POJOKSATU.ID - Lonjakan harga plastik dalam beberapa pekan terakhir mulai menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Di tengah kondisi tersebut, banyak pelaku usaha memilih tetap menahan harga jual demi menjaga daya beli masyarakat, meski konsekuensinya margin keuntungan mereka kian menipis.

Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengungkapkan, kenaikan biaya produksi akibat mahalnya plastik membuat pelaku usaha berada dalam posisi sulit. Mereka harus menanggung beban tambahan tanpa menaikkan harga produk.

Baca Juga: Target Juni 2026! Intip Progres Pembangunan Sekolah Rakyat Raksasa di Semarang yang Bisa Tampung 1.000 Siswa

“Harga tetap dijaga, tapi keuntungan mereka tergerus karena biaya produksi naik,” ujar Maman saat ditemui di Kompleks Smesco Indonesia, Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Kenaikan harga plastik ini dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku utama, yakni nafta, produk turunan minyak bumi.

Sekitar 70 persen pasokan nafta global berasal dari kawasan Teluk di Asia Barat.

Baca Juga: Menaker Tegaskan WFH untuk Swasta Hanya Imbauan, Tak Ingin Kebijakan Ini Justru Ganggu Pertumbuhan Ekonomi

Namun, distribusi terganggu setelah penutupan Selat Hormuz akibat konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Dampaknya, bahan baku menjadi langka dan produksi industri ikut menurun.

Kelangkaan ini memicu lonjakan harga di pasar. Para pelaku usaha bahkan harus berebut mendapatkan pasokan plastik, yang akhirnya mendorong harga semakin tinggi.

Baca Juga: Daftar Haji Bakal Pakai Sistem 'War' Seperti Konser? Cek Faktanya di Sini!

“Karena barang langka, orang berebut beli, otomatis harga melonjak,” jelas Maman.

Sebagai langkah cepat, pemerintah kini berupaya mencari sumber pasokan alternatif dari negara lain seperti Afrika, India, dan Amerika Serikat. Proses administrasi dan pengiriman pun sedang berjalan.

Di sisi lain, solusi jangka panjang juga mulai disiapkan. Pemerintah mendorong penggunaan bahan baku alternatif yang lebih ramah lingkungan, seperti rumput laut dan singkong.

Menurut Maman, penggunaan bahan tersebut berpotensi menekan biaya produksi jika dikembangkan dalam skala besar.

“Rumput laut, singkong. Ini baru dua itu saja ya baru dua itu yang yang bisa dipakai untuk plastik ini,” kata Maman

Baca Juga: Wamensos Agus Jabo Mendadak Sidak ke Cibinong, Ada Apa dengan Sekolah Rakyat?

Sementara itu, kenaikan harga plastik mulai terasa sejak pasca-Idul Fitri. Bahkan, Ikatan Pedagang Pasar Indonesia mencatat lonjakan harga hingga 50 persen dibandingkan sebelum Ramadan.

Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha dan pemerintah untuk segera menemukan solusi berkelanjutan, agar stabilitas harga dan kelangsungan usaha tetap terjaga.***