POJOKSATU.ID- Penulis fenomenal Andrea Hirata kini menghadapi tantangan baru yang tak kalah berat dari kesuksesan novelnya, Laskar Pelangi.

Setelah lebih dari dua dekade melegenda, sang novelis asal Belitung Timur kini tengah berjuang menyelamatkan bahasa Belitung yang terancam punah.

Perjalanannya tersebut yang bertajuk "Tour De Bahase Belitong" diunggahnya melalui akun instagram pribadinya @hirataandrea.

Krisis Bahasa Belitung di Era Modern

Bahasa daerah Belitung mengalami erosi yang terkikis. Generasi muda hampir tidak lagi menggunakan bahasa ibu mereka dalam percakapan sehari-hari.

 

Baca Juga: Langsung ke Rekening Guru, Prof Nunuk Buka-Bukaan Tantangan Penyaluran TPG 2025! Makanya Terlambat

Di warung-warung kopi yang dulunya ramai dengan percakapan dalam bahasa Belitung, kini hanya mendengar bahasa Indonesia atau bahasa asing.

Andrea Hirata mencatat fakta yang memprihatinkan: tahun 2025 ini saja, lebih dari 20 kata Belitung tidak lagi dikenal masyarakat setempat.

Dari penelitiannya, terdapat 400 kata benda yang hampir punah dari perbendaharaan bahasa daerah tersebut.

Misi Penyelamatan "Tour De Bahase Belitong"

Sejak 15 tahun terakhir, penulis Laskar Pelangi ini menjalankan misi mulia bernama "Tour De Bahase Belitong".

Menggunakan sepeda rongsokan peninggalan ayahnya, Andrea Hirata berkeliling ke pelosok Belitung Timur, membawa spanduk dan singgah ke berbagai tempat.

Baca Juga: Skema Baru Penyaluran TPG 2025, Dirjen Nunuk Bilang Langsung Masuk ke Rekening GURU Tanpa Lewat Daerah, Kapan TW2 Cair?

 

Program ini telah menyasar empat sekolah berikut.

- SDN 6 Gentong

- SDN 2 Gantong

- SMPN 1 Gantong

- SMAN 1 Gantong

Dalam setiap kunjungan, ia menguji pengetahuan siswa tentang kata-kata Belitung seperti "bedake", "kuwake", atau "melipe". Hasilnya mengejutkan: 90% siswa tidak mengenal kata-kata tersebut.

Kata "Melipe" yang Hampir Terlupakan

Salah satu kata yang paling mengharukan bagi Andrea Hirata adalah "melipe", sebuah ungkapan rasa simpanan yang paling dalam dalam bahasa Belitung.

“Melipe itu persaudaraan rasa penyembunyian yang paling sengsara,” jelasnya. Ironisnya, kata yang begitu berarti ini kini terdengar di telinga generasi muda Belitung.

Baca Juga: Sebelum Masuk Sumut, KPK Lebih Dulu OTT di Sumsel, Tersangkanya Juga Pejabat Dinas PUPR

 

Titik Balik Perjuangan Bahasa Ibu

Motivasi Andrea Hirata menyelamatkan bahasa ibu Belitung berawal dari nasihat orang tua.

"Percuma kau menulis buku kalau bahasa ibu ini tidak dikenal lagi," kenang Andrea mengutip pesan mendalam dari orang tuanya.

Keprihatinan ini semakin mendalam ketika ia melihat kecenderungan mengadopsi bahasa daerah lain dengan menambahkan akhiran 'e', yang kemudian diklaim sebagai bahasa Belitung asli.

Karya Sastra dalam Bahasa Belitung

Sebagai bentuk komitmen nyata, novelis Guru Aini ini mengungkapkan telah menerjemahkan Laskar Pelangi ke dalam bahasa Belitung.

Lebih dari itu, ia juga sedang menyiapkan kumpulan cerpen pertama dalam bahasa Belitung.

“Ada dua cerpen dalam bahasa Belitung yang sudah diungkapkan kepada penerbit,” ungkap Andrea Hirata.

 

Baca Juga: PLN Klaim Durasi dan Frekuensi Gangguan Listrik Menurun sepanjang 2024

Karya ini diharapkan dapat menjadi jembatan menjadi pengenalan bahasa Belitung kepada generasi muda.

Strategi Pelestarian Bahasa Daerah

Andrea Hirata pentingnya pelestarian bahasa daerah sebagai identitas bangsa. “Bahasa adalah identitas kita, kalau kehilangan identitas kita, kehilangan sejarah,” tegasnya.

Strategi utama yang diusulkan adalah mengintegrasikan bahasa Belitung ke dalam kurikulum sekolah dasar, layaknya bahasa Sunda yang diajarkan di sekolah-sekolah Jawa Barat.

Tantangan dan Harapan

Perjuangan Andrea Hirata ini bukan tanpa hambatan. Bahasa daerah tidak memiliki urgensi politik, tidak menghasilkan bisnis, dan tidak memberikan keuntungan pemilu.

Baca Juga: Sekolah Kedinasan 2025 Resmi Dibuka, Ini Daftar Formasi dan Cara Daftarnya

 

Namun, ia tetap gigih karena keyakinan bahwa bahasa lokal Indonesia adalah warisan yang harus dijaga.

“Selama 15 tahun ini saya ‘melipe’ (menderita), meningkatkan sepeda ayah, berjalan jauh, berhenti dari kampung ke kampung,” ungkap Andrea dengan tulus.

Perjuangan Andrea Hirata menyelamatkan bahasa Belitung adalah cerminan tantangan bahasa daerah yang terancam punah di seluruh Indonesia.

Dengan lebih dari 200 bahasa daerah yang terancam punah, upaya penyelamatan ini menjadi semakin mendesak.

Laskar Pelangi yang kini berusia 20 tahun telah membawa nama Belitung ke kancah nasional.

Kini saatnya generasi muda Belitung membalas budi dengan melestarikan bahasa yang telah melahirkan karya fenomenal tersebut.***