POJOKSATU.id, KARAWANG - Fenomena ikan mabuk yang muncul di aliran Sungai Citarum, wilayah Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang, mengundang perhatian masyarakat sekaligus memicu berbagai spekulasi mengenai penyebabnya.

Merespons laporan warga yang viral di sejumlah grup media sosial, Satgas Citarum Harum Sektor 10 bergerak cepat melakukan penelusuran langsung ke lokasi pada Senin (6/7/2026).

Investigasi lapangan dipimpin langsung Dansektor 10 Satgas Citarum Harum, Kolonel Inf Satyo Aryanto. Kegiatan tersebut turut melibatkan petugas Patroli Sungai Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karawang, Sham, serta perwakilan Health Safety Environment (HSE) PT Pindodeli 1, Cikal.

Fenomena ikan yang terlihat lemas dan mengapung di permukaan air sempat memunculkan dugaan adanya pencemaran limbah industri. Namun hasil pengamatan awal tim gabungan menunjukkan bahwa penyebabnya belum dapat disimpulkan secara pasti.

Dari hasil pemantauan yang dilakukan sekitar pukul 10.11 WIB, kondisi alam disebut menjadi salah satu faktor yang paling memungkinkan memicu kejadian tersebut.

Baca Juga: Dandim Karawang Perintahkan Babinsa Jadi Solusi Warga, Kawal Ketat Program Presiden

Musim kemarau yang berlangsung cukup panjang menyebabkan debit air Sungai Citarum mengalami penurunan signifikan. Kondisi ini membuat kualitas lingkungan perairan berpotensi berubah dan berdampak terhadap kehidupan biota sungai.

Data teknis dari Bendung Walahar pada pukul 10.00 WIB menunjukkan keempat pintu air bendungan berada dalam kondisi tertutup total tanpa adanya buangan air ke aliran sungai.

Pada saat yang sama, pasokan air yang masuk ke sungai hanya berasal dari limpasan sebesar 11.364 mkpd dan rembesan atau kebocoran kecil sebesar 0.050 mkpd. Ketinggian muka air di bagian hilir tercatat berada pada level 09.00 mdpl.

Menurut Kolonel Inf Satyo Aryanto, kondisi tersebut dapat berdampak langsung terhadap kadar oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) di dalam air.

"Penurunan debit air ini berpotensi menurunkan kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) di dalam air. Akibatnya, ikan-ikan mengalami stres, lemas, dan tampak mabuk di permukaan," ujarnya.

Baca Juga: Lomba Kicau Mania HUT Bhayangkara ke-80 di Cirebon Meriah, Dongkrak UMKM dan Pererat Silaturahmi

Meski faktor alam menjadi dugaan kuat, Satgas Citarum Harum tidak menutup kemungkinan adanya faktor lain yang turut berpengaruh.

Saat debit air sungai menurun drastis, kemampuan alami sungai untuk mengencerkan limbah industri maupun limbah domestik menjadi jauh berkurang. Akibatnya, konsentrasi zat pencemar yang sebelumnya masih dalam batas aman berpotensi meningkat.

Karena itu, seluruh sumber pencemar di sepanjang aliran sungai tetap menjadi perhatian dan pengawasan.

Menanggapi asumsi sebagian masyarakat yang mengaitkan fenomena tersebut dengan aktivitas PT Pindodeli 1, tim gabungan memberikan penjelasan berdasarkan hasil penelusuran lapangan.

Dari hasil pemeriksaan visual di beberapa titik sungai, ikan yang mengalami kondisi mabuk ternyata sudah ditemukan sebelum aliran air melewati saluran pembuangan air limbah atau outfall milik PT Pindodeli 1.

Temuan tersebut membuat dugaan bahwa sumber masalah berasal dari pembuangan limbah perusahaan belum dapat dibuktikan secara langsung.

"Secara visual belum bisa disimpulkan bahwa fenomena ini berasal dari saluran pembuangan PT Pindodeli 1 karena ikan mabuk sudah ditemukan sebelum titik outfall perusahaan," ungkap tim investigasi.

Untuk memastikan penyebab sebenarnya, Satgas Citarum Harum merekomendasikan sejumlah langkah lanjutan yang harus segera dilakukan.

Kolonel Inf Satyo Aryanto menyebut sedikitnya terdapat empat langkah penting yang perlu menjadi perhatian seluruh pihak terkait.

Pertama, melakukan pengujian laboratorium terhadap sampel air guna mengetahui parameter ilmiah secara akurat. Kedua, memperkuat pemantauan kualitas air secara berkala selama musim kemarau berlangsung.

Ketiga, meningkatkan pengawasan terhadap seluruh potensi sumber pencemar yang berada di sepanjang bantaran Sungai Citarum. Keempat, menindaklanjuti hasil laboratorium sebagai dasar penegakan aturan dan langkah penanganan berikutnya apabila ditemukan pelanggaran.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karawang memilih bersikap hati-hati dan tidak ingin terburu-buru menyimpulkan penyebab kejadian tersebut.

Petugas Patroli Sungai DLH Karawang, Sham, mengatakan pihaknya segera mengambil sampel air di sejumlah titik strategis untuk diuji di laboratorium resmi.

Pengambilan sampel dilakukan di wilayah hulu sungai, sebelum titik outfall, hingga bagian hilir guna mendapatkan gambaran kondisi kualitas air secara menyeluruh.

Langkah tersebut diharapkan mampu menjawab berbagai spekulasi yang berkembang di tengah masyarakat sekaligus memastikan penyebab fenomena ikan mabuk berdasarkan data ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Saat ini masyarakat diimbau tetap tenang dan menunggu hasil resmi uji baku mutu air dari Dinas Lingkungan Hidup Karawang. Hasil laboratorium nantinya akan menjadi dasar utama untuk menentukan apakah fenomena tersebut murni dipicu faktor alam, penurunan kualitas air akibat kemarau, atau terdapat faktor lain yang turut memengaruhinya. ***