POJOKSATU.id - Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mempertahankan capaian bintang lima dalam Healthy University Rating System (HURS), sistem penilaian kampus sehat yang diinisiasi oleh ASEAN University Network-Health Promotion Network (AUN-HPN).
Capaian ini mencerminkan upaya UNAIR membangun lingkungan kampus yang mendukung kesehatan melalui kebijakan, penyediaan fasilitas, edukasi, dan promosi kesehatan.
Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) UNAIR, Prof. Hery Purnobasuki, menjelaskan bahwa HURS menjadi sarana bagi perguruan tinggi untuk mengevaluasi pelaksanaan promosi kesehatan secara lebih terarah.
“Capaian bintang lima bukan serta-merta sebuah penghargaan, melainkan kesempatan untuk mengenali kekurangan dan menentukan perbaikan,” ujar Hery dalam keterangan tertulis, Kamis (22/10/2026).
Melalui evaluasi tersebut, perguruan tinggi dapat mengetahui sejauh mana kebijakan dan fasilitas yang tersedia telah mendukung kesehatan fisik maupun mental mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta warga kampus lainnya.
Mengenal HURS, Sistem Penilaian Kampus Sehat ASEAN
Healthy University Rating System merupakan sistem evaluasi yang dikembangkan AUN-HPN berdasarkan Healthy University Framework (HUF).
Sistem ini dirancang untuk membantu perguruan tinggi menilai pelaksanaan kebijakan dan program promosi kesehatan secara menyeluruh.
Hasil penilaian kemudian digunakan untuk mengenali kekuatan, menemukan kekurangan, dan menyusun rencana perbaikan.
Berbeda dari pemeringkatan yang berfokus membandingkan posisi antarkampus, HURS menggunakan standar penilaian untuk mengukur capaian setiap perguruan tinggi.
Dengan demikian, lebih dari satu kampus dapat memperoleh peringkat bintang tertinggi apabila memenuhi kriteria yang ditetapkan.
Dalam perkembangannya, HURS menggunakan instrumen penilaian mandiri berbasis indikator. AUN-HPN memperbarui sistem tersebut pada 2025 menjadi 46 indikator yang diselaraskan dengan kerangka kampus sehat.
Penilaian ini tidak hanya melihat keberadaan fasilitas kesehatan, tetapi juga memperhatikan kebijakan, lingkungan belajar, perilaku warga kampus, serta upaya pencegahan berbagai risiko kesehatan.
Ini Tiga Kelompok Utama Kriteria Penilaian HURS
Secara umum, penilaian HURS mencakup tiga kelompok utama, yakni sistem dan infrastruktur, area tanpa toleransi terhadap perilaku yang membahayakan kesehatan, serta promosi kesehatan.
Ketiga kelompok tersebut membantu perguruan tinggi mengevaluasi penerapan kebijakan kampus sehat dari sisi fasilitas, perlindungan warga kampus, hingga edukasi dan perubahan perilaku.
1. Sistem dan infrastruktur pendukung kesehatan
Kelompok ini menilai dukungan sistem, kebijakan, dan fasilitas yang memungkinkan warga kampus menjalani aktivitas belajar maupun bekerja dalam lingkungan yang sehat.
Aspek yang diperhatikan antara lain ketersediaan fasilitas pendukung kesehatan, kebersihan lingkungan, keamanan pangan, pengelolaan sampah, serta aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
Kampus juga perlu memastikan kebijakan yang telah ditetapkan dapat diterapkan dalam kegiatan sehari-hari, bukan sekadar tercantum dalam dokumen kelembagaan.
2. Area tanpa toleransi terhadap perilaku yang membahayakan kesehatan
Kelompok Zero Tolerance Areas (ZT) menitikberatkan pada pencegahan dan penanganan perilaku atau kondisi yang berisiko terhadap kesehatan dan keselamatan warga kampus.
Penerapannya mencakup upaya mencegah kekerasan, perundungan, dan pelecehan, serta pengendalian faktor risiko kesehatan sesuai indikator yang digunakan dalam HURS.
Dalam konteks kampus sehat, perlindungan warga kampus menjadi bagian penting karena lingkungan pendidikan yang mendukung kesehatan harus memberikan rasa aman, nyaman, dan bebas dari perilaku yang membahayakan.
3. Promosi kesehatan
Kelompok Health Promotion Areas (HP) menilai upaya perguruan tinggi dalam meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kebiasaan hidup sehat di lingkungan kampus.
