POJOKSATU.id - Teknologi sudah siap. Produksi sudah bisa. Bahkan harganya jauh lebih murah.

Tapi ada satu hal yang masih menahan laju BOBIBOS, bahan bakar nabati beroktan tinggi buatan anak muda Indonesia infrastruktur energi nasional masih dikuasai oleh BBM fosil.

BOBIBOS, singkatan dari Bio Based Fuel for Indonesia Sustainable Solution.

Baca Juga: ASN Masuk ke 15 Golongan Yang Bisa Gratis Naik TransJakarta, MRT, dan LRT! Kok Bisa? Ini Alasannya!

M. Ikhlas Thamrin, pemuda asal Jonggol, Bogor, yang berhasil menciptakan bahan bakar RON 98 berbahan tanaman local.

Ia menyebut temuannya sebagai bahan bakar rakyat karena bisa diproduksi di desa, murah, dan ramah lingkungan.

Namun, seperti banyak inovasi lokal lainnya, BOBIBOS kini terancam mandek bukan karena gagal teknologi, tapi karena sistem energi yang belum siap berubah.


Infrastruktur BBM Fosil Masih Dominan

Ikhlas mengakui bahwa kendala utama bukan pada riset atau kualitas bahan bakar, melainkan pada rantai pasok dan distribusi energi nasional yang masih sepenuhnya berbasis fosil.

Baca Juga: Syarat PPG Daljab 2025 Bikin Kaget! Ternyata Banyak Guru Masih Salah Upload Berkas di SIMPATIKA!

Menurutnya, tanpa dukungan infrastruktur baru, BOBIBOS hanya akan hidup di laboratorium, bukan di jalanan.

Padahal, secara teknis, bahan bakar ini sudah lolos uji dari lembaga di bawah Kementerian ESDM dengan hasil RON 98 dan emisi karbon rendah.

Harga produksinya pun hanya sekitar Rp7.000 per liter, hampir setengah dari harga Pertamax Turbo.


Dari Sawah ke Jalan Raya

BOBIBOS diproduksi menggunakan sistem kilang mini di tingkat desa, dengan bahan baku tanaman lokal seperti jarak, kemiri, hingga singkong industri.

Namun untuk sampai ke pengguna, bahan bakar itu tetap membutuhkan sistem transportasi, penyimpanan, dan penjualan.

diperlukan jalur distribusi alternatif berbasis koperasi energi agar BOBIBOS bisa menembus pasar tanpa harus menunggu izin besar.

Baca Juga: Sosok Founder BOBIBOS M. Ikhlas Thamrin, Menolak Kenaikan BBM hingga Jadi Inovator Energi Mandiri Indonesia

Di Jonggol, timnya sudah memulai pilot project: satu kilang kecil yang memproduksi 5.000 liter per hari, lalu dijual langsung ke masyarakat sekitar.


Infrastruktur Raksasa yang Sulit Digeser

Pengamat energi Fathul Hadi menyebut masalah BOBIBOS bukan hal baru.

Selama puluhan tahun, Indonesia membangun sistem energi yang 100% didedikasikan untuk BBM fosil.

Baca Juga: Adilkah ? Fresh Graduate dan Pegawai Senior PPPK Paruh Waktu 2025 Digaji Sama, Ini Dalih Pemerintah

Menurutnya, perlu ada keberanian politik dari pemerintah untuk menciptakan ruang bagi energi baru terbarukan (EBT) seperti BOBIBOS.


Kebutuhan SPBU Hijau

Salah satu gagasan yang kini mulai dibicarakan adalah pembangunan SPBU hijau (Green Fuel Station) di daerah-daerah pilot project.

SPBU ini akan menyalurkan bahan bakar alternatif seperti BOBIBOS dengan sistem terbuka dan harga yang transparan.

Baca Juga: Eratkan Loyalitas dan Apresiasi Pasien, RS IZZA Karawang Sukses Gelar IZZA Privilege: Executive Patient Loyalty Forum

Selain itu, ia juga mengusulkan agar SPBU di daerah pertanian diberi mandat untuk menyediakan minimal satu dispenser untuk bahan bakar nabati.


Transportasi & Logistik Masih Jadi Beban

Selain infrastruktur penjualan, transportasi bahan bakar nabati juga masih terkendala.

Jaringan pipa BBM di Indonesia hanya bisa digunakan untuk bahan bakar fosil tertentu.

Baca Juga: Siapa Sebenarnya yang Dapat BLT Kesra? Publik Minta Daftar Penerima Dibuka

Jika BOBIBOS dimasukkan, perlu penyesuaian material dan proses filtrasi baru.

Akibatnya, pengiriman dari kilang ke pengguna masih mengandalkan truk tangki.

Padahal, bahan bakar ini seharusnya bisa diproduksi dan dijual lokal tanpa ongkos logistik besar.

Inilah yang membuat tim BOBIBOS terus mendorong konsep energi desentralisasi.


Peluang Besar di Daerah

Meski terhambat secara nasional, BOBIBOS justru mulai menarik perhatian pemerintah daerah.

Baca Juga: Siapa Sebenarnya yang Dapat BLT Kesra? Publik Minta Daftar Penerima Dibuka

Beberapa kepala daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara disebut telah menyatakan minat untuk mencoba sistem kilang mini ini.

Jika diterapkan di 10 daerah saja, sistem BOBIBOS diprediksi bisa menyerap ribuan tenaga kerja baru di sektor pertanian dan energi.


Pemerintah Diminta Buka Akses

Sejumlah pakar kini mendesak agar Kementerian ESDM dan BUMN energi membuka ruang pilot project resmi untuk bahan bakar bio lokal seperti BOBIBOS.

Baca Juga: Tips Make Up Anti Oksidasi, Rahasia Wajah Tetap Flawless Tanpa Kusam Seharian!

Menurut Fathul Hadi, tanpa dukungan kebijakan, transisi energi di Indonesia hanya akan jadi jargon.


Teknologi Sudah Siap, Sistem Harus Dibuka

BOBIBOS telah membuktikan bahwa inovasi energi bersih bisa lahir dari desa.

Secara teknologi, bahan bakar ini sudah teruji RON 98, emisi rendah, dan bisa digunakan di kendaraan umum tanpa modifikasi.

Tapi tanpa infrastruktur pendukung, inovasi ini akan terus terjebak dalam lingkaran riset tanpa realisasi.

Kini, bola panas ada di tangan regulator dan pelaku industri energi.

Apakah mereka siap membuka jalan bagi energi rakyat seperti BOBIBOS, atau tetap nyaman di zona BBM fosil yang sudah using.***