kritis terkait penanganan banjir Sumatera mendapat teror dari orang tak bertanggung jawab di akhir Desember 2025 ini.
Nama-nama seperti DJ Donny, Sherly Annavita dan aktivis Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik mendapat perlakuan tak menyenangkan dari OTK ini.
Bentuk teror yang diterima ketiga warga sipil ini pun terbilang brutal diduga imbas sikap kritis mereka terkait banjir di Sumut, Sumbar dan Aceh.
Mereka mendapat teror mulai pengiriman bangkai ayam, ancaman lewat pesan anonim sampai rumah yang dilempari telur busuk.
Baca Juga: Usai Viral Trotoar Dicet Mirip Guiding Block, Pemprov Banten Akui Belum Ada Fasilitas Tunanetra
Lewat unggahan di media sosial, Sherly Annavita mengatakan bahwa rumahnya dilempari sekantung telur busuk serta ditempeli tulisan bernada ancaman.
Tak hanya itu, Sherly juga mengaku menerima rentetan pesan ancaman melalui nomor Whatsapp anonim dan akun-akun bodong di media sosial.
Bahkan, ada pesan yang disertai gambar kepala babi dengan mata berdarah. Menurutnya, pola teror tersebut terorganisasi dan sulit dianggap aksi spontan.
"Teror-teror ini terasa sekali setelah Sherly yang memang berasal dari Aceh atau Sumatera ikut memberikan pandangan di beberapa acara TV terkait bencana di Sumatera,” ujar lewat Sherly melalui akun media sosialnya, Selasa (30/12/2025).
Baca Juga: Banjir Renggut Nyawa, Mensos Umumkan Santunan Banjir Aceh dan Sumatera Korban Dihargai Rp15 Juta
“Beberapa influencer lain yang bersuara sama juga ternyata mengalami perlakuan serupa," tulisnya.
Greenpeace Indonesia Bersuara
Melalui akun Instagram @greenpeaceid, Selasa (30/12/2025), NGO internasional ini bersuara mengenai salah satu aktivisnya yang mendapat teror dari OTK.
“Jelang akhir tahun 2025 ini, kami menerima ancaman teror di rumah salah seorang aktivis Greenpeace, Iqbal Damanik,” ujar greenpeace.
Menurut NGO ini, pengiriman bangkai ayam dan pesan ancaman terhadap mereka yang bersuara kritis adalah cara-cara pengecut untuk membungkam kritik.
Padahal, suara masyarakat terkait bencana Sumatera adalah bentuk kepedulian terhadap para korban dan juga bentuk aksi bela negara, demi melindungi lingkungan Indonesia kita di masa depan.
“Saatnya suara masyarakat Indonesia didengar dengan lapang dada sebagai cermin untuk berbenah, bukan justru dibalas dengan ancaman,” ujarnya.
“Mari kita berikan semangat dan dukungan solidaritas kepada mereka yang selama ini bersuara, dan mari kita juga ikut memilih bersuara,” jelasnya lagi.***



.webp)
