POJOKSATU.id - Ketergantungan Pulau Nusakambangan terhadap pasokan air minum dari luar wilayah mulai berkurang.
Universitas Diponegoro (Undip) resmi mengoperasikan instalasi desalinasi yang mampu mengubah air laut menjadi air minum dengan kapasitas produksi lebih dari 20.000 liter per hari.
Kapasitas tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan air minum penghuni lembaga pemasyarakatan (lapas) dan petugas yang berada di kawasan Nusakambangan.
Selama ini, kebutuhan air minum di pulau tersebut masih bergantung pada pasokan dari daratan, termasuk dari sumber air pegunungan di wilayah Purwokerto.
Baca Juga: Tiga Rumah Sakit Primaya Dianugerahi WSO Angels Award atas Keunggulan Layanan Stroke
Kondisi tersebut membuat distribusi air harus dilakukan lintas pulau sehingga membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit serta bergantung pada kelancaran proses pengiriman.
Air Laut Diolah Menjadi Air Minum dengan Energi Matahari
Solusi yang dikembangkan Undip hadir melalui teknologi desalinasi yang dirancang oleh Guru Besar Fakultas Teknik Undip, Prof. I Nyoman Widiasa.
Teknologi tersebut mengolah air laut menjadi air layak minum menggunakan sistem desalinasi yang ditenagai panel surya.
Dengan memanfaatkan energi matahari, instalasi tidak hanya mengatasi keterbatasan sumber air tawar di Nusakambangan, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada energi listrik konvensional.
Baca Juga: Akuakultur Jurusan yang Mengembangkan Budidaya Ikan dan Biota Air Secara Modern
Pendekatan ini menjadi salah satu contoh pemanfaatan energi terbarukan untuk menjawab persoalan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya akses terhadap air bersih.
Bukti Hilirisasi Riset Kampus
Rektor Undip, Suharnomo, mengatakan bahwa proyek tersebut merupakan bentuk nyata hilirisasi hasil penelitian yang langsung diterapkan untuk menyelesaikan persoalan di lapangan.
“Keberhasilan riset bukan hanya saat dipublikasikan dalam jurnal, tetapi ketika hasilnya benar-benar dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan inovasi yang mampu memberikan dampak langsung bagi kehidupan masyarakat.
Baca Juga: Peringati Hari Jadi ke-25 Kota Cimahi, Wagub Erwan Soroti Persoalan Kemacetan
Dikembangkan Sejak Awal 2026
Prof. I Nyoman Widiasa menjelaskan bahwa pengembangan instalasi desalinasi dimulai pada Januari 2026.
Tahap konstruksi kemudian dilakukan sejak April hingga akhirnya sistem siap dioperasikan pada Juni 2026.
Undip tidak hanya merancang teknologi tersebut, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembangunan hingga pendampingan operasional agar sistem dapat berjalan secara berkelanjutan dalam jangka panjang.
Narapidana Ikut Dilatih Mengoperasikan Instalasi
Menariknya, proyek ini tidak hanya berfungsi menyediakan air minum bagi kawasan Nusakambangan.
Program tersebut juga menjadi bagian dari pembinaan warga binaan pemasyarakatan.
Sejumlah narapidana yang mendekati masa bebas diberikan pelatihan untuk mengoperasikan dan merawat instalasi desalinasi.
Melalui pelatihan tersebut, mereka memperoleh keterampilan teknis yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke tengah masyarakat.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan kerja para warga binaan sekaligus mendukung proses reintegrasi sosial setelah masa pidana berakhir.
Baca Juga: Kemarau Lebih Kering dan Panjang, Waspadai Beberapa Penyakit Ini
Sudah Diterapkan di Sejumlah Wilayah Pesisir
Teknologi desalinasi bukan hal baru bagi Undip.
Sebelumnya, sistem serupa telah diterapkan di berbagai daerah pesisir Jawa Tengah yang menghadapi persoalan keterbatasan air bersih.
Beberapa wilayah yang telah memanfaatkan teknologi tersebut antara lain Jepara, Demak, Brebes, Rembang, dan Pekalongan.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam pengembangan instalasi di Nusakambangan yang memiliki tantangan geografis serupa sebagai wilayah yang dikelilingi laut.
Baca Juga: Kemarau Lebih Kering dan Panjang, Waspadai Beberapa Penyakit Ini
Diresmikan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan
Operasional instalasi desalinasi diresmikan oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto bersama Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto saat melakukan kunjungan ke kawasan Nusakambangan.
Menurut Siti Hediati, pemanfaatan air laut sebagai sumber air minum memiliki potensi besar untuk diterapkan di berbagai wilayah pesisir dan kepulauan Indonesia yang selama ini menghadapi keterbatasan akses air bersih.
Ia menilai teknologi tersebut dapat menjadi salah satu solusi strategis dalam mengatasi krisis air bersih di masa depan.
Baca Juga: Mengenal Teknologi Hasil Perikanan, Jurusan yang Mengolah Hasil Laut Menjadi Produk Bernilai Tinggi
Dukung Ketahanan Pangan Nusakambangan
Kehadiran instalasi desalinasi juga memperkuat pengembangan kawasan ketahanan pangan yang tengah dibangun di Nusakambangan.
Dengan tersedianya pasokan air minum yang diproduksi langsung di lokasi, berbagai aktivitas operasional tidak lagi sepenuhnya bergantung pada distribusi dari luar pulau.
Inovasi ini menunjukkan bahwa teknologi desalinasi berbasis energi terbarukan mulai berkembang menjadi solusi yang praktis, efisien, dan berkelanjutan bagi daerah-daerah yang selama ini menghadapi kesulitan memperoleh air bersih.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan air, langkah yang dilakukan Undip di Nusakambangan menjadi contoh bagaimana riset kampus dapat menghadirkan manfaat nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. ***



