POJOKSATU.ID - Gus Miftah, pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji, belakangan ini kembali menjadi buah bibir masyarakat setelah muncul dugaan penganiayaan santri di pesantrennya.

Namun, insiden di pesantrennya itu bukanlah satu-satunya sorotan yang pernah menghampiri perjalanan dakwah dan kiprah publik Gus Miftah.

Sosoknya yang dikenal dengan gaya dakwah yang lugas dan merangkul berbagai kalangan memang kerap kali menimbulkan pro dan kontra.

Baca Juga: Gus Miftah Beri Klarifikasi dan Permohonan Maaf Terkait Dugaan Penganiayaan Santri Ora Aji

Kontroversi Dakwah di Luar Batas Umum

Salah satu aspek yang paling sering memicu perdebatan adalah pilihan lokasi dakwah Gus Miftah.

Ia dikenal berani membawa pesan-pesan agama ke tempat-tempat yang selama ini dianggap "kurang lazim" bagi seorang ulama, seperti kelab malam atau gereja.

Pada tahun 2021, misalnya, orasi kebangsaannya di sebuah gereja di Jakarta Utara menuai kritik dan hujatan dari sebagian pihak yang menganggapnya tidak pantas.

Gus Miftah membela diri dengan alasan bahwa dakwahnya bertujuan untuk menjangkau semua lapisan masyarakat, termasuk mereka yang mungkin sulit mengakses kajian agama di tempat-tempat konvensional.

Pendekatan "jemput bola" ini memang punya penggemar, tapi tak sedikit pula yang merasa terganggu.

Baca Juga: Profil Pondok Pesantren Ora Aji Milik Gus Miftah, di Tengah Panasnya Kasus Dugaan Penganiayaan Santri!

Candaan yang Menjadi Polemik

Selain lokasi dakwahnya, Gus Miftah juga pernah tersandung masalah karena perkataan atau candaannya yang dianggap merendahkan.

Salah satu yang paling viral adalah saat ia melontarkan candaan kepada seorang pedagang es teh di sebuah acara pengajian.

Ucapannya yang dinilai merendahkan profesi tersebut memicu kemarahan publik dan kritik tajam, bahkan dari berbagai tokoh masyarakat.

Dalam kasus lain, Gus Miftah juga pernah dituding menghina seniman senior dan seorang pendakwah lain melalui pagelaran wayang.

Meskipun seringkali ia menjelaskan bahwa itu hanyalah candaan, insiden-insiden ini menunjukkan betapa sensitifnya perkataan seorang figur publik, apalagi seorang pemuka agama.

Baca Juga: Profil Pondok Pesantren Ora Aji Milik Gus Miftah, di Tengah Panasnya Kasus Dugaan Penganiayaan Santri!

Isu Sosial dan Politik

Perjalanan Gus Miftah juga tidak luput dari isu-isu sosial dan politik. Ia pernah disorot karena aksinya membagi-bagikan uang saat masa kampanye Pilpres 2024.

Meskipun ia membantah tindakan tersebut sebagai bagian dari kampanye politik, momen itu tetap menjadi perbincangan hangat.

Selain itu, pandangannya mengenai beberapa kebijakan atau isu keagamaan.

Baca Juga: Gus Miftah Beri Klarifikasi dan Permohonan Maaf Terkait Dugaan Penganiayaan Santri Ora Aji

Seperti pembatasan penggunaan pengeras suara masjid yang ia bandingkan dengan acara dangdutan, juga sempat memicu kontroversi dan perdebatan di masyarakat.

Rangkaian kontroversi yang menyertai Gus Miftah, termasuk dugaan penganiayaan di Pondok Pesantren Ora Aji yang saat ini ditangani, menggambarkan kompleksitas peran seorang tokoh agama di era modern.

Di satu sisi, ia adalah sosok yang ingin merangkul semua kalangan dengan caranya sendiri.

Baca Juga: Cek Syarat Bansos BSU Sebesar Rp600 Ribu Bakal Cair Juni 2025 dari Kemensos

Namun di sisi lain, setiap perkataan dan tindakannya selalu berada di bawah mikroskop publik, menuntut kehati-hatian dan sensitivitas.

Perjalanan kontroversial Gus Miftah menjadi cerminan bahwa menjadi panutan di tengah masyarakat yang beragam memerlukan lebih dari sekadar niat baik.

Ia juga menuntut pemahaman mendalam tentang etika komunikasi, batas-batas humor, dan dampak sosial dari setiap langkah yang diambil.***