POJOKSATU.ID - Ribuan buruh dari berbagai federasi turun ke jalan pada Rabu, 3 Desember 2025, membawa serangkaian tuntutan yang berkaitan dengan upah dan kesejahteraan pekerja.

Aksi berlangsung di sejumlah titik Jakarta Pusat, termasuk kawasan Monas dan sekitar gedung pemerintahan. dikutip pojoksatu.id dari Liputan6

Demonstrasi ini dibarengi agenda internal organisasi buruh yang menggelar rapat besar untuk menegaskan posisi mereka dalam memperjuangkan hak pekerja.

Baca Juga: Banyak Mayat Bergelimpangan di Jalan Belum Dievakuasi di Jalan Lintas Sumatera Sibolga-Tarutung

Aksi tersebut digawangi oleh KSPSI dan serikat-serikat lainnya yang menilai bahwa kenaikan biaya hidup tidak lagi sejalan dengan kenaikan upah minimum.

Mereka menyebut kondisi ini memukul daya beli pekerja, sementara kebutuhan pokok terus bergerak naik.

Dalam seruan mereka, terdengar keluhan bahwa buruh selalu diminta bekerja lebih keras sementara hak-hak dasar tidak ikut meningkat.

Baca Juga: Baru Diangkat PPPK, Personel Damkar Selebrasi di Atap Truk Pemadam! Viral di Sosial Media

Para peserta aksi juga membawa isu perlindungan tenaga kerja, khususnya terkait maraknya praktik pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dinilai tidak memberikan ruang perlindungan memadai bagi pekerja.

Mereka mendorong pemerintah menyiapkan pelatihan untuk korban PHK agar tetap dapat bersaing di dunia kerja yang berubah cepat.

Selain itu, para buruh menyoroti problem kesejahteraan yang lebih luas, seperti keterbatasan akses perumahan layak bagi pekerja dan minimnya fasilitas pendidikan untuk keluarga buruh.

Mereka menilai bahwa buruh sering kali diposisikan hanya sebagai angka statistik tanpa mendapatkan perhatian terhadap kondisi sosial mereka.

Baca Juga: Kuasa Hukum PT TJ Forge: Demo Berhari-Hari Berpotensi Mengganggu Stabilitas Investasi di Karawang

Dalam aksi tersebut, serikat buruh tidak hanya menggelar demonstrasi, tetapi juga melakukan konsolidasi melalui rapat pimpinan nasional di Istora Senayan.

Dalam forum itu, mereka membahas langkah strategis, termasuk penguatan organisasi agar daya tawarnya meningkat di tingkat nasional.

Baca Juga: Tips Menikmati Perjalanan Akhir Tahun agar Tetap Nyaman dan Tenang Tanpa Ribet

Di saat bersamaan, mereka juga menyatakan komitmen untuk terlibat dalam kegiatan sosial, termasuk penggalangan dana bagi korban bencana di beberapa daerah Sumatera.

Di sisi keamanan, kepolisian menurunkan lebih dari seribu personel untuk memastikan jalannya aksi tetap tertib.

Aparat melakukan pengaturan lalu lintas di titik-titik rawan agar aktivitas masyarakat tetap dapat berjalan meski massa buruh memenuhi jalan.

Baca Juga: Sudah Pegang SK PPPK Paruh Waktu Tapi Belum Bisa Kerja? Ini Alasan SPMT Baru Berlaku 1 Januari 2026

Isu upah minimum menjadi pusat perhatian utama. Buruh menilai bahwa kebijakan upah selama ini terlalu mengikuti rumus teknis tanpa mempertimbangkan realitas harga pasar.

Mereka mengingatkan bahwa buruh bekerja setiap hari, tetapi upah mereka justru terkungkung oleh regulasi yang dianggap tidak berpihak.

Salah seorang peserta aksi menegaskan bahwa upah layak bukanlah permintaan berlebihan.

Ia menyebut bahwa buruh hanya ingin mendapat imbalan setara dengan kerja keras mereka, serta perlindungan yang memadai saat menghadapi situasi ekonomi yang tidak menentu.

Baca Juga: Menhan: Percepat Bantuan Logistik Hingga Pemulihan Listrik di Aceh

Di tengah sorotan tajam ini, pemerintah didorong untuk membuka ruang dialog yang lebih serius.

Buruh berharap tuntutan mereka tidak hanya dicatat tetapi juga diterjemahkan dalam kebijakan konkret yang dapat langsung dirasakan pekerja.

Demo 3 Desember menjadi penanda bahwa isu ketenagakerjaan masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Selama tidak ada solusi menyeluruh, aksi serupa diyakini akan terus bermunculan sebagai bentuk tekanan publik agar kesejahteraan buruh tidak lagi tertinggal.***