POJOKSATU.id — Kenaikan harga Pertamax kembali menjadi perhatian masyarakat karena berpotensi memengaruhi berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

Meski tidak semua pengguna kendaraan menggunakan Pertamax, perubahan harga bahan bakar nonsubsidi ini dapat menimbulkan efek berantai yang dirasakan oleh banyak pihak.

Dampak paling langsung tentu dirasakan oleh pemilik kendaraan yang selama ini mengandalkan Pertamax sebagai bahan bakar utama.

Baca Juga: Jumlah Mahasiswa Baru PTS Daerah Terus Menurun, DPR Soroti Jalur Mandiri PTN hingga Usul Seleksi Gabungan PTN-PTS

Mereka harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk setiap kali mengisi tangki kendaraan.

Akibatnya, anggaran bulanan untuk transportasi pribadi juga ikut meningkat.

Kenaikan biaya bahan bakar dapat membuat sebagian masyarakat melakukan penyesuaian pengeluaran.

Tidak sedikit yang akhirnya mengurangi belanja kebutuhan sekunder, seperti hiburan, wisata, hingga konsumsi di luar rumah demi menjaga keseimbangan keuangan keluarga.

Baca Juga: Heboh Riset Palsu Libatkan Alumni Kampus, Kemdiktisaintek dan BRIN Bentuk Tim Investigasi hingga Libatkan Aparat Penegak Hukum

Selain pengguna kendaraan pribadi, pelaku usaha juga berpotensi terdampak.

Banyak perusahaan menggunakan kendaraan operasional berbahan bakar nonsubsidi untuk mendukung aktivitas bisnis dan distribusi barang.

Ketika biaya operasional meningkat, pelaku usaha dapat mempertimbangkan penyesuaian harga produk atau layanan yang mereka tawarkan.

Sektor logistik menjadi salah satu yang paling diperhatikan saat harga BBM naik.

Baca Juga: UKT Mahasiswa Kedokteran Retaker Ukom Mulai Dihapus, Kemendikti Saintek Ungkap Nasib 376 Mahasiswa Terancam DO

Distribusi barang dari produsen ke pasar membutuhkan biaya transportasi yang tidak sedikit.

Jika biaya pengiriman meningkat maka harga sejumlah barang di tingkat konsumen juga berpotensi mengalami penyesuaian.

Dampak lainnya dapat dirasakan pada sektor transportasi.

Pengemudi taksi online, jasa kurir, hingga layanan antar barang kemungkinan menghadapi peningkatan biaya operasional.

Dalam kondisi tertentu, kenaikan biaya tersebut dapat memengaruhi tarif layanan yang dibebankan kepada pelanggan.

Baca Juga: Karawang Cari Bintang Baru Madrasah, Atlet dan Seniman Cilik Adu Prestasi di Aksioma 2026

Sebagian masyarakat juga berpotensi beralih ke jenis BBM yang lebih murah untuk menghemat pengeluaran.

Fenomena ini sering terjadi ketika selisih harga antara BBM nonsubsidi dan BBM bersubsidi semakin lebar.

Dari sisi ekonomi makro, kenaikan harga bahan bakar berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi.

Hal ini terjadi apabila kenaikan biaya transportasi dan distribusi ikut mendorong kenaikan harga barang dan jasa di berbagai sektor.

Baca Juga: Rekapitulasi Hasil Kelulusan KIP Kuliah 2026: Sinergi Program PIP Sekolah Menengah Menuju Bangku Kuliah

Meski demikian, besarnya dampak yang dirasakan masyarakat akan bergantung pada berbagai faktor, termasuk jenis kendaraan yang digunakan, frekuensi mobilitas, serta kemampuan pelaku usaha dalam menyerap kenaikan biaya operasional tanpa menaikkan harga produk.

Karena itu, masyarakat perlu mengatur kembali pengeluaran dan mempertimbangkan penggunaan bahan bakar secara lebih efisien agar dampak kenaikan harga BBM tidak terlalu membebani kondisi keuangan keluarga.***