POJOKSATU.id, JAKARTA – Pengamat politik Dedi Kurnia Syah menilai ada 2 faktor yang mungkin membuat bergabungnya PDI Perjuangan dengan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) besutan Golkar, PAN dan PPP.

Pertama, Golkar tidak memiliki tokoh potensial yang bisa diusung sebagai calon presiden.

Faktor kedua adalah kesamaan visi-misi politik antara PDIP dan Golkar, meskipun dalam beberapa hal berbeda.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah, Minggu (15/1) mengatakan, nama Airlangga Hartarto yang menjadi capres dari Golkar ternyata lebih berpeluang mengisi peluang cawapres.

Sehingga, Golkar patut mencari sosok lain dari eksternal. Dedi juga menilai, partai anggota KIB yang lain yakni PPP dan PAN juga tidak mempunyai sosok yang kuat sebagai capres.

Baca Juga :

Soal Pendamping Anies Baswedan, Nasdem Akan Berikan Kejutan Bulan Depan

Mengacu ke hasil survei, kepopuleran Airlangga Hartarto hanya punya potensi maksimal di cawapres.

"Artinya potensi Golkar untuk mencari kandidat presiden itu tentu dari partai yang lain. Tidak mungkin juga disuplai oleh PAN atau bahkan PPP," ucap Dedi kepada wartawan, Minggu (15/1)

Faktor kedua lanjut Dedi, adalah kesamaan visi-misi politik antara PDIP dan Golkar, meskipun dalam beberapa hal berbeda.

Analisa Dedi, kedua partai itu cukup lama berada dalam satu gerbong koalisi sekaligus keduanya juga tidak mempunyai rekam konflik.

"Maka kemudian menjadi mungkin PDIP untuk berkoalisi dengan Golkar, dengan asumsi bahwa PDIP tetap memimpin koalisi," tutup pengamat politik ini. (ikror/rmol/pojoksatu)