POJOKSATU.id - Beberapa daerah di Sumatera Utara (Sumut) memiliki cerita sejarah masa perjuangan. Salah satunya adalah Kotanopan yang ada di Kabupaten Mandailing Natal (Natal).
Kotanopan dikenal juga dengan kota pejuang dan pendidikan. Pasalnya kecamatan ini, banyak melahirkan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan walaupun namanya tidak tercatat dalam buku sejarah Indonesia.
Berikut ini, deretan bukti sejarah jejak pejuang kemerdekaan di Kotanopan:
Baca Juga: RESMI Pengumuman Penempatan Hasil Seleksi PPPK Guru 2023, Lengkap Cara Mengecek Lokasi Penempatan
1. Passanggarahan Kotanopan
Passanggarahan Kotanopan ini pernah disinggahi Presiden RI pertama, Soekarno. Sang Proklamator ini pernah singgah dan bermalam di Passanggarahan Kotanopan. Ia menempati kamar nomor satu.
Selain itu, Presiden Soekarno juga sempat mengadakan rapat akbar pada tanggal 16 Juni 1948. Dia menyosialisasikan kemerdekaan dan mengajak warga Mandailing untuk tetap mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan NKRI.
Soekarno berdiri di tangga rumah peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1930 ini. Rapat yang berlangsung di halaman Passanggarahan ini dihadiri ratusan tokoh pejuang kemerdekaan.
Baca Juga: Selanjutnya Pengusulan NI PPPK, Bapak Ibu Guru Siapkan Lagi Dokumen Ini
2. Tugu Perintis Kemerdekaan
Jejak kedua bahwa Kotanopan merupakan Kota Pejuang, di daerah ini dibangun Tugu Perintis Kemerdekaan. Tugu Perintis Kemerdekaan ini dibagun pada tanggal 9 November 1988.
Lokasinya di depan Passanggrahan Kotanopan dan diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara yang saat itu dijabat oleh, Alm. Raja Inal Siregar. Tugu ini untuk mengenang mereka yang berjuang sebelum kemerdekaan sampai Proklamasi dikumandangkan.
Dari cacatan yang ada di Tugu Perintis Kemerdekaan, sedikitnya ada 24 nama pahlawan yang sudah mendapat SK dari Pemerintah RI.
Baca Juga: Selanjutnya Pengusulan NI PPPK, Bapak Ibu Guru Siapkan Lagi Dokumen Ini
Tugu ini merupakan tugu satu-satunya yang dibangun di wilayah Mandailing Natal, Padangsidempuan.
Hal ini semakin membuktikan bahwa Kotanopan merupakan kota perjuangan sesuai dengan yang tertulis di Tugu Perintis bahwa “Kotanopan Merupakan Basis Perjuangan Perintis Kemerdekaan”.
3. Tiang Bendera di Pasar Kotanopan
Tiang bendera ini dibangun pada tahun 1945 dan merupakan tempat penaikan bendera Merah Putih ke tiga di Indonesia setelah Jakarta dan Bukittinggi setelah proklamasi dikumandangkan tahun 1945.
Saat ini, posisi tiang bendera tersebut berada di lapangan Pasar Kotanopan. Dulu setiap peringatan HUT RI, upacara penaikan bendera dilakukan di tiang bendera ini.
Namun, belakangan seiring pembangunan ruko di Pasar Kotanopan, lapangan untuk upacara makin sempit sehingga tidak layak lagi dijadikan tempat upacara.
4. Prasasti
Selanjutnya ada prasasti yang dibuat untuk mengenang pahlawan Perintis Kemerdekan. Di atas prasasti ini tertulis “Lokasi ini adalah bekas rumah almarhum H. Amin Nasution yang dipergunakan sebagai tempat rapat tokoh-tokoh Partai Politik mulai tahun 1915”.
