POJOKSATU.id, UNIVERSITAS Negeri Malang (UM) menunjukkan perannya sebagai kampus yang tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga berkontribusi nyata dalam pemberdayaan masyarakat.

Lewat inovasi pangan berbasis kearifan lokal, UM menghadirkan produk unik bernama “Sangtiwoel”, tiwul pisang hasil karya kreatif Slamet Fauzan, S.Pd., M.Pd., dosen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Inovasi ini berawal dari keprihatinan Fauzan terhadap melimpahnya pisang lokal di wilayah pesisir Malang Selatan yang belum dimanfaatkan secara optimal.

“Banyak varietas pisang lokal yang tidak terpakai, padahal potensinya besar. Maka dari itu, kami kembangkan menjadi tiwul pisang, sebagai bentuk ketahanan pangan sekaligus ikon kuliner lokal,” ujar Fauzan.

Baca Juga: Bikin Bangga, Dosen UMY Tembus Top 2 Persen Ilmuwan Dunia versi Stanford University dan Elsevier Berkat Riset Farmasi dan AI

Melalui Sangtiwoel, Fauzan ingin memperkenalkan cara baru menikmati pisang yang bukan hanya lezat, tetapi juga tahan lama dan bernilai ekonomi tinggi.

Lebih dari sekadar melestarikan makanan tradisional, Sangtiwoel menjadi simbol modernisasi kuliner lokal.

Proses pembuatannya melibatkan masyarakat desa secara langsung, mulai dari petani pisang, pelaku UMKM, hingga perangkat desa.

Sinergi ini menciptakan rantai nilai baru yang memperkuat ekonomi lokal.

“Kelompok tani dan UMKM Sidodadi sangat merasakan dampaknya. Dulu pisang hanya dijual begitu saja, sekarang bisa diolah, dikemas, dan dijual dengan harga lebih baik,” jelas Fauzan.

Baca Juga: Insentif Guru Penanggung Jawab Program MBG Masih Tunggu Aturan Resmi, BGN Sudah Keluarkan Surat Edaran, Tapi Abdul Mu’ti Sebut Masih Wacana 

Tak berhenti di sana, Fauzan dan tim juga menciptakan berbagai alat bantu produksi, seperti mesin pengering dan penepung pisang sederhana, agar masyarakat mampu berproduksi secara efisien dan berkelanjutan.

Langkah ini mempertegas misi UM untuk menjadikan masyarakat desa bukan sekadar penerima manfaat inovasi, tetapi juga produsen mandiri yang tangguh.

Dalam semangat Dikti Saintek Berdampak, Universitas Negeri Malang berkomitmen menjadi jembatan yang menghubungkan potensi lokal dengan dunia industri.

Harapannya, Sangtiwoel bisa berkembang menjadi produk unggulan khas UM dan Desa Sidodadi yang tak hanya membanggakan, tetapi juga mendukung gerakan “Kampus Sehat” serta memperkuat ketahanan pangan nasional.

Baca Juga: Wah, Indonesia Belum Punya Jurusan Ini! Kejar Ketinggalan, Profesor Yudi Dorong Pembentukan Indonesian Quantum Initiative

“Kami berharap UM dapat menjadi penghubung antara produsen di desa dengan industri atau investor yang siap menyerap produk ini," sebutnya.

"Jika ini terwujud, maka bukan hanya UMKM yang tumbuh, tetapi juga ekonomi desa dan wajah inovasi kampus itu sendiri,” ungkapnya.

Sangtiwoel bukan hanya sekadar makanan. Ia adalah bukti nyata bahwa universitas bukan menara gading, melainkan pelita yang menerangi desa.

Dari ide sederhana lahir karya besar yang menghidupkan ekonomi, memperkuat identitas lokal, dan memberi makna baru pada inovasi kampus. ***