POJOKSATU.ID - Gelombang keluhan datang dari peserta Magang Nasional Batch 2 yang sedang berada dalam tahap seleksi.

Banyak fresh graduate mengaku kehabisan pilihan program karena status lowongan yang awalnya terbuka tiba-tiba berubah menjadi tidak bisa dipilih.

Masalahnya lowongan tersebut belum penuh, belum ada peserta yang dinyatakan lolos.

Tetapi sistem otomatis menutup akses bagi peserta lain hanya karena satu orang kandidat sudah dipilih perusahaan untuk tes.

Baca Juga: Akhiri Lawatan di Indonesia, Prabowo Antar Sahabatnya Raja Abdullah Sampai ke Bandara Halim

Dalam beberapa hari terakhir, fenomena slot terkunci ini menjadi salah satu isu paling dibicarakan para pelamar.

Banyak peserta merasa dirugikan, sementara penyelenggara magang terlihat kebingungan karena proses seleksi menjadi tidak fleksibel.

Sistem Magang Nasional menggunakan mekanisme yang secara otomatis mengunci peserta tertentu ketika perusahaan memilih mereka untuk proses tes atau wawancara.

Jika seorang peserta telah dipanggil oleh perusahaan A, maka perusahaan lain tidak dapat lagi memilih peserta tersebut.

Baca Juga: Lulus Profesi Kesehatan, Tapi Tak Bisa Ikut Magang Nasional Batch 2? Ini Suara Kekecewaan Generasi Tenaga Medis

Secara paralel, slot perusahaan yang memanggil kandidat itu juga ditandai sebagai diproses.

Peserta lain tidak bisa lagi memilih program tersebut, meskipun kuota masih banyak.

Status program tidak menunjukkan bahwa slot kosong, tetapi terlihat seolah sudah dipesan.

Peserta merasa kesempatan mereka dirampas sebelum sempat mendaftar.

Banyak pelamar kaget saat melihat lowongan tiba-tiba berganti warna atau tombol pendaftaran menjadi tidak aktif, meskipun jumlah kuota masih jauh dari angka penuh.

Sejumlah peserta menyampaikan kegelisahan mereka.

Meskipun bukan pernyataan resmi, pola keluhan yang muncul hampir sama, mengenai:

Baru satu orang dipanggil untuk tes, tapi program langsung tidak bisa dipilih. Bukannya tes itu belum tentu lolos?

Saya cek jam 8 pagi masih bisa dipilih, jam 10 sudah terkunci padahal kuota 20 orang. Bagaimana bisa hilang secepat itu?

Baca Juga: Kabar Baik! PPPK Paruh Waktu 2025 Resmi Dapat Tunjangan Baru, Pendapatan Melonjak Tajam

Sistem seperti ini tidak adil. Yang daftar lebih cepat menang, yang daftar kemudian bahkan tidak dapat kesempatan.

Bagi peserta yang baru menemukan lowongan menarik, fenomena hilangnya slot secara mendadak jelas menambah kecemasan.

Program yang telah ditargetkan sejak awal tiba-tiba tidak dapat diakses bukan karena peserta lain lolos, tetapi hanya karena sistem menandai bahwa ada kandidat yang sedang diproses.

Baca Juga: 500 Ribu Unit iPhone 17 Terjun ke Laut! yang Ditunggu-Tunggu Malah Tenggelam Massal!

Masalah ini bermula dari desain sistem rekrutmen yang menerapkan aturan:

Jika perusahaan memilih satu kandidat untuk menjalani tes,

Maka sistem otomatis menandai posisi tersebut sebagai sudah terdapat peserta terpilih,

Dan peserta lain tidak dapat memilih posisi itu lagi meskipun belum ada keputusan final.

Baca Juga: Boiyen Pesek Ngedadak Nikah! Komedian Menikahi Doktor Lulusan UGM, Plot Twist Tak Terduga dari Kisah Cinta Boiyen

Singkatnya dipanggil tes = slot terkunci, bukan dipanggil tes = slot tetap terbuka.

Ini membuat proses seleksi menjadi sempit dan tidak kompetitif.

Sebab, perusahaan pada dasarnya hanya bisa memproses satu orang pada satu waktu, padahal dalam dunia HR, menyeleksi 1 orang untuk 1 posisi adalah cara paling tidak efisien.

Baca Juga: Akad Nikah Boiyen di Gedung Mewah ICE BSD, Mahar Rp110 Juta Jadi Sorotan Publik

Dalam rekrutmen normal, perusahaan biasanya menyeleksi:

10–50 kandidat untuk posisi umum

30–100 kandidat untuk posisi administratif

100 kandidat untuk posisi entry level

Namun pada sistem Magang Nasional, ketika satu kandidat dipanggil tes, seolah lowongan itu berubah status menjadi sudah diambil, padahal belum ada hasil.

