POJOKSATU.id - Mahasiswa baru Program Studi Fisika, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pendidikan Indonesia (FPMIPA UPI), meraih medali emas (Gold Medal) dalam ajang International Essay Competition 2026.
Prestasi tersebut diraih melalui penerapan metode Project-Based Learning (PjBL) dalam mata kuliah Bahasa Inggris.
Tim mahasiswa angkatan 2026 itu menjadi pemenang pada subtema Local Wisdom in the Global Era.
Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Innovative Youth for Sustainable Future (IYSF) bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI).
Tim UPI beranggotakan Christopher Alexander Kurniawan, Hytalita Dwi Aprilia Efendi, Thalita Diana Male, Fikri Maulana Habsy, Azkia Alika Reisyam, dan Ghaisan Naufal Arliansyah.
Mereka mengusung esai berjudul Utilization of Digital Media as a Three-Generation Cultural Bridge for Angklung Preservation to Overcome the Generational Gap in Traditional Music Knowledge.
Tim tersebut bersaing dengan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, termasuk Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, dan Universitas Negeri Jakarta, serta peserta dari Singapura dan Malaysia.
Usung Kerangka Tiga Generasi untuk Lestarikan Angklung
Keunggulan gagasan tim Fisika UPI terletak pada Three-Generation Framework, yakni kerangka yang menghubungkan tiga generasi untuk menjaga keberlanjutan musik tradisional di tengah perkembangan media digital.
Kerangka tersebut membagi peran pelestarian angklung ke dalam tiga kelompok:
Generasi 1 (The Experts): Maestro dan pakar musik tradisional berperan menjaga keaslian nilai budaya sekaligus menjadi sumber pengetahuan.
Generasi 2 (The Bridge): Kelompok penghubung mengemas musik tradisional ke dalam aransemen modern tanpa menghilangkan identitas aslinya. Hasilnya kemudian disebarluaskan melalui media sosial dan kegiatan sekolah.
Generasi 3 (The Target): Generasi muda menjadi sasaran pengenalan dan pengembangan musik tradisional agar angklung tetap relevan serta dikenal lintas generasi.
Melalui pendekatan tersebut, tim berupaya menjawab kesenjangan pengetahuan musik tradisional antargenerasi dengan memanfaatkan media digital sebagai sarana pengenalan budaya.
Kompetisi Internasional Jadi Bagian dari Tugas Kuliah
Keikutsertaan mahasiswa dalam kompetisi tersebut merupakan bagian dari tugas mata kuliah Bahasa Inggris yang diampu Dr. Selly Feranie, M.Si., dan Suci Ramayanti, Ph.D.
Dalam skema perkuliahan yang diterapkan, mahasiswa berkesempatan memperoleh nilai sempurna dengan bobot 40 persen dari nilai akhir apabila memenangkan kompetisi internasional dengan minimal meraih medali perak.
Dr. Selly Feranie menjelaskan bahwa mahasiswa tidak hanya dilatih menulis artikel ilmiah, tetapi juga memahami karakteristik kompetisi dan menyusun gagasan yang relevan.
“Selain melatih penulisan artikel ilmiah, mahasiswa ditekankan untuk jeli melihat karakteristik lomba. Ide yang disampaikan harus memiliki orisinalitas, kebermanfaatan nyata bagi masyarakat, serta terstruktur berbasis referensi terbaru,” ujar Dr. Selly.
Sementara itu, Suci Ramayanti, Ph.D., menegaskan bahwa proses pembelajaran tetap mengutamakan standar dan integritas akademik.
“Kami memeriksa kesesuaian format, struktur naskah, ketepatan tata bahasa, batasan penggunaan Artificial Intelligence (AI), hingga tingkat kemiripan teks untuk menjaga integritas akademik,” jelasnya.
FPMIPA UPI Dorong Prestasi Sejak Semester Pertama
Prestasi tersebut mendapat apresiasi dari pimpinan FPMIPA UPI. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FPMIPA UPI, Prof. Dr. Nahadi, M.Si., M.Pd., menegaskan bahwa fakultas berkomitmen membangun iklim kompetisi global sejak mahasiswa memasuki awal masa studi.
“Prestasi dan iklim kompetisi global memang harus dibiasakan sejak semester pertama. FPMIPA berkomitmen mendukung penuh dan memfasilitasi talenta muda untuk berkarya di kancah internasional,” tegas Prof. Nahadi. ***