Baca Juga: Wah! inilah Daftar 5 Shinobi yang Memiliki Kekuatan Listrik Terkuat dalam Anime Naruto Shippuden
Sebagian dari mereka yaitu tokoh-tokoh partai politik telah ditetapkan sebagai Pahlawan Perintis Kemedekaan yang diprakarsai Sutan Endar Bongsu. Prasasti ini terdapat di simpang tiga Pasar Kotanopan.
5. Pondok Pesantren Subulussalam
Pondok Pesantren (Ponpes) Subulussalam yang terdapat di Sayurmaincat, Kecamatan Kotanopan, mempunyai andil besar dalam mengusir penjajah dari Bumi Gorang Sembilan atau Madina.
Banyak pengurus Ponpes ketika itu yang ditangkap Belanda, kemudian dibuang ke luar Sumatera.
Masa kemerdekaan, Ponpes Subulusslam juga dijadikan markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Saat itu, pengurus, santri, dan guru-guru Ponpes Subulussalam mengadakan perlawanan terhadap penjajah Belanda.
Baca Juga: Luar Biasa! Ternyata ini Sejarah 9 Bijuu dalam Anime Naruto Shippuden
Ponpes Subulussalam sering dijadikan tempat rapat dan musyawarah untuk menentang Belanda. Namun, gerakan ini tercium oleh Belanda, akhirnya beberapa pengurus dan guru Ponpes Subulussalam dipanggil Asisten Residen ke Padangsidempuan.
Tidak berapa lama, pemerintah Belanda menangkap lima orang pengurus Ponpes dan warga Desa Sayurmaincat, di antaranya: Tinggi Lubis dan Yahya Malik Nasution yang dibuang ke Digul-Irian Jaya (sekarang Papua), H. Alinafiyah Lubis atau dikenal H. Mahals Lubis dipenjarakan di Sukamiskin, Jawa Barat.
Selanjutnya ada Makmur Lubis yang dibuang ke Ternate dan Abdul Aziz dibuang entah kemana.
Baca Juga: Ternyata inilah Sejarah Legendaris Pedang Samehada dalam Anime Naruto Shippuden
Pada tahun 1945, saat Proklamasi Kemerdakaan RI, Ponpes Subulussalam kembali dijadikan asrama TKR. Setelah asrama TKR dipindahkan, Ponpes Subulussalam dijadikan asrama oleh Jawatan Sosial.
Seterusnya, Ponpes Subulussalam dipergunakan tempat latihan Napindo. Kemudian tahun 1949, Ponpes Subulussalam kembali dibuka untuk sekolah.
6. TPU Sayurmaincat
Walaupun Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sayurmaincat tidak termasuk bagian dari perjuangan, tetapi di TPU ini pusara empat orang pejuang kemerdekaan berbaring.
Baca Juga: Menarik! Spill Kelemahan Kaguya Sebagai Musuh Terkuat dalam Anime Naruto Shippuden
Tidak mengherankan jika Pemkab Madina selalu membuat acara renungan suci dalam rangka memperigati HUT Kemerdekaan RI di TPU ini.
Dari batu nisan yang ada, ada empat pejuang atau veteran yang dimakamkan di TPU ini. Mereka adalah H. Mhd. Yasin Lubis, Npv/Nrp 2.043.694. Lahir tanggal 31 Desember 1925 dan meninggal tanggal 24 Desember 2004.
Makam lainnya bernama Darwis Thaib, Npv/Nrp: 2.006.833, lahir tanggal 15 Februari 1927 dan wafat tanggal 27 Februari 2008.
Baca Juga: Tuntut Perbaikan Kesejahteraan Karyawan, Sekar Telkom Tolak Rencana Bisnis Infraco
Kemudian, M. Ilyas Parinduri, Npv 6589/F, lahir tahun 1925 dan meninggal tahun 1999.
Selanjutnya, Amir Rajab Parinduri, Npv 20.45.845/L, lahir tanggal 15 Juli 1928 dan meninggal 12 Oktober 2011. ***



