POJOKSATU.id, KARAWANG – Menjelang waktu berbuka puasa, ketika sebagian orang mulai menanti kumandang adzan Maghrib, seorang pemuda di sudut Tanjung, Kelurahan Plawad, Karawang Timur justru masih berjuang di jalanan.

Pemuda itu bernama Tamin (24). Dengan kondisi fisik yang terbatas, ia setiap hari mendorong gerobak untuk berjualan takjil demi membantu perekonomian keluarga.

Di bulan suci Ramadan, saat banyak orang menahan lapar dan dahaga, Tamin justru harus bekerja lebih keras dari biasanya. Sekitar pukul 15.00 WIB, ketika terik matahari Karawang masih terasa menyengat, ia mulai mendorong gerobak kayu berwarna hijau-kuning miliknya.

Langkahnya tampak tidak simetris. Kakinya sedikit terseret saat berjalan di atas aspal panas. Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk menempuh perjalanan dari Tanjung menuju Prapatan Plawad.

Baca Juga: Remaja 17 Tahun Ditemukan Tewas di Irigasi Jayakerta Karawang

Bagi Tamin, jalanan yang dilaluinya setiap hari bukan sekadar tempat berdagang, tetapi juga ruang perjuangan untuk menjemput rezeki halal.

Menjalani puasa dengan kondisi fisik yang tidak sempurna tentu bukan perkara mudah. Namun bagi Tamin, rasa haus dan lelah seolah tidak berarti jika dibandingkan dengan satu keinginannya, yakni melihat sang ibu hidup lebih tenang.

Meski kemampuan bicaranya terbatas, tekad Tamin tergambar jelas dari perbuatannya setiap hari.

Ibunda Tamin menuturkan, anaknya dikenal sebagai sosok yang memiliki tekad kuat dan tidak pernah ingin bergantung pada orang lain.

“Dia itu keras pendiriannya. Tidak mau hanya diam di rumah. Modal dagang semuanya dari hasil kerja sendiri. Uangnya pun lebih sering dipakai untuk beli beras buat saya,” ujar sang ibu dengan mata berkaca-kaca, Kamis (5/3/2026).

Baca Juga: Bupati Karawang Minta BKPSDM Data Kehadiran Kabid-Sekdis Saat Tarling

Di atas gerobak sederhana miliknya, Tamin menjajakan berbagai buah segar dan camilan yang biasa diburu warga sebagai menu berbuka puasa.

Bagi sebagian orang, jajanan tersebut mungkin hanya sekadar pelepas dahaga setelah seharian berpuasa. Namun bagi Tamin, setiap rupiah yang ia dapatkan memiliki arti yang jauh lebih besar.

Ia menabung sedikit demi sedikit dengan harapan suatu hari bisa membangun rumah yang layak untuk kedua orang tuanya.

Aktivitas berdagang biasanya baru selesai ketika malam sudah larut. Saat suasana masjid mulai sepi setelah salat tarawih dan tadarus, Tamin baru memutar arah untuk pulang.

Di bawah cahaya lampu jalan yang temaram, sosoknya yang berjalan perlahan sambil mendorong gerobak menjadi gambaran perjuangan seorang anak yang ingin membalas kasih sayang orang tuanya.

Di balik semua usahanya itu, Tamin juga menyimpan sebuah harapan sederhana di bulan Ramadan ini. Ia ingin suatu hari bisa bertemu dengan Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh.

Keinginan tersebut bukan untuk meminta belas kasihan ataupun bantuan. Tamin hanya ingin menunjukkan bahwa di Karawang ada seorang pemuda dengan keterbatasan fisik yang tetap memilih untuk bekerja keras dan hidup mandiri.

Lebih dari itu, Ramadan juga menjadi momen untuk memperkuat rasa syukur, kerja keras, serta bakti kepada orang tua, bahkan di tengah segala keterbatasan. ***