POJOKSATU.id - Skor Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 jenjang SMA/sederajat mengalami perubahan. Jika sebelumnya menggunakan rentang 0-100, kini hasil TKA dilaporkan dalam skala 200-800.

Perubahan ini bukan berarti soal TKA menjadi lebih sulit. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa tingkat kesulitan soal ditentukan oleh rancangan soal, sedangkan skala digunakan untuk melaporkan hasil pengukuran.

“Perubahan skala tidak berarti soal menjadi lebih sulit. Kesulitan ditentukan oleh rancangan soal, sedangkan skala menentukan bagaimana hasil dilaporkan,” tulis Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen melalui akun resminya, Rabu (14/10/2026).

Lantas, mengapa skor TKA diubah dari rentang 0-100 menjadi 200-800?

5 Alasan Skor TKA Menggunakan Skala 200-800

Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen menjelaskan bahwa penggunaan rentang 200-800 berkaitan dengan cara kemampuan akademik siswa diukur dan hasilnya dilaporkan.

Berikut lima alasan penggunaan skala tersebut.

1. Menegaskan bahwa skor TKA mengukur kemampuan, bukan persentase jawaban benar

Pada sistem penilaian konvensional dengan rentang 0-100, nilai tes kerap dipahami sebagai persentase jawaban yang benar. Misalnya, nilai 80 sering dianggap menunjukkan bahwa siswa menjawab 80 persen soal dengan benar.

Namun, skor TKA tidak dimaksudkan untuk dibaca seperti itu. Rentang 200-800 digunakan untuk menegaskan bahwa hasil TKA merupakan skala kemampuan terstandar, bukan persentase jawaban benar.

Karena itu, skor TKA perlu dipahami berdasarkan metode pengukurannya, bukan langsung diterjemahkan menjadi jumlah atau persentase soal yang dijawab dengan benar.

2. Menyesuaikan pelaporan dengan metode pengukuran kemampuan siswa

TKA menggunakan metode Item Response Theory Two-Parameter Logistic Model (IRT 2PL) untuk mengestimasi kemampuan siswa.

Metode ini tidak hanya melihat benar atau salahnya jawaban, tetapi juga memperhitungkan pola respons siswa terhadap soal dan karakteristik setiap butir soal, termasuk tingkat kesulitan serta daya beda.

Dengan pendekatan tersebut, hasil pengukuran menggambarkan estimasi kemampuan siswa berdasarkan pola respons dan karakteristik soal.

Oleh sebab itu, hasilnya tidak tepat jika diperlakukan begitu saja seperti nilai persentase konvensional.

3. Mengubah hasil estimasi agar lebih mudah dibaca

Penggunaan metode IRT menghasilkan estimasi kemampuan dalam bentuk angka yang dapat berupa bilangan positif, nol, maupun negatif, termasuk angka desimal.

Sebagai contoh, hasil estimasi kemampuan siswa dapat menunjukkan angka -1,5.

Angka seperti ini merupakan bagian dari hasil pengukuran, tetapi bisa lebih sulit dipahami jika langsung disajikan kepada peserta tes.

Untuk memudahkan pembacaan hasil, angka estimasi tersebut ditransformasikan ke dalam skala pelaporan positif, yaitu 200-800.

4. Menghindari kesan bahwa siswa mendapat nilai nol atau dihukum karena hasil tesnya

Pusmendik menjelaskan bahwa transformasi ke skala positif juga berkaitan dengan cara hasil pengukuran disajikan kepada siswa.

Skala 200-800 membuat hasil estimasi tidak ditampilkan dalam bentuk angka negatif atau nol.

Dengan demikian, angka yang diterima siswa lebih mudah dibaca dan diharapkan tidak menimbulkan kecemasan atau kesan bahwa usaha belajarnya tidak dihargai.

Pusmendik menegaskan alasan tersebut melalui pernyataan berikut:

“Tidak ada angka nol karena setiap ikhtiar dan proses belajar tetap dihargai,” tulis Pusmendik dalam akun resminya.

5. Menetapkan batas skala pelaporan, bukan batas mutlak kemampuan siswa

Dalam skala TKA, angka 200 menjadi batas bawah pelaporan, sedangkan 800 menjadi batas atas pelaporan.

Kedua angka tersebut bukan batas mutlak kemampuan akademik siswa.

Angka itu merupakan batas pada skala yang digunakan untuk menyajikan hasil pengukuran.

Artinya, rentang 200-800 berfungsi sebagai kerangka pelaporan skor. Angka 200 dan 800 tidak boleh langsung dimaknai sebagai batas terendah dan tertinggi dari seluruh kemampuan yang mungkin dimiliki siswa.

Apakah Soal TKA Menjadi Lebih Sulit karena Skornya Berubah?

Kemendikdasmen menegaskan bahwa perubahan skala pelaporan tidak otomatis membuat soal TKA menjadi lebih sulit.

Tingkat kesulitan soal ditentukan oleh rancangan soal, sedangkan skala 200-800 digunakan untuk menyajikan hasil pengukuran kemampuan siswa.

Dengan demikian, perubahan angka dari 0-100 menjadi 200-800 bukan berarti siswa harus menjawab lebih banyak soal dengan benar untuk memperoleh hasil yang baik.

Skor tersebut juga tidak dapat langsung ditafsirkan sebagai persentase jawaban benar.

Tujuan Pembaruan Skor TKA 2026

Kepala BKPDM Kemendikdasmen Toni Toharudin menekankan bahwa pembaruan skala skor TKA jenjang SMA/sederajat bertujuan menyajikan informasi kemampuan akademik yang sesuai dengan pendekatan pengukurannya.

Hasil TKA diharapkan memberikan manfaat bagi beberapa pihak.

Siswa dapat memahami capaian belajarnya, sekolah memperoleh informasi untuk memperbaiki proses pembelajaran, sedangkan perguruan tinggi mendapatkan informasi pendukung yang bermakna.

“Kerja bersama sekolah, keluarga, dan perguruan tinggi menjadi kunci agar hasil TKA dimanfaatkan secara bermakna. Angka 200-800 akan bermakna apabila membantu kita membaca capaian murid dan memperbaiki pembelajaran,” kata Toni.

Karena itu, siswa dan orang tua perlu memahami bahwa skor TKA bukan sekadar angka untuk dibandingkan dengan nilai rapor konvensional.

Skor tersebut merupakan hasil estimasi kemampuan akademik yang dilaporkan menggunakan skala khusus.

Perubahan skala ini pada akhirnya menekankan pentingnya memahami hasil tes sesuai tujuan pengukurannya.

Angka yang berbeda tidak serta-merta menunjukkan soal lebih sulit, melainkan mencerminkan cara pelaporan hasil pengukuran kemampuan akademik siswa. ***