POJOKSATU.id - Dosen Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Salsabila Damayanti, meraih lima penghargaan dalam Global Youth Innovation Summit (GYIS) 2026 yang berlangsung di Malaysia dan Singapura pada 28 September-2 Oktober 2026.
Prestasi tersebut diraih melalui inovasi lingkungan Re (Redesigning the Life of What We Call Waste), yang mengusung pendekatan kolaboratif dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Dalam forum internasional tersebut, Salsabila bersama tim memperkenalkan gagasan yang memandang sampah bukan sebagai akhir perjalanan suatu material, melainkan peluang untuk menciptakan nilai baru melalui kolaborasi berbagai potensi di masyarakat.
Lima penghargaan yang diraih Salsabila meliputi:
Juara 1 SDGs Project Video.
Juara 1 Best Speaker.
Juara 2 SDGs Project Presentation.
Juara 2 Most Inspirational Leader.
Juara 2 Best Team.
Capaian tersebut mencerminkan perpaduan inovasi sosial, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kolaborasi dalam merespons tantangan pembangunan berkelanjutan.
Re, Inovasi Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas
Salsabila menjelaskan, Re dikembangkan untuk menjawab persoalan pengelolaan sampah dengan menghubungkan berbagai pihak dalam satu ekosistem sirkular berbasis komunitas.
Ekosistem tersebut melibatkan rumah tangga, bank sampah, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), kelompok PKK, perajin lokal, pemuda, hingga pasar.
“Melalui mekanisme tersebut, material diarahkan menuju jalur pemanfaatan yang paling layak, mulai dari penggunaan kembali dan daur ulang hingga upcycling menjadi produk bernilai guna,” jelasnya.
Keunggulan Re terletak pada upaya menjembatani pengumpulan dan pengolahan sampah dengan penciptaan produk, akses pasar, serta pengembalian manfaat kepada masyarakat.
Sistem ini juga didukung pencatatan perjalanan material melalui kode QR dan dokumentasi dampak untuk memperkuat transparansi.
Menurut Salsabila, inovasi pengelolaan sampah tidak selalu harus dimulai dengan membangun sistem baru. Potensi yang telah tersedia di masyarakat dapat dioptimalkan melalui kolaborasi yang terarah.
“Indonesia does not need every community to build a new recycling system. It needs every community to know where its materials can go next,” ungkapnya.
Libatkan Masyarakat untuk Menciptakan Nilai Ekonomi
Berangkat dari perspektif Sosiologi, Re menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam membangun keberlanjutan lingkungan sekaligus membuka peluang sosial dan ekonomi.
Keterlibatan perempuan, pemuda, perajin lokal, pelaku usaha, dan mitra pengolahan diharapkan dapat mendorong penguatan keterampilan, kewirausahaan sirkular, serta penciptaan nilai ekonomi lokal.
Pendekatan ini menekankan bahwa pengelolaan sampah tidak berhenti pada pengumpulan dan pemilahan material.
Proses tersebut juga perlu menghubungkan material dengan pihak yang mampu mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Dengan demikian, kolaborasi antarpihak menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sejalan dengan Target Pembangunan Berkelanjutan
Inisiatif Re sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Inovasi ini juga berkaitan dengan SDG 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui pendekatan tersebut, pengelolaan sampah diposisikan sebagai persoalan lingkungan sekaligus peluang untuk memperkuat kerja sama, keterampilan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Bagi Unsoed, capaian Salsabila menunjukkan upaya menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata di masyarakat.
Partisipasi dalam GYIS 2026 juga membuka peluang pengembangan jejaring kolaborasi, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Salsabila Berharap Re Dapat Diimplementasikan
Ke depan, Salsabila berharap Re dapat dikembangkan dari sebuah gagasan menjadi program yang diimplementasikan dan dievaluasi bersama masyarakat.
Ia menekankan bahwa material yang telah selesai digunakan tidak harus kehilangan nilai.
Melalui kolaborasi dan pemanfaatan potensi yang tersedia, sampah dapat diarahkan menjadi sumber daya yang memberikan manfaat baru.
“Sampah mungkin mengakhiri satu masa guna, tetapi tidak harus mengakhiri nilainya.
Ketika kita mampu menghubungkan potensi, membangun kolaborasi, dan memastikan manfaatnya kembali kepada masyarakat, kita tidak sekadar mengelola sampah, kita sedang merancang masa depan yang lebih berkelanjutan,” pungkasnya. ***





