POJOKSATU.id, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mendorong negara-negara anggota ASEAN membangun pola kerja sama regional untuk mengatasi persoalan kabut asap lintas negara yang dipicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Dorongan tersebut muncul di tengah meluasnya dampak kabut asap yang mulai mengganggu sejumlah negara Asia Tenggara, salah satunya Malaysia.

Selain berisiko terhadap kesehatan warga, kondisi kualitas udara yang memburuk juga berdampak pada aktivitas pendidikan hingga membuat sejumlah sekolah di Malaysia harus ditutup.

Anwar menegaskan bahwa pemerintah Malaysia terus mengikuti perkembangan situasi karhutla di Indonesia.

Pihaknya juga membuka peluang untuk memberikan dukungan tambahan guna membantu proses pemadaman kebakaran.

Anwar menyatakan kesiapan Malaysia untuk kembali menawarkan bantuan kepada Indonesia.

"Oleh karena itu, dalam semangat persatuan dan hubungan erat di antara negara-negara tetangga, Malaysia percaya bahwa tantangan terkait perbatasan harus ditangani dengan sungguh-sungguh dan tanggung jawab bersama," kata Anwar.

Ia berpandangan bahwa persoalan kabut asap yang melintasi wilayah negara tidak bisa ditangani secara terpisah.

Menurutnya, dibutuhkan koordinasi yang terarah, persiapan yang matang, serta keterlibatan seluruh negara ASEAN untuk menghadapi dampak yang ditimbulkan.

Sebagai salah satu langkah yang diusulkan, Malaysia mendorong terbentuknya mekanisme regional yang memungkinkan negara-negara ASEAN memperkuat koordinasi dan menyelaraskan tindakan dalam menghadapi kabut asap lintas batas.

Anwar turut menyoroti langkah pemerintah Indonesia yang telah menerjunkan puluhan ribu personel serta mengoperasikan sejumlah sarana udara untuk menangani kebakaran di berbagai wilayah.

Meski demikian, upaya pemadaman masih menghadapi kendala.

Cakupan area kebakaran yang luas dan perubahan kondisi cuaca menjadi faktor yang dapat menyulitkan petugas dalam mengendalikan api.

Menghadapi situasi tersebut, Anwar menilai diperlukan kepedulian bersama dari negara-negara di kawasan, mengingat dampak karhutla dapat meluas hingga ke wilayah di luar negara tempat kebakaran terjadi.

Ia juga mengajak negara-negara Asia Tenggara memperkuat semangat solidaritas antarnegara tetangga.

Kerja sama dinilai penting agar setiap negara dapat saling mendukung ketika menghadapi bencana yang berpotensi memengaruhi kawasan secara luas.

Anwar menambahkan, perlindungan terhadap kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat perlu menjadi pertimbangan utama dalam menentukan langkah penanganan kabut asap.

Di sisi lain, pemerintah Malaysia berencana membawa persoalan kabut asap lintas batas ke forum pertemuan para menteri luar negeri ASEAN menjelang penyelenggaraan KTT ASEAN ke-49 di Manila, Filipina, pada November 2026.

Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan menyampaikan bahwa persoalan kabut asap perlu dibahas secara khusus.

Pasalnya, masalah tersebut belum tercakup dalam mekanisme ASEAN yang selama ini digunakan untuk menangani bencana alam.

Komunikasi antara Indonesia dan Malaysia mengenai penanganan karhutla juga telah dilakukan melalui koordinasi kementerian serta lembaga yang berkaitan dengan persoalan tersebut.

Dampak karhutla kini menjadi perhatian bersama karena persoalannya tidak berhenti pada wilayah yang mengalami kebakaran.

Asap yang terbawa angin dapat menyebar ke negara-negara sekitar dan mengganggu kualitas udara serta kehidupan masyarakat lintas batas.

Melalui mekanisme kerja sama yang diusulkan Malaysia, negara-negara ASEAN diharapkan memiliki koordinasi yang lebih terstruktur untuk menghadapi persoalan kabut asap.

Upaya tersebut juga diharapkan dapat memperkuat kesiapan kawasan dalam merespons kejadian serupa pada masa mendatang.***