POJOKSATU.id, Penerapan ketentuan berpakaian yang berlandaskan prinsip sekularisme di Azerbaijan memicu penolakan dari kalangan pelajar hingga tenaga pengajar.

Pada Sabtu (10/10/2026), sejumlah siswa dilaporkan turun ke depan sekolah untuk menyuarakan keberatan mereka, disertai aksi boikot pembelajaran sebagai respons terhadap dugaan pembatasan pemakaian hijab.

Dilansir dari Al Jazeera, video yang tersebar di berbagai platform media sosial merekam aksi para siswa di sejumlah sekolah.

Demonstrasi tersebut diduga berkaitan dengan pemberlakuan aturan seragam atau pakaian sekolah yang disebut berdampak terhadap perempuan berhijab, baik yang berstatus sebagai pelajar maupun guru.

Isu ini turut menjadi sorotan lantaran Islam merupakan agama yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Azerbaijan.

Jumlah pemeluk Islam di negara tersebut diperkirakan mencapai sekitar 96 persen dari total penduduk.

Sebuah rekaman yang beredar di media sosial juga menunjukkan seorang anak menangis ketika mengungkapkan nasib gurunya.

Dalam keterangannya, anak tersebut menceritakan bahwa gurunya tidak lagi menjalankan tugas mengajar setelah dipermasalahkan karena mengenakan hijab.

Di sisi lain, aturan berpakaian yang diberlakukan pemerintah tidak disebut secara langsung mencantumkan larangan terhadap penggunaan hijab.

Namun, sejumlah tenaga pendidik mengaku mendapatkan tekanan untuk menentukan pilihan antara tetap mengenakan hijab atau melanjutkan profesi mereka di sekolah.

Salah satu guru yang menyuarakan penolakannya ialah Zahra Hasanova.

Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap situasi tersebut dan berharap setiap perempuan dapat menentukan pilihan terkait penggunaan hijab berdasarkan kehendaknya sendiri, tanpa paksaan dari pihak lain.

"Sejujurnya, saya sedikit emosional dan merasa terluka. Saya ingin kebebasan untuk mengenakan hijab. Ini adalah pilihan pribadi. Jika suatu hari saya ingin melepasnya, itu juga seharusnya menjadi pilihan saya," kata Zahra.

Sikap menentang dugaan pembatasan penggunaan hijab juga datang dari seorang pelajar perempuan bernama Karbalayi Khadijah.

Pernyataannya beredar setelah akun Instagram @doamuslims membagikan video yang menampilkan dirinya.

Dalam rekaman tersebut, Khadijah memperkenalkan diri sebagai anak dari Emin, yang disebutnya telah gugur sebagai martir.

Ia kemudian menjelaskan bahwa keputusan untuk mengenakan hijab telah diambilnya sejak usia dini, bukan karena mengikuti keinginan orang lain.

Khadijah mengungkapkan bahwa dirinya mulai berhijab pada usia sembilan tahun atas dasar kemauan pribadi.

Ia juga menolak anggapan bahwa penggunaan hijab menjadi penghalang untuk memperoleh pendidikan dan mengikuti kegiatan akademik di sekolah.

Baginya, mengenakan hijab tidak bertentangan dengan kecintaannya terhadap dunia pendidikan.

Khadijah turut menyampaikan bahwa dirinya memiliki hubungan baik dengan para guru dan teman-teman sekelasnya.

Pernyataan tersebut menjadi bentuk penegasan Khadijah atas pilihannya untuk tetap mengenakan hijab.

Ia menyampaikan bahwa penutup kepala yang dipakainya merupakan sesuatu yang dibanggakan dan tidak ingin ditinggalkannya.

"Hijab adalah kebanggaan saya! Saya tidak akan pernah melepas hijab saya!" tegas Khadijah.***