Dari sisi peserta, dampak teknis ini berubah menjadi kerugian serius:

1. Peluang mengecil

Peserta yang mendaftar lebih lambat kehilangan kesempatan, bahkan jika mereka sangat cocok untuk posisi itu.

2. Tidak ada transparansi sistem

Peserta tidak tahu apakah slot hilang karena kuota penuh atau karena satu kandidat dipanggil tes.

3. Tidak ada ruang kompetisi yang sehat

Semestinya beberapa kandidat bisa dinilai bersamaan, bukan satu per satu.

4. Waktu peserta terbuang

Banyak pelamar fokus memeriksa slot setiap jam, tetapi tetap tidak bisa memilih karena dikunci sistem.

Baca Juga: 500 Ribu Pekerja RI Siap Dikirim ke Luar Negeri 2026, Ini Hak yang Wajib Dijamin Negara

5. Menurunkan kepercayaan terhadap program

Isu slot terkunci membuat peserta mempertanyakan fairness dan kelayakan proses seleksi.

Tidak hanya peserta yang dirugikan perusahaan penyelenggara magang pun kehilangan banyak potensi kandidat terbaik.

Perusahaan hanya dapat menilai 1 kandidat dalam satu waktu, sehingga muncul beberapa masalah

Perusahaan kehilangan kesempatan menilai banyak kandidat sekaligus.

Baca Juga: Akad Nikah Boiyen di Gedung Mewah ICE BSD, Mahar Rp110 Juta Jadi Sorotan Publik

Proses seleksi berpotensi terhambat karena menunggu hasil tes satu orang.

Jika kandidat gagal, perusahaan harus membuka slot ulang memperlambat proses.

Variasi latar belakang peserta menjadi minim.

Model ini membuat perusahaan bergantung pada efisiensi seorang kandidat, bukan pada efisiensi sistem.

Baca Juga: Viral! Aset Fantastis Pejabat MA Terbongkar, Rp 915 Miliar dan 51 Kg Emas Dirampas Negara, Kok Bisa Tak Terendus?

Dari sudut pandang manajemen talenta, sistem yang mengunci kandidat seperti ini tidak dapat disebut efektif. Proses seleksi pemagangan yang sehat harus:

Menyediakan talent pool yang luas,

Mengizinkan perusahaan menyeleksi banyak kandidat sekaligus,

Memberikan peserta kesempatan yang merata,

Dan tidak menghilangkan slot hanya karena satu kandidat dipertimbangkan.

Selain itu, dengan target nasional yang besar, sistem seleksi seharusnya lebih fleksibel. 

Mengunci lowongan secara otomatis adalah praktik yang lemah dan berisiko menciptakan bias.

Ada beberapa langkah perbaikan yang dapat dilakukan agar masalah ini tidak terjadi lagi:

1. Mengubah Mekanisme dari Candidate-Lock menjadi Pool-Based

Perusahaan harus dapat menyeleksi banyak kandidat, dan slot hanya ditutup ketika kuota benar-benar penuh oleh peserta yang lolos, bukan peserta yang sedang dites.

Baca Juga: Honorer Yang Diangkat PPPK Berhak Menerima 5 Jaminan Sosial Ini, Sesuai UU ASN 2023!

2. Memberikan Informasi Status Slot Secara Transparan

Portal harus menampilkan status seperti, Slot tersedia, Slot dalam proses seleksi (tetapi tetap bisa dipilih), Slot penuh.

Bukan sekadar menghilangkan tombol pendaftaran.

3. Mengizinkan Peserta Mendaftar Lebih dari Sekali

Membuka ruang bagi peserta untuk memilih lebih dari satu lowongan agar tidak terpaku pada satu posisi.

Baca Juga: 500 Ribu Pekerja RI Siap Dikirim ke Luar Negeri 2026, Ini Hak yang Wajib Dijamin Negara

4. Menyediakan Notifikasi Penyebab Slot Hilang

Peserta harus tahu alasan lowongan hilang, apakah sudah penuh atau hanya in process.

5. Perusahaan Diberi Opsi Screening Massal

Perusahaan perlu alat untuk melakukan penilaian massal, bukan satu per satu.

Peserta berharap isu ini tidak terjadi di masa depan.

Transparansi, keluwesan, dan efisiensi sistem menjadi tuntutan utama agar program magang berskala nasional ini dapat berjalan lebih profesional, merata, dan manusiawi.

Baca Juga: 485 Pegawai ASN Sulbar Masuk Tahap Asesmen CACT BKN, Manajemen Talenta ASN Dimulai

Karena pada akhirnya, program magang tidak hanya tentang menempatkan peserta tetapi membangun kepercayaan generasi muda terhadap kebijakan pemerintah.***