POJOKSATU.id, JEMBER – Julukan Kabupaten Jember sebagai daerah rawan bencana kini "naik kelas". 

Jika dulu wilayah ini kerap diistilahkan sebagai supermarket bencana, kini intensitas peristiwa alam yang meroket membuat Jember layak disebut sebagai hipermarket bencana.

Pasalnya, berdasarkan rekapitulasi data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember sepanjang semester pertama tahun ini (1 Januari hingga 30 Juni 2026), Jember telah dihantam sebanyak 345 kejadian bencana.

Baca Juga: Prabowo Ajak Indonesia Belajar dari India, Sebut Demokrasi Kuat Lahir dari Keberagaman

Rinciannya terdiri dari 274 bencana alam yang didominasi faktor hidrometeorologi (banjir, longsor, angin kencang akibat puncak musim hujan) serta 71 insiden bencana non-alam.

Merespons kondisi darurat tersebut, BPBD Jember langsung tancap gas mempercepat program pembentukan Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana (Destana-Keltana) sebagai garda terdepan mitigasi di tingkat akar rumput.

Langkah paling anyar diperlihatkan dengan dikukuhkannya Destana Kelurahan Sempusari, Kecamatan Kaliwates, pada Rabu, 8 Juli 2026 pagi.

Baca Juga: Prabowo Ajak Indonesia Belajar dari India, Sebut Demokrasi Kuat Lahir dari Keberagaman

Pengukuhan ini dihadiri langsung oleh Tenaga Ahli BPBD Provinsi Jatim Bige Agus Wahjuono, perwakilan Komisi E DPRD Hadinudin, pihak kelurahan, serta jajaran Muspika setempat.

Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, memaparkan bahwa dari total 248 desa dan kelurahan di Jember (terdiri atas 226 desa dan 22 kelurahan), saat ini baru ada 178 Destana-Kelana yang resmi terbentuk.

Artinya kink masih ada 70 desa dan kelurahan yang posisi strukturnya belum terbentuk.

Baca Juga: Antisipasi El Nino dan Risiko Dampak Panas Ekstrim, Kementan Siapsiagakan Penyuluh Hadapi Dampaknya

"Kami menargetkan pada akhir September nanti, seluruh 248 desa dan kelurahan di Jember sudah 100 persen memiliki struktur Destana-Kelana," ujar Edy Budi Susilo.

Akselerasi ini dinilai sangat krusial mengingat keterbatasan personel internal BPBD Jember yang saat ini hanya berjumlah sekitar 60 orang. 

Padahal, mereka harus mengover wilayah geografis yang luar biasa luas mencapai 3.500 kilometer persegi.

Masalah jarak dan waktu tempuh sering kali menjadi kendala fatal dalam penanganan darurat. 

Edy mencontohkan, jika terjadi bencana di wilayah Kencong, Tim Reaksi Cepat (TRC) membutuhkan waktu perjalanan hingga 1,5 jam dari markas komando untuk sampai ke lokasi.

Baca Juga: Menilik Peta Pendidikan Tinggi, Pulau Jawa Masih Dominasi Jumlah Mahasiswa Baru Terbanyak di Indonesia

"Di sinilah Destana dan para relawan lokal mengambil peran penting untuk melakukan penanganan awal secara cepat," jelas Edy.

Tak sekadar membentuk struktur, BPBD Jember juga telah menyalurkan berbagai aset penunjang darurat, seperti mesin gergaji (chainsaw) hingga alat evakuasi demi memupuk kemandirian posko lokal.

Apalagi saat ini sedang memasuki musim kemarau di mana intensitas bencana hidrometeorologi menurun, BPBD gencar turun ke lapangan untuk melakukan sosialisasi dan edukasi mitigasi.

Baca Juga: Sayangkan Pertemuan dengan Kedua Putrinya di Bandara saat Hendak Umrah, Ruben Onsu Sebut Reaksi Buah Hatinya Berbeda

Setelah target 100 persen Destana rampung di bulan September, BPBD Jember bersiap melangkah ke tahap berikutnya, yaitu membentuk Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana) pada akhir Desember 2026 sesuai instruksi Kemendagri.

Seluruh integrasi kekuatan relawan ini rencananya akan dipamerkan dalam sebuah apel besar kesiapsiagaan bencana di Alun-Alun Jember pada tahun 2027 mendatang. ***