Oleh: Sugeng Budiharsono

Beberapa waktu yang lalu viral tentang ulah seorang joki penunjuk jalan dari Bogor menuju Puncak yang melakukan scamming. Pada hari-hari Sabtu, Ahad dan hari libur biasanya jalan Bogor menuju Puncak macet. Sehingga banyak joki penunjuk jalan yang akan mengantarkan dari Bogor ke Puncak melalui "jalan tikus". 

Sebenarnya dengan menggunakan aplikasi penunjuk jalan kita dapat melakukannya sendiri untuk melalui "jalan tikus" ini. Namun pengalaman membuktikan bahwa aplikasi penunjuk jalan ini seringkali tidak tepat. Sehingga digunakanlah jasa joki penunjuk jalan yang tentu sudah hafal rutenya. 

Pada kasus viral tersebut, joki penunjuk jalan melakukan tindak pemerasan, dengan meminta bayaran berlipat-lipat dari biasanya.  Tentu tindakan ini akan membuat kapok para wisatawan yang hendak menikmati suasana di Puncak. Hal ini tentunya akan merugikan wisata di Puncak, dan Bogor pada umumnya. Untungnya aparat keamanan segera bertindak cepat untuk menangani hal tersebut.

Fenomena ini seharusnya tidak perlu terjadi apabila Pemda setempat membina dan memanfaatkan para joki ini sebagai "guide lokal". Para joki dididik sebagai guide lokal, dan para guide lokal ini bekerjasama dengan hotel, vila, tempat penginapan,  restoran, kafe dan lain sebagainya. Apabila guide lokal ini mengantarkan tamu/wisatawan ke tempat mereka. Maka mereka akan memberikan insentif kepada guide lokal. Pemda Bogor dapat belajar dari Yogyakarta, dimana para tukang becak akan mengantarkan tamu wisatawannya dengan tujuan tertentu dengan harga murah 

Membangun wisata memang bukan sekedar membangun objek wisata atau sarana dan prasarananya saja. Juga bukan dibiarkan apa adanya berjalan secara alamiah. Tetapi ada peran Pemda dan stakeholder lainnya. Banyak hal lain yang perlu dipersiapkan misalnya mindset orang-orangnya dan meningkatkan kualitas  sumber daya manusianya (SDM).

Tulisan ini membahas mengenai maraknya pengembangan desa-desa wisata, namun kalau tidak dibangun dengan baik dan sekedar ikut-ikutan malah jadi mubasir  Pada Juli 2024, menurut Kementerian Pariwisata dan Parekraf, jumlah desa wisata di Indonesia sebanyak 6.016 desa, atau sebesar 8 persen dari total desa yang ada. Ini tentu jumlah yang besar. Aset wisata yang besar ini perlu dikembangkan dengan baik, agar dapat bermanfaat secara optimal bagi masyarakat, pemerintah desa dan pemerintsh daerahnya. 

Membangun Mindset dan SDM

Dalam pengembangan desa wisata tidak sekedar memperhatikan 5A, yaitu Atraksksi, Aksesibilitas, Aktivitas, Akomodasi, dan Aman. Memang 5A adalah lima elemen penting dalam mengembangkan destinasi wisata. namun juga perlu memperhatikan hal lain yang penting yaitu _mindset_ masyarakat dan SDMnya.

Atraksi adalah daya tarik unik dan menonjol yang membuat tempat menjadi menarik. Contohnya, keindahan alam, warisan budaya, atau wahana hiburan modern. Akomodasi adalah tempat tinggal yang nyaman dan sesuai dengan kebutuhan wisatawan. Contohnya, hotel mewah, vila eksklusif, atau penginapan sederhana.

Aksesibilitas adalah infrastruktur transportasi yang baik, seperti jalan raya, bandara, atau sarana transportasi publik lainnya. Aktivitas adalah elemen yang memberikan warna pada perjalanan wisata, seperti petualangan alam, wisata belanja, atau kegiatan budaya. Aman adalsh faktor utama yang memengaruhi keputusan wisatawan dalam memilih destinasi.

Sebagai suatu destinasi wisata, mindset masyarakatnya tentu harus bisa "melayani" dengan santun. Untuk dapat melayani dengan santun tentu masyarakat harus diberi pemahaman tentang pentingnya wisata dan juga tentang obyek-obyek wisata yang ada di daerahnya. Sehingga setiap warga dapat memberi penjelasan dengan baik tentang wisata yang ada juga tentang lokasinya, jika ditanya oleh wisatawan.

Kesiapan SDM juga tidak kalah pentingnya. Sebagai contoh apabila akan mengembangkan wisata kuliner kopi, tentu harus disiapkan baristanya. Juga kalau akan dibangun homestay maka harus disiapkan pengelola homestay-nya. Disinilah peran pemerintah desa dan Pemda untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas masyarakatnya.

Pengubahan mindset ini merupakan rekayasa sosial. Biasanya memerlukan waktu yang lama. Demikian juga dengan peningkatan kapasitas dan kapabilitas SDM. Sehingga pengubahan mindset dan peningkatan kapasitas dan kapabilitas SDM dilakukan sebelum pengembangan wisata, atau minimal dilakukan secara simultan pada saat pengembangsn wisata. Jadi jangan sampai pengubahan mindset dan peningkatan  kualitas SDM dilakukan setelah pengembangsn wisata. Sehingga kasus scamming joki penunjuk jalan atau hal-hal yang merugikan tidak akan terjadi. 

