POJOKSATU.id - Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mengembangkan Mesin Pirolisis Statis Dipofuel Generasi Ketiga (Gen 3) yang mampu mengolah hingga 200 kilogram sampah plastik dalam sekali produksi.
Inovasi ini dirancang untuk mengurangi timbunan sampah plastik sekaligus menghasilkan produk bernilai guna yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.
Pengembangan Dipofuel Gen 3 dilakukan oleh tim peneliti yang dipimpin dosen Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Undip, Prof. Ir. Didi Dwi Anggoro.
Mengutip laman resmi Undip, Jumat (16/10/2026), teknologi tersebut telah melalui pengembangan bertahap, mulai dari prototipe berkapasitas 5 kilogram, meningkat menjadi 100 kilogram pada generasi kedua, hingga mencapai 200 kilogram pada generasi ketiga.
Cara Kerja dan Keunggulan Dipofuel Gen 3
Dipofuel Gen 3 menggunakan teknologi pirolisis, yakni proses pemanasan plastik dalam reaktor tertutup tanpa kehadiran oksigen atau dengan kondisi oksigen sangat terbatas.
Proses ini memecah plastik menjadi sejumlah produk, termasuk fraksi cair yang dapat diolah lebih lanjut.
Reaktor berkapasitas 1.000 liter tersebut terbuat dari pelat besi dan dilengkapi insulator fiber ceramic, sistem pemanas berbahan bakar biomassa, serta panel kontrol suhu dan tekanan dengan alarm dan perangkat keselamatan.
Tim peneliti juga menyempurnakan sistem kondensasi bertingkat untuk mengoptimalkan perolehan produk cair. Proses pengolahan membutuhkan waktu sekitar 4-8 jam.
Menurut keterangan tim pengembang, hasil pengolahan dapat mencapai sekitar 60 persen bahan bakar cair, 20 persen gas bakar, dan 20 persen residu berupa karbon padat atau lilin padat (solid wax).
Hasil aktual dapat berbeda bergantung pada jenis dan komposisi plastik yang diolah.
Gas hasil pirolisis dialirkan kembali ke sistem pemanas menggunakan blower. Pemanfaatan kembali gas ini membantu proses pembakaran sekaligus mengurangi kebutuhan bahan bakar tambahan.
“Keunggulan generasi ketiga ini terutama pada kapasitasnya yang jauh lebih besar. Dari awalnya 5 kilogram, kemudian 100 kilogram, sekarang mencapai 200 kilogram sekali produksi,” tutur Didi.
Sudah Dimanfaatkan untuk Pompa Irigasi
Dipofuel Gen 3 tidak hanya dikembangkan sebagai teknologi pengolahan limbah, tetapi juga memiliki potensi pemanfaatan di masyarakat.
Didi menyebut mesin tersebut telah dimanfaatkan oleh masyarakat petani di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, untuk mendukung operasional pompa irigasi.
“Alatnya sudah dimanfaatkan oleh masyarakat petani setempat untuk pompa irigasi. Kami berharap kehadiran teknologi ini dapat mempermudah kehidupan masyarakat secara lebih luas,” ungkapnya.
Teknologi ini juga menarik perhatian sejumlah pihak, termasuk lembaga pemasyarakatan dan pondok pesantren di Jawa Timur serta pihak pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Sulawesi Selatan yang menjajaki potensi kolaborasi pengolahan limbah.
Meski demikian, penerapan dalam skala lebih luas masih membutuhkan dukungan pemerintah, kesiapan sumber daya manusia, serta pemenuhan regulasi dan perizinan.
Produk cair hasil pirolisis juga tidak otomatis dapat digunakan sebagai bensin kendaraan.
Diperlukan pengujian karakteristik dan mutu produk, termasuk kesesuaiannya dengan spesifikasi bahan bakar. Aspek emisi, keselamatan operasional, dan pengelolaan residu turut menjadi perhatian.
Dipamerkan pada Dies Natalis ke-69 Undip
Dipofuel Gen 3 dipamerkan dalam rangkaian Dies Natalis ke-69 Undip di Muladi Dome, Kampus Undip Tembalang, Semarang.
Setelah rangkaian kegiatan tersebut selesai, mesin direncanakan mulai digunakan di lingkungan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Undip.
Didi berharap teknologi ini dapat menjadi prototipe perintis pengolahan sampah plastik yang diterapkan secara bertahap, mulai dari skala kelurahan hingga berpotensi dikembangkan untuk kebutuhan yang lebih besar.
“Harapan kami, mesin ini bisa menjadi prototipe pionir untuk pengolahan sampah, setidaknya pada skala kelurahan. Ke depan, kapasitasnya masih berpeluang dikembangkan hingga skala ton dan diterapkan di masyarakat maupun industri,” imbuhnya.
Pengembangan Dipofuel Gen 3 menjadi salah satu upaya perguruan tinggi menghadirkan solusi teknologi untuk persoalan sampah plastik.
Namun, keberhasilan penerapannya tidak hanya ditentukan oleh kapasitas mesin, melainkan juga efektivitas pengolahan, kelayakan ekonomi, keselamatan, dan dampak lingkungan dalam jangka panjang. ***





