POJOKSATU.id- Video yang memperlihatkan warga Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, Aceh, mencuci pakaian di selokan kembali viral di berbagai platform media sosial.
Rekaman itu menjadi sorotan karena menggambarkan kondisi pilu masyarakat pascabanjir yang hingga kini masih kesulitan memperoleh air bersih meski genangan telah berangsur surut.
Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Pidie Jaya pada pekan lalu memang mulai mereda, namun dampaknya masih terasa kuat dalam aktivitas harian warga.
Banyak sumur terkontaminasi lumpur, jaringan air rusak, dan fasilitas sanitasi tidak bisa digunakan.
Situasi itu memaksa sebagian warga mencari alternatif, termasuk memanfaatkan aliran selokan untuk mencuci pakaian dan perlengkapan rumah.
Warga mengaku belum bisa kembali sepenuhnya menjalankan aktivitas normal karena persoalan air bersih belum teratasi.
Tidak sedikit keluarga kehilangan peralatan rumah tangga serta kebutuhan harian setelah rumah mereka terendam.
Baca Juga: Tips CPNS 2026! Memilih Instansi Sepi Peminat Berpeluang Tinggi Untuk Lolos Seleksi!
Sementara itu, kebutuhan dasar seperti air minum, bahan pokok, perlengkapan kebersihan, dan pakaian kering masih sangat terbatas.
Keterlambatan distribusi bantuan turut memperburuk keadaan. Sejumlah akses jalan sempat tidak bisa dilalui akibat lumpur tebal dan material kayu yang terbawa arus banjir.
Beberapa titik bahkan masih rawan karena kondisi tanah yang belum stabil.
Netizen pun merasa geram dengan pemerintah yang masih saja lamban dalam distribusi bantuan seperti bahan makanan atau pun air bersih.
Meski demikian, upaya pendistribusian logistik kini mulai berjalan bertahap setelah petugas BPBD dan relawan membersihkan jalur darurat.
Sejumlah warga berharap pemerintah daerah dapat mengutamakan suplai air bersih sebagai kebutuhan paling mendesak saat ini.
Mereka menilai pemulihan pascabanjir tidak sekadar soal menunggu surutnya air, tetapi juga memastikan masyarakat dapat melakukan kegiatan dasar tanpa risiko kesehatan.
Tokoh masyarakat setempat pun meminta agar pemerintah memberi perhatian lebih serius terhadap mitigasi jangka panjang.***


.webp)

