Karawang, POJOKSATU.id - Sisa makanan, daun kering, dan botol plastik di lingkungan pesantren berpotensi menjadi sumber daya yang bermanfaat jika dikelola dengan tepat.
Melalui program Agro Santri, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) melalui Fuel Terminal (FT) Cikampek mengajak para santri menerapkan ekonomi sirkular dengan mengolah sampah menjadi produk bernilai guna sekaligus mendukung kemandirian pesantren.
Langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan Kelas Farming di Pondok Pesantren Hidayatul Burhan, Karawang, pada Jumat (16/10/2026), yang diikuti oleh 16 siswa SMP.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Prakarsa Bagja Juara.
Bersama Local Hero Endang Sutisna dan Community Development Officer (CDO), para santri mendapatkan edukasi dan pendampingan untuk mengolah limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat.
Dalam kegiatan tersebut, para santri mempelajari penerapan prinsip 4R (Reduce, Reuse, Recycle, dan Rot). Sisa makanan dan daun kering diolah menjadi kompos serta dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas.
Sementara itu, botol plastik dikumpulkan melalui bank sampah untuk menambah kas kobong atau asrama santri. Sebagian botol plastik juga dimanfaatkan kembali sebagai wadah tanam sayuran.
Penerapan ekonomi sirkular ini memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan mendukung kemandirian pesantren.
Setiap bulan, sekitar 15-20 kg sampah organik diolah menjadi kompos dengan hasil sekitar 50 kg serta dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas.
Sementara itu, bank sampah asrama mengumpulkan sekitar 10-15 kg botol plastik yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai pot vertikal untuk budi daya sayuran hidroponik dan organik.
Selain itu, pemanfaatan biogas membantu menghemat penggunaan LPG setara dengan 4-5 tabung berukuran 3 kg per bulan. Budi daya sayuran juga turut menekan anggaran belanja sayur pesantren sekitar 20-30%.
Sementara itu, penjualan botol plastik menghasilkan tambahan kas kamar asrama (kobong) sekitar Rp50.000-Rp150.000 per bulan.
Ketua Santri Buana Pondok Pesantren Hidayatul Burhan, Iqbal, menyampaikan bahwa kegiatan ini mengubah cara pandang para santri terhadap sampah.
“Dulu kami menganggap sampah itu bau dan tidak berguna. Sekarang, kami tahu bahwa sampah bisa menjadi uang kas untuk kobong. Kami belajar memilah sampah, mengolah sampah organik menjadi kompos, dan menjaga lingkungan agar tetap asri,” ujar Iqbal.
Kepala Sekolah SMP Pondok Pesantren Hidayatul Burhan, Jaenal Apip, mengapresiasi program Agro Santri yang mendukung pengembangan keterampilan para santri.
“Ponpes Hidayatul Burhan memiliki tiga pilar santri tangguh, salah satunya yaitu Life Skill Farming. Alhamdulillah, dengan adanya program Agro Santri dari Pertamina, kami semakin percaya diri untuk mencetak generasi Islam yang tidak hanya unggul dalam pendidikan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Jaenal.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB, Reno Fri Daryanto, menyatakan bahwa program ini merupakan salah satu upaya Pertamina dalam menerapkan prinsip ekonomi sirkular di lingkungan pesantren.
“Melalui Agro Santri, kami ingin mendorong para santri untuk melihat sampah sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali. Program ini diharapkan dapat membangun keterampilan dan kemandirian santri melalui praktik pertanian dan pengelolaan sampah yang memberikan manfaat nyata,” ujar Reno.
Program Agro Santri sejalan dengan semangat Asta Cita Presiden Republik Indonesia dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia, mendorong kemandirian, serta menjaga kelestarian lingkungan melalui penerapan ekonomi sirkular sejak dini.