Pelaksanaannya dapat berupa edukasi kesehatan, kampanye gaya hidup sehat, dukungan terhadap aktivitas fisik, perhatian terhadap kesehatan mental, serta penyampaian informasi kesehatan melalui berbagai saluran.
Perguruan tinggi juga dapat mengintegrasikan edukasi kesehatan dalam kegiatan akademik maupun program kemahasiswaan agar penerapan perilaku sehat menjadi bagian dari kehidupan kampus.
Ketiga kelompok tersebut saling berkaitan. Fasilitas yang memadai perlu didukung kebijakan yang berjalan, perlindungan terhadap warga kampus, dan program edukasi yang mendorong perubahan perilaku.
Bagaimana Sistem Bintang HURS Ditentukan?
HURS menggunakan sistem penilaian berbasis skor dengan total maksimal 1.000 poin. Skor tersebut kemudian dikonversi menjadi kategori bintang sesuai ambang penilaian yang berlaku.
Dalam skala penilaian HURS yang dipublikasikan untuk versi 2024, pembagian kategorinya adalah sebagai berikut:
1 bintang: 1-199 poin.
2 bintang: 200-399 poin.
3 bintang: 400-599 poin.
4 bintang: 600-799 poin.
5 bintang: 800-899 poin.
5 bintang plus: 900 poin atau lebih.
Kategori tersebut menunjukkan tingkat pencapaian berdasarkan standar HURS.
Karena instrumen penilaian dapat diperbarui, perguruan tinggi perlu mengacu pada pedoman yang berlaku untuk tahun evaluasi yang diikuti.
Dengan mekanisme tersebut, capaian bintang lima tidak semata-mata ditentukan oleh satu program unggulan.
Penilaian melihat pelaksanaan berbagai aspek kampus sehat berdasarkan indikator yang telah ditetapkan.
UNAIR Dorong Perbaikan Kebijakan dan Fasilitas Kampus
Hery mencontohkan, penerapan kawasan tanpa rokok membutuhkan pengawasan dan kepatuhan seluruh warga kampus.
Kantin juga perlu menjaga kebersihan dan keamanan pangan, sementara pengelolaan sampah harus mendukung terciptanya lingkungan yang sehat.
Selain itu, perguruan tinggi perlu memperhatikan aksesibilitas fasilitas bagi penyandang disabilitas serta meningkatkan perhatian terhadap kesehatan fisik dan mental.
“Ketika mengikuti penilaian seperti ini, kita bisa meninjau kembali apa yang sudah kita lakukan dan bagian mana yang masih perlu kita benahi. Indikator penilaian membantu kita mengenali kekurangan yang mungkin selama ini luput dari perhatian,” jelasnya.
Menurut Hery, upaya mewujudkan kampus sehat membutuhkan keterlibatan berbagai unit. Unit promosi kesehatan dapat menggerakkan program dan mengevaluasi pelaksanaannya, tetapi penerapan kebijakan juga memerlukan dukungan fakultas, pengelola fasilitas, serta seluruh sivitas akademika.
Karena itu, capaian HURS tidak cukup dipandang sebagai pengakuan atas program yang telah berjalan. Hasil evaluasi juga dapat menjadi dasar untuk menentukan prioritas pembenahan dan memastikan setiap kebijakan diterapkan secara konsisten.
Bintang Lima Bukan Tujuan Akhir
Hasil penilaian HURS dapat menjadi dasar bagi perguruan tinggi untuk menentukan prioritas perbaikan.
Jika evaluasi menemukan kekurangan pada fasilitas atau kebijakan tertentu, LPMB dapat berkoordinasi dengan unit terkait agar tindak lanjutnya lebih terarah.
Hery menekankan bahwa keberhasilan membangun kampus sehat tidak cukup bergantung pada kelengkapan dokumen penilaian.
Program dan kebijakan harus menghasilkan perubahan nyata, seperti menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan mendorong warga kampus menerapkan kebiasaan hidup sehat.
“Harapannya, setiap upaya membawa dampak nyata dan membuat kondisi kampus semakin baik dari tahun ke tahun. Penghargaan menjadi bonus, sedangkan tujuan utamanya tetap kesejahteraan warga kampus,” pungkasnya.
Bagi UNAIR, mempertahankan bintang lima menjadi kesempatan untuk terus mengevaluasi dan meningkatkan kualitas lingkungan pendidikan.
Sebab, kampus yang sehat bukan hanya ditandai oleh fasilitas yang lengkap, melainkan juga oleh kebijakan yang berjalan dan kepedulian terhadap kesejahteraan seluruh warganya. ***