Mengembangkan wisata yang unik

Semakin banyak desa wisata, maka akan semakin banyak pesaing.  Agar bisa bersaing, maka desa wisata yang dikembangkan harus lebih baik dari yang lain dan berbeda dengan yang lain. Namun berbeda bukan berarti nyleneh. Kalau nyleneh malah orang tidak mau mendatanginya. Sebenarnya ada hal yang tidak dapat disangka, apabila destinasi wisatanya bersifat unik. Apa itu dari bentang alam, proses pembentukan bentang alam, kehidupan sosial budaya, peninggalan sejarah dan kesejarahan, dan lain sebagainya. Di Indonesia banyak memiliki hal unik, misalnya fauna dan flora endemik seperti komodo, orang utan, anoa, babi rusa, bunga bangkai dan lain sebagainya 

Indonesia juga memiliki peninggalan sejarah yang unik seperti candi Borobudur, candi Prambanan, situs Gunung Padang. Atau peristiwa geologis yang terkait dengan sejarah dunia, seperti letusan Gunung Tambora, yang mempengaruhi sejarah dunia. Letusan Gunung Tambora mempengaruhi iklim dunia, berupa musim dingin yang lebih lama. Hal ini menjadi penyebab kekalahan Napoleon Bonaparte di Waterloo. Juga ada hal unik lainnya misalnya di kawah Gunung Ijen, terdapat api biru (blue flare) pada dini hari sampai menjelang fajar. Hal unik lainnya seperti kehidupan sosial budaya yang ada di Bali dan Yogyskarta. Atsu ritual mayat berjalan di Tana Toraja. 

Hal-hal unik inilah yang harus dikembangkan. Karena hal ini tidak dapat disaingi baik di aras lokal, nasional, maupun internasional.  Sehingga wisata ini tidak lekang oleh zaman. Apalagi di era digital, banyak dikembangkan wisata online, dan lain sebagainya 

Berbasis Klaster Wisata

Apabila kita berkunjung ke suatu desa wisata, biasanya hanya beberapa jam lalu pulang kembali. Padahal diharapkan wisatawan tinggal lebih lama dan mengeluarkan uang yang banyak. Tetapi karena atraksi dan aktivitas wisata yang terbatas, dari sebuah desa wisata tersebut, mengakibatkan wisatawan hanya datang beberapa jam atau paling lama mengenal satu hari.

Agar wisatawan lebih lama tinggal, sehingga diharapkan lebih banyak pengeluarannya, maka disarankan untuk membentuk klaster wisata. Klaster wisata adalah pengembangan wisata terpadu pada suatu unit geografi yang terkait dengan aktivitas lainnya seperti pertanian, perkebuan, perikanan, peternakan, dan  industri kreatif dengan melibatkan para pelaku usaha, pemerintah, dunia pendidikan/penelitian dan mitra pembangunan.

Unit geografi di sini berupa lebih dari dua desa/kelurahan yang saling berbatasan dan terkait secara fungsional. Sebagai contoh klaster wisata adalah sebagai berikut, misal Desa A memiliki obyek/destinasi wisata alam, dapat digabungkan dengan Desa B yang memilki wisata pertunjukan  budaya, dan digabungkan Desa Y yang memiliki homestay dan suasana alamnya enak. Dapat juga digabungkan Desa Z yang memiliki wisata kuliner dan suvenir, dan lain sebagainnya. Dengan banyaknya desa yang memiliki banyak aktivitas, maka wisatawan akan semakin lama tinggal di klaster wisata tersebut 

Terwujudnya klaster wisata ini apabila seluruh desa/klaster merasa memiliki posisi yang sama dan saling membutuhkan untuk berkolaborasi. Jangan sampai desa yang sudah berkembang wisatanya merasa lebih hebat 

Klaster harus ada manajemen yang mengelola, agar tidak terjadi gontok-gontokan antar desanya. Pengelola klaster berasal dari para pelaku usaha, guide, pokdarwis, ketua BUMDES, dan sebagainya. Para pengelola  ini diharapkan berasal dari local chsmpion/local hero, sehingga mereka ikhlas membangun klaster tersebut. Klaster kemudian dapat membentuk badan usaha seperti koperasi, perseroan terbatas, maupun BUMDESMA.

Adanya klaster akan memudahkan dalam mengelola merek tempat (place brand) maupun mempromosikan dan memasarkanntanya. Menurut Michael E. Porter, dengan adanya klaster, maka daya saing akan semakin meningkat. Jadi seluruh desa yang tergabung dalam klaster akan menerima manfaat yang lebih besar, daripada hanya desa secara individual. Sebagai pembelajaran baik (best practices) misalnya klaster wisata mangrove di dekat Lagoi Bintan. Klaster wisata yang terdiri dari lima desa usahanya dilakukan oleh beberapa yayasan yang masing-masing berdiri sendiri, sebagai operator wisata mangrove tersebut. Pembentukan klaster ini murni dari masyarakat. ***

Pengamat sosial ekonomi dan politik